bilad’s Blog


Membangun Kesadaran Ekologis sebagai Upaya Pencegahan Bencana Alam
July 9, 2009, 1:11 am
Filed under: Essay | Tags:

Membangun Kesadaran Ekologis sebagai Upaya Pencegahan Bencana Alam

Abstract: Recently natural disaster has become the most occurring phenomenon in the the world. There are always victims in that like flood, landslide and aridity.  This indicates a disorder between humanity and the cosmos that constitutes a system of equilibrium. Natural disaster is an abnormality that means something has go wrong in the nature.

Keywords: destruktif, kesadaran ekologis, alam, pola hubungan, bencana, upaya.

A. Pendahuluan

Salah satu permasalahan serius dan paling mendasar yang saat ini dihadapi oleh umat manusia adalah kerusakan lingkungan hidup. Permasalahan ini dikatakan serius karena level kerusakannya telah sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan kehidupan di bumi termasuk kehidupan manusia sendiri.

Permasalahan ini juga dianggap mendasar karena menyangkut pola kehidupan manusia secara umum. Berbagai aktifitas kehidupan sehari-hari manusia sering kali menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem yang ada baik itu dilakukan secara sadar maupun tanpa sadar.  Pola kehidupan merupakan proyeksi pola pikir setiap orang mengenai lingkungannya. Oleh karena itu permasalahan lingkungan yang diakibatkan oleh pola kehidupan manusia yang menimbulkan residu destruktif terhadap alam pada dasarnya merupakan efek negatif dari pola pikir yang destruktif terhadap alam.

Permasalahan kerusakan lingkungan menempatkan dua aktor dalam posisi yang berbeda secara diametral, yaitu manusia dan alam. Manusia merupakan entitas hidup yang eksistensinya tidak bisa lepas dari alam. Manusia hidup di atas bumi. Ketika mati pun manusia akan dikubur dan akan terurai menjadi tanah (menyatu dengan alam). Akan tetapi dalam persoalan interaksi dengan lingkungannya (alam) baik yang hidup maupun yang tidak hidup, manusia selalu memposisikan diri sebagai pemilik, dan alam adalah sebagai yang dimiliki.

Dalam posisi demikian, manusia tentu dapat memperlakukan alam sebagaimana yang dikehendakinya. Hampir semua daratan di muka bumi ini telah dimiliki oleh manusia. Tanah-tanah yang ada telah dipetak-petakkan untuk dijadikan hak milik manusia dengan kadar luas masing-masing. Manusia kemudian mengelola tanah miliknya itu untuk hal-hal yang membawa keuntungan baginya, misalnya membangun rumah, pabrik, toko, perusahaan, tempat wisata, perkebunan, pertambangan, dan lain sebagainya. Dalam posisi sebagai yang dimiliki, alam (non-human) berada dalam posisi marginal. Terlebih lagi alam adalah entitas kebendaan yang evolusioner (gerak dan perubahannya lamban). Sedangkan manusia adalah entitas kebendaan yang hidup dan agresif.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa akar permasalahan yang menyebabkan kerusakan lingkungan yang terjadi sekarang ini teradapat pada pola interaksi manusia dengan alam sekitarnya. Manusia menempatkan dirinya sebagai superior atas alam. Hak eksploitasi adalah mutlak dimiliki oleh manusia atas alam baik tanah, air maupun udara.

Atas dasar tersebut di atas, pertanyaan yang perlu diajukan sebagai rumusan masalah dalam makalah ini adalah: pertama, apakah manusia perlu mendekonstruksi paradigmanya terhadap alam semesta agar semua kerusakan lingkungan dapat diatasi? Kedua, bagaimanakah mengaplikasikan paradigma baru tersebut secara massif dalam kaitannya dengan struktur sosial yang ada seperti politik, ekonomi, pendidikan dan budaya?

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mendekonstruksi paradigma manusia atas alam semesta dengan menawarkan paradigma baru berdasarkan pemikiran-pemikiran para ahli lingkungan. Paradigma terhadap alam semesta yang selama ini mengakar dalam benak umat manusia dan telah dijadikan pijakan dalam berinteraksi dengan alam sekitar telah menimbulkan banyak  permasalahan lingkungan yang dampaknya juga dirasakan oleh manusia seperti banjir, kekeringan dan pemanasan global. Di samping itu, pembahasan akan dilanjutkan pada penjabaran paradigma baru tersebut dalam konteks struktur sosial yang tersedia seperti politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan, sehingga sampai pada kesimpulan tentang konsep dan mekanisme penyelamatan lingkungan yang integratif.

Tulisan ini bermanfaat dapat memberikan beberapa manfaat: pertama, untuk membuka  pemahaman baru bagi pembaca tentang persoalan lingkungan. kedua, dapat dijadikan landasan untuk mengembangkan gagasan-gagasan baru tentang isu ekologi untuk kemudian mengadakan penelitian lebih lanjut. Ketiga, menambah referensi tentang pemikiran ekologis.

Ada beberapa konsep yang terlebih dahulu perlu dipahami untuk mempermudah pembahasan masalah dalam tulisan ini, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. B. Permasalahan Lingkungan

Bencana alam sudah seperti menjadi rutinitas dalam kehidupan manusia khususnya di Indonesia. Setiap musim yang ada selalu mendatangkan bencana yang mengakibatkan kerugian bagi manusia baik nyawa maupun harta benda. Di Indonesia bencana alam sering terjadi baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Pada musim hujan bencana yang sering terjadi adalah banjir dan tanah longsor. Sedangkan di musim kemarau yang sering terjadi adalah kekeringan dan kebakaran hutan. Di samping itu ada juga beberapa bencana alam yang sering terjadi namun tidak terkait langsung dengan dua musim tersebut di antaranya gempabumi, gunung meletus, tsunami, angin puting beliung dan penyakit seperti malaria, demam berdarah dan flu burung.

Bencana alam yang sering terjadi khususnya di Indonesia adalah bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia baik langsung maupun tidak langsung, misalnya banjir, kekeringan, polusi dan tanah longsor. Bencana-bencana ini frekuensinya semakin sering oleh adanya fenomena pemanasan global (Global Warming).

Sumber : BMG

Berikut ini adalah pemaparan tentang bencana-bencana yang sering terjadi dan yang saat ini dirasakan oleh manusia secara global. benc

  1. Banjir

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan yang biasanya kering karena peningkatan volume air. Banjir terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, waduk atau danau, atau pecahnya bendungan sungai, waduk atau danau.

Luapan tersebut terjadi karena air hujan tidak terserap dan terdistribusikan dengan baik. Dalam kondisi normal air hujan yang turun ke bumi akan terserap ke dalam tanah. Penyerapan ini dibantu oleh akar-akar tanaman untuk disimpan di dalam tanah dan untuk kebutuhan metabolisme tanaman itu sendiri. Selebihnya air hujan tertampung di laut dan di sungai-sungai yang akhirnya akan mengalir ke laut. Air-air yang ada di dalam tanah, sungai dan laut tersebut kemudian akan menguap ke udara dengan bantuan sinarmatahari dan menjadi awan yang akhirnya akan berproses kembali menjadi hujan. Begitulah seterusnya siklus air di bumi.

Banjir terjadi ketika siklus air tersebut tidak berjalan dengan normal. satu atau beberapa tahapan di dalam siklus tersebut tidak berjalan dengan semestinya.  Air hujan yang tidak meresap ke dalam tanah sebagaimana mestinya dapat menyebabkan luapan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah tumbuhan pada satu daerah tertentu akibat pembalakan liar, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, pertambangan atau perumahan yang melebihi batas kewajaran.

Bencana yang diakibatkan oleh aktifitas-aktifitas tersebut di atas biasanya adalah banjir bandang pada daerah-daerah yang lebih rendah. Sebagai contoh, pada tahun 2008 di seluruh wilayah Indonesia terjadi 401 kali bencana banjir dan 36 kali banjir bandang.[1] Pada bulan Juni tahun 2006 terjadi banjir besar di Kalimantan Selatan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat,[2] penyebab utama banjir tersebut adalah luasnya lahan kritis di Kalimantan Selatan. Berikut adalah data luas hutan dan lahan kritis di Kalimantan Selatan:

No

Kabupaten/Kota

Luas (ha)

Lahan Kritis

(ha)

Lahan Sangat

Kritis (ha)

Total Lahan

kritis (ha)

Lahan

Kritis

(%)

1

Kotabaru

942.273

100.343,50

0,00

100.343,50

10,65

2

Tanah Bumbu

506.696

50.517,24

0,00

50.517,24

9,97

3

Tanah Laut

372.930

49.248,64

0,00

49.248,64

13,21

4.

Banjar

471.097

96.907,23

24.144,80

121.051,98

25,70

5.

Tabalong

359.950

41.644

0,00

41.644,00

11,57

6.

HSU

95.125

0,00

0,00

0,00

0,00

7.

Balangan

181.975

36.215,03

0,00

36.215,03

19,90

8.

HST

147.200

13.744,79

0,00

13.744,79

9,34

9.

Tapin

217.495

60.134,75

4.924,86

65.059,61

29,91

10.

HSS

180.494

17.602,85

26.835,40

44.438,23

24,62

11.

Banjarbaru

32.883

7.522,00

0,00

7.522,00

22,88

12

Batola

237.622

26.198,00

0,00

26.198,00

11,03

13

Banjarmasin

7.267

0,00

0,00

0,00

0,00

Sumber : Dinas Kehutanan Prop. Kalimantan Selatan (2004)

Peningkatan jumlah dan luas lahan kritis di Kalimantan Selatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya jumlah alih fungsi hutan untuk perkebunan dan area tambang batu bata. Namun demikian di samping meningkatnya jumlah lahan kritis sebagai penyebab utama, banjir di Kalimantan Selatan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor lain  yaitu pendangkalan sungai.

  1. Kekeringan

Sebagaimana banjir, kekeringan adalah bencana yang rutin terhadi di Indonesia. Penyebab utama terjadinya kekeringan dan banjir adalah perubahan kawasan hutan di hulu-hilir air yang sebelumnya merupakan daerah resapan air menjadi lahan permukiman, industri, dan pertambangan atau bahkan gundul sama sekali. Akibatnya air hujan yang jatuh langsung mengalir ke sungai, bukan masuk ke dalam tanah. Berkurangnya daerah resapan air mengakibatkan pada musim kemarau aliran air dalam tanah berkurang, sehingga memengaruhi sistem sungai. Sedangkan pada musim hujan akan terjadi banjir karena kurangnya lahan peresap air.

Pada tahun ini banyak wilayah di Indonesia yang terancam kekeringan. Sebagai contoh, Pusat Informasi Bencana di Indonesia melaporkan sebanyak 36 desa di Kabupaten Temanggung rawan kekeringan pada musim kemaru tahun ini.[3] Di Provinsi Banten, daerah-daerah yang pada tahun ini teramcam bencana kekeringan adalah Kecamatan Cikeusik, Munjul, Angsana, Cibaliung, Sobang, Cimanggu, dan Sumur.[4] Selain dua wilayah itu masih banyak lagi wilayah-wilayah di Indonesia yang terancam kekeringan.

  1. 3. Tanah Longsor

Tanah longsor adalah suatu peristiwa geologi di mana terjadi pergerakan tanah seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan.[5]

Ancaman tanah longsor biasanya terjadi pada bulan November, karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar, sehingga mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga-rongga dalam tanah, yang mengakibatkan terjadinya retakan dan rekahan permukaan tanah.

Tanah longsor juga merupakan bencana yang sering terjadi dan cukup mematikan. Pada awal tahun 2006 terjadi tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, dan menewaskan 12 orang dan 200 orang hilang.[6] Tiga bulan yang lalu peristiwa serupa tanah longsor terjadi di Tangerang yaitu jebolnya sebuah danau buatan Situ Gintung yang menewaskan 58 orang. Jebolnya tanggul danau buatan ini disebabkan karena banyaknya pemukiman dan bangunan di sekitar danau yang seharusnya menjadi daerah yang steril dari bangunan dan pemukiman.

  1. 4. Pemanasan Global (Global Warming)

Pemanasan global (global warming) merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.[7]

Spekulasi tentang peningkatan temperatur global sebenarnya telah ada sejak lama. Pada pergantian abad 20 Arrhenius, seorang naturalis Swedia, berasumsi bahwa peningkatan konsentrasi CO2 akan meningkatkan temperatur global. Kemudian pada 1957 Revelle dan Suess menyatakan bahwa aktivitas-aktivitas manusia telah menimbulkan kondisi yang mengarah pada perubahan iklim global pada beberapa dekade ke depan.[8]

Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dan lain sebagainya. Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb.[9]

  1. C. Upaya Penyelamatan

C.1. Akar Permasalahan

Fenomena bencana alam yang dijelaskan di atas menuntut segera adanya penanggulangan yang serius. Masih tingginya frekuensi bencana dan jumlah manusia yang menjadi korban serta kerugian harta benda menunjukkan selama ini belum ada upaya berarti untuk mengurangi terjadinya bencana. Bahkan pada beberapa tempat/negara frekuensi bencana menunjukkan angka kenaikan dan jenis bencananya pun semakin bervariatif. Misalnya di Indonesia, bencana banjir masih sering terjadi di setiap musim hujan dan jumlah serta luas wilayah yang terkena semakin bertambah.

Upaya penanggulangan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat masih bersifat parsial dan reaktif. Bahkan dalam batas tertentu upaya tersebut bisa dikatakan stagnan. Sebagai contoh adalah banjir tahunan di Jakarta. Hingga saat ini bencana banjir tersebut masih terjadi dan bahkan semakin meluas ke daerah-daerah yang sebelumnya aman dari banjir. Ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah DKI Jakarta dalam menangani banjir belum maksimal. Hal ini dapat dilihat di antaranya dari masih belum tertanganinya masalah sampah, pemukiman-pemukiman kumuh di sepanjang daerah aliran sungai dan masalah sanitasi kota.

Banjir, tanah longsor dan kekeringan adalah bencana alam yang disebabkan oleh perilaku manusia sendiri yang tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Pengrusakan lingkungan tersebut dilakukan oleh manusia baik secara individual maupun massif, baik disengaja maupun tanpa disengaja. Oleh karena itu, permasalahan ini sebenarnya merupakan permasalahan mendasar tentang pola hubungan individu manusia dengan alam. Pola hubungan satu individu manusia dengan individu-individu manusia lain terhadap alam  memiliki kesamaan, sehingga pada tahap tertentu pola hubungan ini dapat memberikan pengaruh yang berarti terhadap alam. Apabila pola tersebut positif maka akan memberikan dampak positif, dan sebaliknya apabila pola ini negatif maka akan memberikan dampak negatif.

Seorang individu misalnya, memandang bahwa rumah yang baik adalah rumah yang memiliki halaman cukup luas yang dapat ditanami bunga-bunga dan tidak boleh ada pohon-pohon besar karena dapat mengurangi keindahan rumah. Setelah beberapa saat tertentu, di sekitar rumah itu berdiri rumah-rumah yang serupa dalam hal keindahan. Hal seperti inilah yang menjadi kecenderungan di masyarakat terutama di Indonesia. Semakin banyak rumah-rumah seperti itu di lingkungan tersebut, tentu saja akan semakin sedikit jumlah pohon-pohon besarnya. Padahal pohon-pohon besar memiliki kemampuan besar untuk menjaga keseimbangan udara dan akar-akarnya mampu menyerap air hujan dalam jumlah banyak. Semakin banyak orang membangun tempat tinggal dengan persepsi keindahan yang semacam itu, akan semakin banyak jumlah pohon yang akan ditebang hanya demi memenuhi hasrat keindahan mereka. Di samping itu, dampaknya adalah wilayah tersebut akan semakin rawan tertimpa bencana banjir karena resapan airnya semakin berkurang.

Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa, persoalan kerusakan lingkungan yang mengakibatkan bencana alam berawal dari persoalan pola interaksi manusia secara individual terhadap alam. Pola interaksi yang selama ini umum dilakukan oleh masyarakat harus dikoreksi, karena menyebabkan berbagai permasalahan lingkungan yang merugikan masyarakat itu sendiri baik secara materi maupun non-materi.

C.2. Persepsi Umum terhadap Alam

Pikiran adalah sumber nilai dan perilaku manusia.  Pola perilaku seseorang ditentukan oleh pikirannya. Pola perilaku tersebut merupakan perwujudan dari pola pikirnya, sehingga perlakuannya terhadap sesuatu juga ditentukan oleh cara dia mempersepsikan sesuatu itu.

Logika ini juga berlaku untuk mengurai pola hubungan manusia (masyarakat) dengan lingkungan di sekitarnya. Selama ini manusia memperlakukan alam sekitar sebagai sumber pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dalam pada itu manusia akan mengelolanya semaksimal mungkin untuk mendapatkan manfaat/keuntungan yang maksimal dengan modal dan usaha yang sekecil-kecilnya. Manusia akan berkompetisi satu-sama lain untuk mendapatkan hasil yang terbanyak untuk kemudian dipertukarkan satu sama lain sesuai dengan kehendak dan kebutuhannya. Bahkan manusia menjadikan kepemilikan akan sumber daya alam sebagai satu kebanggaan, karena merupakan salah satu indikator kekayaan, kebesaran atau kehormatan. Semakin banyak yang dimiliki semakin besar kebanggaannya.

Manusia pada umumnya menganggap bahwa alam dengan segala sumber dayanya merupakan sesuatu yang berhak dan diperuntukkan bagi dirinya. Manusia memposisikan diri sebagai pemilik sumber daya tersebut, sehingga dengan posisinya itu dia dapat secara bebas memperlakukannya sesuai dengan hasrat dan kebutuhan.

Dalam mengelolanya manusia dapat mempergunakan cara dan alat apapun selama dia mendapatkan kemudahan dan hasil  yang maksimal. Saat dia tidak mampu mengelolanya sendiri maka dia akan melakukannya dengan bantuan orang lain dan dengan cara, alat serta sarana yang bervariatif. Ketika sumber daya alam tersebut di atas kemampuan dirinya untuk dikelola sendiri karena terkait dengan kepentingan banyak orang, maka pengelolaannya dilakukan secara kolektif dan representatif oleh negara agar tidak terjadi konflik antarsesama karena keterbatasan sumber daya tersebut. Ketika negara tidak cukup mampu mengelolanya secara maksimal dan proprosional, maka manusia akan menggunakan sarana yang lebih besar lagi. Maka terbentuklah organisasi-organisasi transnasional baik dalam lingkup regional maupun global seperti ASEAN, OPEC, GCC dan Uni Eropa.

Dalam pengelolaan sumber daya alam tersebut manusia menjadikan materi sebagai orientasi keuntungan. Ketika pengelolaannya dilakukan secara kolektif oleh negara maka yang menjadi prinsip distribusi hasil pengelolaannya adalah keadilan. Namun demikian keadilan di sini adalah sebatas keadilan sebagai sesama warganegara. Prinsip tersebut menganggap setiap warganegara berhak mendapatkan pembagian yang merata hasil pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara.

Persepsi terhadap alam yang demikian itu tidak begitu menganggap signifikan kelestarian sumber daya alam. Menjadikan kelestarian alam sebagai pertimbangan akan mengurangi hasil materi yang akan didapatkan. Cara berpikir semacam ini adalah yang umum dimiliki oleh masyarakat dari waktu ke waktu dan di  seluruh tempat di muka bumi. Maka dari itu, konsekuensinya adalah timbulnya banyak bencana alam yang menyebabkan kerugian bagi manusia itu sendiri.

C.3. Menanamkan Kesadaran Ekologis

Perubahan mendasar terhadap cara pandang manusia terhadap alam harus dilakukan. Perubahan ini sangat urgen karena akan merubah pula perlakuan manusia atas alam. Manusia harus memiliki persepsi  yang lebih adil terhadap alam, sehingga tidak lagi mengelola alam secara over-eksploitatif. Over-eksploitasi terhadap alam telah terbukti merugikan manusia sendiri dengan adanya bencana-bencana seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan. Mulai saat ini manusia harus menjadikan alam sebagai sahabat yang layak dan harus dihormati hak-haknya.

Manusia bukan merupakan supremasi  yang independen. Walaupun memiliki kelebihan dengan memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia tetap memerlukan alam untuk kelangsungan hidupnya dan anak-cucunya. Menurut Arne Naess (1972) dan George Seassions (1985) alam beserta dengan segala kekayaan dan varietas kehidupan di dalamnya memiliki nilai-nilai intrinsiknya masing-masing.[10] Manusia adalah bagian dari varietas kehidupan yang membentuk ala mini. Semuanya memiliki hubungan dan kertergantungan satu sama lain.[11] Oleh karena itu manusia harus menjaga keberadaan benda-benda lain baik yang  hidup maupun tidak hidup demi kelestarian dirinya. Manusia harus mempertimbangkan kelestarian sumber daya alam saat mengelolanya. Itu pun hanya dilakukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja.

Manusia harus memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah milik alam semesta. Manusia dituntut untuk selalu menjaga keseimbangan alam karena hanya dengan keseimbangan normalitas alam akan terjaga. Dengan kata lain, bencana alam tidak akan terjadi jika alam berjalan dalam keseimbangan alamiahnya. Banjir tidak akan terjadi jika siklus air berlangsung dengan baik. Keberlangsungan siklus ini mensyaratkan adanya jumlah tumbuhan yang cukup untuk menampung debit air hujan, sungai-sungai yang bersih sampah dan polusi agar air hujan yang tidak terserap oleh tanah dapat dialirkan ke laut, dan suhu udara yang normal agar penguapan air berlangsung normal. Kondisi semacam ini dapat terjadi apabila manusia memperlakukan alam secara adil. Segala aktifitas yang detruktif terhadap alam dihentikan, seperti pembalakan liar, membuang sampah sembarangan, polusi (air, udara dan tanah) dan produksi emisi berlebihan.

C.4. Upaya Bersama

Sebagai upaya penyelamatan sekaligus preventif terhadap kerusakan alam yang lebih parah, persepsi baru terhadap alam seperti yang dijelaskan di atas harus dimiliki oleh setiap individu. Upaya yang bersifat kosmik dengan melibatkan setiap individu manusia ini merupakan langkah pertama penyelamatan. Dalam struktur sosial, individu dapat dibedakan ke dalam dua kelompok secara fungsional, yaitu individu biasa dan individu elit.

Individu biasa maksudnya adalah individu yang berada pada kelas menengah ke bawah baik ekonomi, sosial maupun politiknya seperti guru, petani, pedagang dan buruh. Individu pada kelas ini yang memiliki kesadaran ekologis akan memberikan kontribusi terbatas dalam menjaga atau menyelamatkan lingkungan, misalnya hanya sekitar rumah, tempat kerja dan tetangga serta teman-temannya. Signifikansinya akan tampak ketika dilakukan secara massif.

Sedangkan individu elit adalah individu yang berada pada kelas sosial atas seperti presiden, menteri, pengusaha dan anggota parlemen. Individu pada level ini yang memiliki kesadaran ekologis akan memberikan dampak besar walaupun hanya seorang saja. Misalkan, seorang pemilik perusahaan pertambangan adalah orang yang memiliki kesadaran ekologis. Dalam kapasitasnya itu tentu dia akan mengelola puluhan atau ratusan hektar tanah pertambangannya dengan penuh pertimbangan akan kelestarian lingkungannya. Dia pun akan menjalankan sistem dan strategi bisnis yang ramah lingkungan. Apabila kesadaran semacam ini dimiliki oleh setiap individu pemilik perusahaan pertambangan tentu kerusakan hutan dan lahan seperti  yang saat ini ada tidak akan terjadi.

Setelah persepsi baru tentang alam seperti yang dijelaskan tersebut di atas dimiliki oleh setiap individu, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menjadikannya sebagai landasan untuk membuat upaya penyelamatan lingkungan dari kerusakan dalam kerangka politik. Negara harus menerapkan kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan. Misalnya, negara membuat undang-undang penyelamatan lingkungan yang melingkupi berbagai bidang seperti pertanian, kehutanan, kelautan, pertambangan dan industri. Di samping itu negara juga harus memiliki mekanisme hukum yang tegas untuk menindak setiap pelanggaran undang-undang tersebut.

Kesadaran individual untuk melestarikan lingkungan yang dipadukan dengan upaya politik dalam konteks negara merupakan upaya integral untuk menyelamatkan lingkungan beserta sumber daya yang terkandung di dalamnya. Ini adalah proses yang memerlukan waktu panjang dan upaya serius dari semua pihak. Penanaman kesadaran ekologis ini dapat ditempuh melalui jalur pendidikan. Secara formal proses ini bisa dilakukan di sekolah-sekolah dan universitas melalui kurikulum dan juga praktek keseharian di lembaga tersebut. Sedangkan secara informan bisa dilakukan melalu seminar, pelatihan dan penyuluhan yang dilakukan secara intens kepada seluruh komponen masyarakat.

Proses ini memerlukan keterlibatan semua pihak dalam masyarakat terutama civil society dan pemerintah sendiri. Namun semuanya kembali pada diri kita masing-masing untuk menentukan kapan proses panjang ini akan dimulai.

  1. D. Kesimpulan

Kerusakan lingkungan adalah persoalan serius yang dihadapi umat manusia saat ini dan akan datang.  Dampaknya saat ini sudah sering dirasakan oleh manusia sendiri dalam bentuk bencana-bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, naiknya permukaan air laut dan pemanasan global.

Kerusakan lingkungan diakibatkan oleh aktivitas-aktivitas manusia sendiri baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Ini adalah persoalan mendasar yaitu pola perilaku manusia terhadap alam yang destruktif. Pola perilaku destruktif ini berakar dari pola pikir yang destruktif pula. Manusia menganggap dirinya sebagai pemilik alam yang tentu saja berhak memperlakukannya sesuai kehendak dan kebutuhannya.

Perasaan superior atas alam inilah yang menyebabkan semua kerusakan yang ada. Dengan kata lain, semua bencana yang disebutkan di atas sebenarnya adalah ulah manusia sendiri. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi paradigma terhadap alam.

Paradigma antroposentris yang menganggap manusia adalah superior atau pusat alam semesta harus dirubah dengan paradigma yang egaliter terhadap alam. Manusia adalah bagian dari alam semesta yang saling terhubung dan bergantung satu sama lain. Kehancuran alam berarti kehancuran umat manusia.

Kesadaran ekologis semacam ini harus dimiliki oleh setiap individu baik individu biasa maupun individu elit. Individu biasa maksudnya adalah individu yang berada pada kelas menengah ke bawah baik ekonomi, sosial maupun politiknya seperti guru, petani, pedagang dan buruh. Sedangkan individu elit adalah individu yang berada pada kelas sosial atas seperti presiden, menteri, pengusaha dan anggota parlemen.

Setelah masing-masing individu memiliki kesadaran ekologis, maka langkah selanjutnya adalah menjadikan kesadaran ini sebagai landasan untuk membuat upaya penyelamatan lingkungan dari kerusakan dalam kerangka politik. Negara harus menerapkan kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan.

Kesadaran individual untuk melestarikan lingkungan yang dipadukan dengan upaya politik dalam konteks negara merupakan upaya integral untuk menyelamatkan lingkungan beserta sumber daya yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, proses ini memerlukan waktu dan usaha serius dari segenap masyarakat.

Malang, 23 Juni 2009.

Cecep Zakarias El Bilad

  1. E. Daftar Pustaka

Buku

Frey, R. Scott (editor), The Environment and Society Reader, Allyn&Bacon, Boston, 2001.

Harper, Charles L., Environment and Society: Human Perspectives on Environmental Issues, Prentice-Hall,Inc., New Jersey, 2001.

Internet

http://www.cw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Organizational%20Communication/System_Theory.doc/

http://www.ppk-depkes.org/index.php?option=com_databencana&Itemid=163

http://lemlit.unlam.ac.id/wp-content/uploads/2008/02/yudi-firmanul-a.pdf

http://mediacenter.or.id/headline/tahun/2009/bulan/05/tanggal/22/1669/36-desa-rawan-kekeringan.html

http://www.koranbanten.com/2009/03/23/pandeglang-selatan-terancam-kekeringan/

http://www.esdm.go.id/berita/geologi/42-geologi/1162-faktor-faktor-penyebab-tanah-longsor.html

http://www.voanews.com/indonesian/archive/2006-01/2006-01-04-voa8.cfm?moddate=2006-01-04

http://geo.ugm.ac.id/archives/28


[1] http://www.ppk-depkes.org/index.php?option=com_databencana&Itemid=163

[2] http://lemlit.unlam.ac.id/wp-content/uploads/2008/02/yudi-firmanul-a.pdf

[3] http://mediacenter.or.id/headline/tahun/2009/bulan/05/tanggal/22/1669/36-desa-rawan-kekeringan.html

[4] http://www.koranbanten.com/2009/03/23/pandeglang-selatan-terancam-kekeringan/

[5] http://www.esdm.go.id/berita/geologi/42-geologi/1162-faktor-faktor-penyebab-tanah-longsor.html

[6] http://www.voanews.com/indonesian/archive/2006-01/2006-01-04-voa8.cfm?moddate=2006-01-04

[7] http://geo.ugm.ac.id/archives/28

[8] Charles L. Harper, Environment and Society: Human Perspectives on Environmental Issues, Prentice-Hall,Inc., New Jersey, 2001. Hal, 12.

[9] Ibid.

[10] Charles L. Harper, Environment and Society: Human Perspectives on Environmental Issues, Prentice-Hall,Inc., New Jersey, 2001. Hal, 12.

[11] R. Scott Frey (editor), The Environment and Society Reader, Allyn&Bacon, Boston, 2001. Hal,229.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: