bilad’s Blog


Dilema Politik Pesantren
July 9, 2009, 1:43 am
Filed under: Essay | Tags:

Dilema Politik Pesantren

Satu tradisi yang tidak pernah terlewatkan di setiap musim kampaye pilpres adalah kunjungan para capres-cawapres ke pondok-pondok pesantren. Tradisi ini muncul paling tidak pada beberapa kali pemilu pasca reformasi 1998 sehubungan dengan munculnya partai-partai yang berbasis Islam. Bahkan beberapa partai Islam itu memiliki dukungan massa yang besar seperti PKB, PBB, PAN dan PKS.

Pondok-pondok pesantren yang kerap dikunjungi adalah yang memiliki reputasi dan nama besar seperti Lirboyo, Langitan dan Buntet Pesantren. Pada musim kampanye kali ini pun tradisi ini kembali dilakukan para capres-cawapres beberapa waktu lalu. Cawapres Boediono, misalnya, pada minggu (31/5) berkunjung ke Ponpes Lirboyo, Kediri, pimpinan KH. Idris Marzuki. Sementara itu pada hari yang sama capres Jusuf Kalla berkunjung ke Gresik meresmikan Ponpes Darussalam, Desa Katimoho, Kecamatan Kedamean yang diasuh KH. Muhtadi.

Pondok pesantren selalu konotatif dengan ketokohan pengasuhnya (kyai). Seorang kyai memiliki karisma di masyarakat dan juga memiliki kedekatan emosional ataupun organisasional dengan ormas Islam mainstream NU. Oleh karenanya, pondok pesantren memiliki korelasi kuat dengan simpul-simpul massa Islam terutama dari kalangan Nahdhiyyin (NU). Kunjungan para capres-cawapres itu ke pondok-pondok pesantren menjelang pemilu diakui atau tidak ditujukan untuk mencari simpati massa melalui restu para pengasuh pesantren.

Menghambat Demokrasi

Di negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia, hubungan patron-klien masih menjadi tipe utama partisipasi politik (Rod Hague, Martin Harrop dan Shaun Breslin, Comparative Government and Politics: an Introduction, 1992). Dalam hal ini, individu-individu masyarakat tidak secara mandiri memberikan sikap dan dukungan politiknya. Akan tetapi didasarkan pada loyatitas terhadap individu atau kelompok tertentu yang menghegemoni. Untuk konteks Indonesia, ulama (kyai) merupakan patron politik bagi massa religius akar rumput yang jumlahnya cukup besar. Maka kunjungan ke pondok-pondok pesantren menjadi manuver politik yang stategis.

Hal ini menjadi ironi. Sebagai lembaga pendidikan agama yang sekaligus menjadi rujukan moral dan religius masyarakat, pesantren seharusnya menjaga jarak dari politik. agar netralitasnya tetap terjaga. Netralitas ini sangat penting untuk menjamin profesionalismenya dalam mendidik generasi-generasi intelektual yang religius, humanis dan beradab.

Kontaminasi politik terhadap institusi pesantren tentu berdampak signifikan terhadap proses pendidikan politik para santri dan masyarakat. Paling tidak ada tiga pertimbangan yang perlu diperhatikan. Pertama, dukungan terbuka seorang kyai pengasuh pesantren pada pasangan capres-cawapres tertentu akan menjadi semacam fatwa bagi para santri dan masyarakat untuk memilih pasangan capres-cawapres tersebut. Walaupun kyai tersebut tidak secara tegas menfatwakannya. Sebabnya adalah budaya takzim kepada kyai (guru) di kalangan para santri dan sebagian masyarakat. Sehingga apapun langkah atau pilihan sang kyai (termasuk pilihan politik) akan mereka ikuti.

Di satu sisi, budaya semacam tidak menjadi persoalan. Namun dalam konteks politik, budaya ini kontraproduktif terhadap pembangunan nilai-nilai demokrasi. Masyarakat harus mampu menentukan preferensi politiknya sesuai dengan pandangan yang rasional, tanpa dipengaruhi oleh orang atau kelompok tertentu. Ketika dihadapkan pada tiga pilihan pasangan capres-cawapres pada 8 Juni mendatang, masyarakat dapat memilih pasangan sesuai dengan hati nurani dan analisa rasional atas pasangan pilihannya berdasarkan kualitas dan kapabilitasnya.

Kedua, keberpihakan politik pesantren terhadap pasangan capres-cawapres tertentu berpotensi menimbulkan konflik di dalam tubuh pesantren tersebut. Hubungannya pun dengan masyarakat dan pesantren lain yang berbeda pandangan politik, sedikit banyak akan terganggu. Hal ini tentu akan berdampak negatif terhadap profesionalitasnya dalam menyelenggarakan pendidikan. Kecuali bila ada manajemen yang baik dalam mengelola disparitas pandangan politik ini. Bila tidak, maka akan berujung pada konflik/persaingan yang tidak sehat di dalamnya, sehingga kredibilitasnya dipertaruhkan di mata para santri, orangtua santri, dan masyarkat.

Sejarah politik Islam memberikan pelajaran yang amat berharga tentang perpecahan akibat persinggunggan agama dengan politik. Munculnya mazhab Syiah, sebagai contoh, berakar dari perbedaan preferensi politik di antara para sahabat tentang siapa yang paling layak menggantikan posisi Nabi SAW setelah wafatannya, apakah para sahabat atau ahl al-bait-nya (sanak keluarga, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib). Konflik-konflik politis di antara para sahabat dan ulama semacam ini terus berlanjut pada era dinasti-dinasti Islam.

Ketiga, agama sangat rentan untuk dipolitisasi dalam bentuk justifikasi pandangan politik dengan dalil-dalil agama. Dalam kapasitasnya sebagai tokoh dan guru spiritual, seorang  kyai tentunya selalu mendasarkan setiap pandangannya pada teks-teks agama (Islam), begitu pun dengan pilihan politiknya. Akan menjadi tidak bijaksana ketika pandangan politiknya dipaksakan kepada umat. Menurut pengalaman penulis sendiri saat mondok di salah satu pesantren di Jawa Barat, ada oknum kyai yang menyesatkan/mengharamkan memilih partai selain yang didukungnya. Dia bahkan mengklaim, barang siapa yang tidak memilih partai A, atau memilih partai B, C atau D maka akan masuk neraka.

Bila gejala semacam ini terus berlangsung, dikhawatirkan kredibilitas pesantren sebagai referensi moral dan religius masyarakat akan sirna. Masyarakat Indonesia sangat membutuhkan tuntunan dan teladan menghadapi kondisi negara yang carut-marut akibat konflik di antara para elit yang tak kunjung usai. Pesantren dengan para kyai dan ustadznya memiliki peran strategis untuk melaksakan tugas ini. Bila tidak, ke mana masyarakat kemudian akan mengadu?

Oleh. Cecep Zakarias El Bilad


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: