bilad’s Blog


Peradaban Islam antara Realitas dan Teks Suci
July 9, 2009, 12:34 am
Filed under: Essay | Tags:

Peradaban Islam antara Realitas

dan Teks Suci

oleh.

Cecep Zakarias El Bilad

Abstract: Islam is the religion of civilization. Historically, it once becomed the base of the most shining civilization of humanbeings, namely the Islamic civilization. Such a civilization was propped up by its progress of science and technology based on the holy Al Quran. But, it all has gone. No more the real Islamic civilization. However, the Quran exists forever, and so does the hope of the rebirth of Islamic civilization.

Keywords: peradaban, tradisi keilmuan, kolonialisasi, kemunduran, kekuasaan.

Ilmu adalah ruh peradaban. Peradaban Islam dibangun di atas fondasi keilmuan sehingga mampu bertahan sampai sekitar lima belas abad. Bahkan warisan keilmuannya menjadi inspirasi bagi bangkitnya peradaban Barat. Ketika tradisi keilmuan ini lemah, maka bangunan peradaban Islam pun akan rapuh. Inilah terjadi pada nasib peradaban Islam.

Umat Islam tidak selayaknya tertinggal dari bangsa/peradaban lain sementara kitab sucinya merupakan sumber inspirasi keilmuan yang abadi. Jika al Quran benar-benar difahami dengan sungguh-sungguh dan dilaksanakan dengan baik maka fakta kemunduran peradaban Islam tidak akan terjadi, atau akan menjadi pendorong bagi bangkinya kembali peradaban Islam. Hal ini disebabkan karena al Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat yang mengisyaratkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Terlepas dari fakta-fakta historis yang ada, menjauhnya pemahaman umat Islam terhadap ayat-ayat al Quran dari kebenaran (karena faktor-faktor pragmatis) ,merupakan sebab runtuhnya dan tertinggalnya peradaban Islam. Maka tulisan singkat ini akan menelusuri secara kritis faktor-faktor  historis yang menyebabkan kemunduran peradaban Islam. Di akhir tulisan akan dipaparkan ayat-ayat al Quran tentang ilmu pengetahuan untuk menguatkan betapa kontradiksinya realitas peradaban Islam dengan teks yang menjadi rujukan sucinya.

  1. A. Realitas Peradaban Islam Kontemporer

A.1. Sekilas Tentang Kolonialisme atas Umat Islam

Prestasi terbesar umat manusia yang hingga saat ini belum tergantikan adalah  lahirnya “negara”. Negara merupakan sebuah konsep untuk mempertemukan kepentingan-kepentingan umat manusia yang hidup dalam suatu wilayah  tertentu sehingga keteraturan dan kedamaian tercipta. Saat ini terdapat ratusan jumlah negara yang ada di muka bumi ini.

Konsep ini pertama kali lahir di daratan Eropa sebagai hasil dari Perjanjian Westphalia atau sering juga disebut dengan Perjanjian Münster dan Osnabrück. Perjanjian merupakan rangkaian perjanjian yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun (yang dalam sejarah kekristenan Eropa  juga dianggap sebagai perang antara Katolik & Protestan) dan secara resmi mengakui Republik Belanda dan Konfederasi Swiss. Perjanjian ini ditandatangani pada 24 Oktober 1648 antara Kaisar Romawi Suci Ferdinand III, para pangeran Jerman lainnya, perwakilan dari Belanda, Perancis, dan Swedia.

Sejak perjanjian itu ditandatangani, daratan Eropa yang semula dikuasai oleh kerajaan-kerajaan satu demi satu berubah menjadi wilayah-wilayah dengan perbatasan dan hirarki kekuasaan yang jelas. Pada tahapan selanjutnya wilayah-wilayah berdaulat ini (negara) melakukan kolonialisasi ke daratan-daratan lain selain Eropa. Melalui kolonialisasi yang berlangsung selama beratus-ratus tahun inilah nilai-nilai dan konsep-konsep politik mereka menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke wilayah kekuasaan umat Islam di Asia, Afrika dan sebagian wilayah Eropa sendiri.

Kolonialisasi Eropa ke wilayah-wilayah umat Islam ini menjadi faktor eksternal yang menyebabkan keruntuhan peradaban Islam terutama di Timur Tengah yang merupakan yang menjadi pusatnya. Selama masa kolonialisme itu, terjadi transmisi budaya Eropa baik norma, agama, gaya hidup, ilmu pengetahuan maupun sistem politiknya ke dalam masyarakat Islam.

Transmisi budaya adalah proses yang alamiah pada setiap dua pertemuan dua masyarakat yang berbeda asal dan kebudayaan. Dalam proses tersebut, budaya kelompok masyarakat  yang unggul secara ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi biasanya akan menjadi budaya panutan bagi kelompok masyarakat lainnya karena dianggap maju atau beradab. Hal inilah yang terjadi pada masyarakat Islam selama masa penjajahan Eropa. Masyarakat Islam ketika itu menganggap peradaban Eropa adalah peradaban modern sehingga segala sesuatunya dijadikan rujukan atau standar seperti dalam hal berpakaian, bergaul hingga berpolitik.

Konsep Negara Republik menjadi bentuk pemerintahan favorit bagi  umat Islam yang wilayahnya telah terbebas dari kolonialisme. Bentuk republik dianggap sebagai bentuk pemrintahan yang lebih baik oleh sebagian besar umat Islam dibandingkan dengan bentuk monarkhi. Pengalaman ratusan tahun dipimpin oleh para penguasa monarki absolut dari zaman Abbasiyah hingga Utsmaniyah menimbulkan trauma di kalangan umat Islam, karena bentuk pemerintahan monarki absolut merupakan legalitas atas diktatorisme dan anarkisme penguasa atas rakyat. Sedangkan dalam bentuk negara republik, rakyat dapat mengatur dirinya sendiri melalui perwakilan dengan mekanisme yang proporsional dan transparan.

Tahun 1945 adalah masa berakhirnya kolonialisme di hampir seluruh belahan dunia. Umat Islam di seluruh dunia termasuk di Indonesia akhirnya dapat menikmati kebebasan sebagai masyarkat. Umat Islam kemudian mengelompokkan diri ke dalam bentuk negara-negara merdeka. Demokratisasi yang merupakan warisan dari para penjajahnya menjadi landasan sebagian besar mereka dalam pembentukan negara.

A.2. Umat Islam Pasca-Kolonialisme

Mengelompoknya umat Islam ke dalam negara-negara baru yang lahir pasca-kolonialisme menjadi permasalahan baru bagi umat Islam sendiri. Umat Islam pada satu negara dituntut untuk membangun  identitas baru untuk membedakannya dari kelompok umat Islam di negara-negara lain. Loyalitas mereka akhirnya diberikan kepada identitas-identitas baru mereka di luar identitas agama misalnya bangsa, suku atau ideologi.

Lahirnya negara-negara tersebut akhirnya semakin memperparah perpecahan di kalangan umat Islam. Egoisme kenegaraan kemudian menggejala di antara mereka sehingga berbagai permasalahan umat harus dihadapi oleh pemerintahannya masing-masing.

Di samping masalah identitas nasional, negara-negara muslim (negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim/negara-negara bentukan umat Islam pascakolonialisme) harus menghadapi permasalahan-permasalahan mendasar yang umum dimiliki oleh negara-negara post-kolonial, yaitu kemiskinan dan kebodohan. Hingga saat ini mayoritas negara-negara muslim secara ekonomi adalah negara-negara berkembang, dan hanya sebagian kecil saja yang merupakan negara kaya seperti Arab Saudi, Kwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab dan Brunei Darussalam. Secara politik tidak satu pun negara-negara muslim yang memainkan peranan vital dalam kancah politik global. Begitu juga dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi tidak satu pun dari negara-negara itu yang menyamai kemajuan negara-negara Uni  Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.

Dalam semua bidang negara-negara muslim berada di bawah negara-negara yang notabene dahulunya adalah musuh Islam. Ini merupakan realitas kemunduran peradaban Islam. Untuk merubah keadaan ini tentu saja diperlukan introspeksi mendalam dalam diri umat Islam sendiri untuk kemudian dicari solusinya secara bersama-sama.

  1. B. Faktor-Faktor Kemunduran Peradaban Islam

Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Islam tidak memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama dalam pemaknaan umum, yaitu urusan individu secara vertikal dengan Tuhannya. Peradaban yang maju adalah yang memiliki kemajuan ilmu pengetahuan. Kejayaan Islam pada abad pertengahan adalah kejayaan keilmuannya. Kemunduran Islam pun adalah kemunduran keilmuannya.

Kesadaran intelektual umat Islam muncul pada abad ke-8 dengan dimulainya aktifitas penerjemahan warisan keilmuan Yunani dan Persia. Kesadaran ini muncul setelah tercipta stabilitas ekonomi masyarakat sehubungan dengan luasnya kekuasaan Islam waktu itu di bawah kekuasaan dinasti Umayyah. Proyek penerjemahan ini dilakukan pada masa pemerintahan Al Makmun (813 –833 M). Setelah masa penerjemahan ini kemudian dilanjutkan dengan masa kreatifitas pengembangan ilmu pengtahuan hingga beberapa abad berikutnya pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah.

Runtuhnya Dinasti Abbasiyah pada 1517 yang diakibatkan terutama oleh serangan Bangsa Mongol merupakan awal runtuhnya peradaban Islam, karena setelah itu tradisi keilmuan terus mengalami kemunduran. Walaupun setelah itu berdiri Dinasti Utsmani yang memiliki kekuatan militer yang sangat tangguh, namun tradisi keilmuan pada masa itu terus mengalami kemunduran.

Secara garis besar, ada beberapa faktor penyebab kemunduran keilmuan Islam:

  1. Konflik Politik Kekuasaan

Sejarah politik Islam adalah sejarah konflik kekuasaan. Di satu sisi umat Islam perkembangan pesat dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sisi lain sebenarnya perkembangan itu selalu dibayangi oleh konflik kekuasaan para penguasanya. Sering kali yang menjadi penguasa (khalifah) adalah orang-orang yang tidak kompeten baik secara keilmuan, keagamaan maupun moral. Hanya beberapa saja para khalifah yang memiliki moral dan religiusitas unggul serta memiliki perhatian besar pada ilmu pengetahuan.

Perpecahan politik semakin parah setelah runtuhnya Abbasiyah. Sejak itu dunia Islam terpecah-pecah ke dalam beberapa kekuasaan dalam waktu yang bersamaan: Fatimiyah (909/969-1177) di Mesir, Buwaihi (945-1055) di Iraq dan Iran, Saljuk (1055-1104) di Iraq dan Iran, Ayyubiyah (1169-1260) di Mesir dan Syiria, Mamluk (1250-1517) di Mesir dan Syiria, Utsmani (1280/1389-1922), Safawi (1501-1722) di Iran, Mogul (1525/1556-1707/1857) di India, Qajar (1779-1924) di Iran, dan lain sebagainya. Perpecahan politik tersebut berpengaruh negatif terhadap perekembangan tradisi keilmuan dalam tubuh umat Islam. Kesejahteraan para guru/ulama dan proses pendidikan tidak lagi menjadi perhatian khusus penguasa. Tradisi keilmuan akhirnya selama berabad-abad berjalan tanpa dukungan dana yang memadai sehingga mengurangi berbagai aktifitas keilmuan yang produktif seperti eksperimen dan pembangunan perpustakaan.

  1. Kemiskinan

Konflik-konflik politik di antara para penguasa membuat kesejahteraan masyarakat semakin terbengkalai. Kekayaan kerajaan dihabiskan untuk berperang antarsama kerajaan Islam. Di samping itu banyak diantara para penguasa itu yang korup dan suka berfoya-foya.

Kondisi masyarakat yang memprihatinkan akibat ulah para elit penguasa yang korup membuat perhatian masyarakat terhadap wawasan keilmuan semakin merosot. Masyarakat masih dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan dasar hidupnya akan sandang, pangan dan papan. Ditambah lagi dengan kepemimpinan yang diktator oleh para khalifah/imam yang amoral itu. Kondisi semacam ini terus berlangsung hingga masa keruntuhan kerajaan-kerajaan Islam oleh kekuatan Eropa yang telah bangkit.

  1. Perang Pemikiran

Ironi yang muncul dalam menelusuri kejayaan ilmu pengetahuan Islam adalah bahwa para penentang kemajuan itu adalah datang dari dalam kalangan umat Islam sendiri. Puncak kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi umat Islam tercapai pada masa Dinasti Abbasiyah. Pada era dinasti ini, Muktazilah menjadi paham teologis resmi negara terutama pada era kekuasaan Al-Makmun, al Mutashim dan al Wasiq.

Paham Muktazilah memberikan porsi besar terhadap akal dalam memahami ayat-ayat Al Quran. Kemudian paham ini mendapat tentangan keras dari sebagian ulama yang kemudian terhimpun dalam paham Asy’ariyah dan Mathuridiyah yang menempatkan akal pada posisi kedua setelah wahyu (teks dalil). Maka jika dikatakan bahwa keruntuhan Bani Abbasiyah adalah keruntuhan peradaban Islam, itu adalah wajar karena sejak itu yang Muktazilah tidak lagi menjadi paham resmi negara tetapi digantikan dengan paham puritan Asy’ariah dan Mathuridiyah.

Perbedaan paham teologis di antara para ulama dan ilmuan Islam terus berlanjut setelah itu bahkan hingga sekarang. Bahkan sejumlah ulama dan ilmuan Islam dikafirkan atau dianggap sesat oleh para ulama lain, seperti Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusd, Nasiruddin Tusi, al Razi, dan lain sebagainya. Begitulah selanjutnya umat Islam terjatuh ke dalam kejumudan pemikiran.

  1. Faktor Eksternal

Paling tidak ada dua faktor eksternal yang andil dalam proses peruntuhan peradaban Islam, yaitu:

  • Serbuan pasukan Mongolia di bawah pimpinan Hulagu Khan ke jantung peradaban Islam ketika itu, Baghdad. Pasukan Mongol tidak hanya membunuh Khalifah Al Mu’tashim beserta para pembesar kerajaan, tetapi juga membunuh para penduduk Baghdad dan menghancurkan situs-situs keilmuan yang ada di kota itu. Sejak peristiwa ini umat Islam mulai kehilangan kekuatannya, baik militer maupun keilmuannya.
  • Rongrongan dari Eropa Kristen. Rongrongan Kristen Eropa terhadap peradaban Islam dilakukan secara militer dan keilmuan serta kebudayaan. Secara militer terjadi selama dua ratus tahun Perang Salib. Selama Perang Salib terjadi interaksi intens bangsa Eropa dengan dunia Islam. Dari situ transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dari dunia Islam ke Eropa terjadi  hingga akhirnya melahirkan pencerahan (Renaissance) di Eropa beberapa abad berikutnya. Pada masa renaissance di Eropa dunia Islam telah memasuki masa-masa kemundurannya. Oleh karena itu, dengan perlahan namun pasti peradaban Eropa semakin mengungguli peradaban Islam hingga sekarang.

  1. C. Ayat-Ayat Pengetahuan

Berikut ini adalah sebagian kecil ayat-ayat dalam al Quran yang dapat dijadikan landasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi:

  1. Malam dan siang.

žcÎ) ’Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@øŠ©9$# ͑$pk¨]9$#ur ;M»tƒUy ’Í<‘rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS.3:190)

Dalam potongan ayat tersebut Allah SWT mengajak manusia untuk bersikap kritis terhadap alam semesta yang menjadi tempat tinggalnya. Ayat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta tidak ada dengan sendirinya tetapi diciptakan. Selama ini pemaknaan ayat tersebut baru sebatas itu. Kalau pun sedikit lebih jauh para ulama baru sebatas menggalinya secara metafisis untuk merasionalkan eksistensi tuhan beserta sifat-sifatnya.

Dengan rangkaian kata-kataNya itu Allah menuntut manusia untuk mengungkap tatacara Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam tatacara tentu saja yang harus diungkapkan adalah bahan baku, metode, tempat dan alat untuk menciptakan langit dan bumi. Mungkinkah Allah membutuhkan semua itu untuk menciptakan langit dan bumi? Pertanyaan semacam ini mungkin terlalu radikal bagi para ulama terutama bagi para penganut Wahabi. Pertanyaan tersebut akan dianggap membendakan Tuhan Allah SWT karena menyamakan Allah dengan manusia, bahwa Allah menciptakan bumi dan langit adalah sama dengan manusia menciptakan barang-barang seperti mobil, sepeda, pesawat atau rumah.

Sekat-sekat pemikiran yang dibuat oleh para penganut Wahabi, Salafi, bahkan Asy’ari sekalipun sangat tidak proporsional dalam memberdayakan akal yang merupakan anugerah terbesar dari Allah SWT. Padahal batasan-batasan yang mereka buat itu pun adalah adalah produk rasionalitas mereka terhadap teks-teks suci yang ada. Pemikiran-pemikiran merekalah yang membuat umat Islam terjerat dalam kejumudan pemikiran dan stagnasi keilmuan, karena sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah pemikiran-pemikiran teologis mereka lah yang dianut oleh mayoritas umat Islam yang dilegalkan oleh para penguasanya dan bahkan hingga saat ini.

Ayat-ayat seperti QS.3:190 ini akhirnya lebih tepat dimaknakan oleh orang-orang Eropa yang sangat menempatkan akal sebagai yang utama. Pertanyaan-pertanyaan semacam radikal yang muncul dari ayat itu dapat dengan bebas ditelusuri jawabannya, seperti: ketika kita mengetahui tatacara (bahan, proses dan ruang) penciptaan langit dan bumi itu, mungkinkah manusia hal yang serupa dengan proses itu? Tanda-tanda apakah yang dimaksudkan oleh Allah dengan penciptaan langit dan bumi, apakah  hanya sebatas tanda-tanda eksistensi diriNya yang lebih hanya dapat memenuhi kepuasan batin (iman) semata? Mengapa Allah selalu mengaitkan pertukaran siang dan malam dengan penciptaan benda-benda termasuk penciptaan langit dan bumi sendiri? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan mendasar dari ayat tersebut ketika kita memadukannya dengan pengalaman dan pengetahuan kita yang kita dapat dari interaksi dengan alam sekitar. Ketika kita mengkorelasikan dengan ayat-ayat yang lain dalam Al Quran akan ditemukan banyak petunjuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sekaligus akan ditemukan sumber-sumber pertanyaan lain. Al Quran adalah sumber pengetahuan yang tidak akan pernah habis untuk digali oleh orang-orang yang berakal dan mau melakukannya.

Berikut adalah ayat-ayat lain yang berhubungan dengan penciptaan langit dan bumi:

É#»n=ÏG÷z$#ur È@ø‹©9$# ͑$pk¨]9$#ur !$tBur tAt“Rr& ª!$# z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# `ÏB 5-ø—Íh‘ $uŠômr’sù ÏmÎ/ uÚö‘F{$# y‰÷èt/ $pkÌEöqtB É#ƒÎŽóÇn@ur Ëx»tƒÌh9$# ×M»tƒ#uä 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷ètƒ ÇÎÈ

Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.(QS.45:5)

¨bÎ) ’Îû É#»n=ÏG÷z$# È@ø‹©9$# ͑$pk¨]9$#ur $tBur t,n=yz ª!$# ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqà)­Gtƒ ÇÏÈ

Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa. (QS.10:6)

  1. Cahaya

* ª!$# â‘qçR ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 ã@sWtB ¾Ín͑qçR ;o4qs3ô±ÏJx. $pkŽÏù îy$t6óÁÏB ( ßy$t6óÁÏJø9$# ’Îû >py_%y`㗠( èpy_%y`–“9$# $pk¨Xr(x. Ò=x.öqx. A“Íh‘ߊ ߉s%qム`ÏB ;otyfx© 7pŸ2t»t6•B 7ptRqçG÷ƒy— žw 7p§‹Ï%÷ŽŸ° Ÿwur 7p¨ŠÎ/óxî ߊ%s3tƒ $pkçJ÷ƒy— âäûÓÅÓムöqs9ur óOs9 çmó¡|¡ôJs? ֑$tR 4 î‘qœR 4’n?tã 9‘qçR 3 “ωöku‰ ª!$# ¾Ín͑qãZÏ9 `tB âä!$t±o„ 4 ÛUΎôØo„ur ª!$# Ÿ@»sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 3 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ÒOŠÎ=tæ ÇÌÎÈ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)  yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS.24:35)

  1. Dunia lain

z`»ysö6ߙ ü“Ï%©!$# 3“uŽó r& ¾Ínωö7yèÎ/ Wxø‹s9 šÆÏiB ωÉfó¡yJø9$# ÏQ#tysø9$# ’n<Î) ωÉfó¡yJø9$# $|Áø%F{$# “Ï%©!$# $oYø.t»t/ ¼çms9öqym ¼çmtƒÎŽã\Ï9 ô`ÏB !$oYÏG»tƒ#uä 4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÈ

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS.17:1)

šÆÏiB «!$# “ÏŒ Æl͑$yèyJø9$# ÇÌÈ   ßlã÷ès? èpx6Í´¯»n=yJø9$# ßyr”9$#ur Ïmø‹s9Î) †Îû 5Qöqtƒ tb%x. ¼çnâ‘#y‰ø)ÏB tûüÅ¡÷Hs~ y#ø9r& 7puZy™ ÇÍÈ

(yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS.70:3-4)

  1. D. Kesimpulan

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan tersebut Islam akan menjadi agama sekaligus peradaban yang gemilang. Hal ini telah dibuktikan sejak awal kelahiran Islam hingga zaman pertengahan. Saat itu umat Islam mencapai puncak kemajuan peradabannya saat di belahan bumi yang lain umat manusia masih dalam kungkungan kejumudan pemikiran dan kebobrokan moral serta keimanan. Pencapaian itu merupakan hasil dari pengkajian mendalam ayat-ayat al Quran secara orisinil dan bebas yang dipadukan dengan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dan tabi’in.

Pertikaian politik dan kekuasaan menjadi akar kemunduran peradaban Islam. Konflik kepentingan politik dan kekuasaann ini diperparah lagi dengan melibatkan dalil-dalil agama sebagai justifikasi klaim-klaim kebenaran masing-masing pihak yang bertikai. Perpecahan ini kemudian melemahkan kekuatan dan posisi imperium Islam di depan imperium-imperium dan peradaban-peradaban lainnya hingga akhirnya.

Hingga saat ini umat Islam belum mampu mencapai posisi superior lagi atas peradaban-peradaban lain terutama Barat. Ini merupakan gambaran belum kembalinya al Quran pada posisinya sebagai landasan dalam membangun dan menegakkan peradaban Islam.

  1. E. Daftar Bacaan

Al Quran al Karim

Al-Maududi, Abul A’la, Khilafah dan Kerajaan: Evaluasi Kritis atas Sejarah Pemerintahan Islam, (Bandung: Penerbit Mizan, 1996)

Baylis, John & Smith, Steve, The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations, (New Delhi: YMCA Library Building, 2005)

Black, Antony, Pemikiran Politik Islam dari Masa Nabi hingga Masa Kini, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2001)

Habib, Dr. Kamal Sa’id, Kaum Minoritas & Politik Negara Islam: Sejak Awal Pemerintahan Nabi SAW Sampai Akhir Pemerintahan Utsmani (1H-1325H atau 621M-1908M), (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2001)

Hitti, Philip K., History of the Arabs: Rujukan Induk dan Paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam,  (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008)

Husain, Faidullah, Fath al Rahman li thalibi ayat al Quran, (Beirut: al Mathba’ah al Ahliyah, 1323 H)

Purwanto, Agus, D.Sc, Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al Quran yang Terlupakan, (Bandung: Penerbit Mizan, 2008)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: