bilad’s Blog


July 9, 2009, 12:39 am
Filed under: Essay | Tags:

Upaya Pembangunan yang Ramah

Lingkungan di Indonesia

Oleh.

Cecep Zakarias El Bilad

Abstract: Recently natural disaster has become the most occurring phenomenon in the the world. There are always victims in that like flood, landslide and aridity.  This indicates a disorder between humanity and the cosmos that constitutes a system of equilibrium. Natural disaster is an abnormality that means something has go wrong in the nature. It is necessary to take fundamental integrated steps by people and the government to address such invironmental problems.

Keywords: pembangunan, perubahan, kesadaran ekologis, alam, pola hubungan, bencana, upaya.

  1. A. Pendahuluan

Salah satu permasalahan serius dan paling mendasar yang saat ini dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah kerusakan lingkungan. Permasalahan ini dikatakan serius karena level kerusakannya telah sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan kehidupan di bumi termasuk kehidupan manusia sendiri.

Permasalahan ini juga dianggap mendasar karena menyangkut pola pembangunan dan polah hidup masyarakat. Industrialisasi menimbulkan dampak kerusakan lingkungan di banyak wilayah di Indonesia. Berbagai aktifitas kehidupan masyarakat pun sering kali menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem yang ada baik itu dilakukan secara sadar maupun tanpa sadar.  Pola kehidupan merupakan proyeksi pola pikir setiap orang mengenai lingkungannya.

Permasalahan kerusakan lingkungan menempatkan dua aktor dalam posisi yang berbeda secara diametral, yaitu manusia dan alam. Manusia merupakan entitas hidup yang eksistensinya tidak bisa lepas dari alam. Manusia hidup di atas bumi. Ketika mati pun manusia akan dikubur dan akan terurai menjadi tanah (menyatu dengan alam). Akan tetapi dalam persoalan interaksi dengan lingkungannya (alam) baik yang hidup maupun yang tidak hidup, manusia selalu memposisikan diri sebagai pemilik, dan alam adalah sebagai yang dimiliki.

Dalam posisi demikian, manusia tentu dapat memperlakukan alam sebagaimana yang dikehendakinya. Hampir semua daratan di muka bumi ini telah dimiliki oleh manusia. Tanah-tanah yang ada telah dipetak-petakkan untuk dijadikan hak milik manusia dengan kadar luas masing-masing. Manusia kemudian mengelola tanah miliknya itu untuk hal-hal yang membawa keuntungan baginya, misalnya membangun rumah, pabrik, toko, perusahaan, tempat wisata, perkebunan, pertambangan, dan lain sebagainya. Dalam posisi sebagai yang dimiliki, alam (non-human) berada dalam posisi marginal. Terlebih lagi alam adalah entitas kebendaan yang evolusioner (gerak dan perubahannya lamban). Sedangkan manusia adalah entitas kebendaan yang hidup dan agresif.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa akar permasalahan yang menyebabkan kerusakan lingkungan yang terjadi sekarang ini teradapat pada pola interaksi manusia dengan alam sekitarnya. Manusia menempatkan dirinya sebagai superior atas alam. Hak eksploitasi adalah mutlak dimiliki oleh manusia atas alam baik tanah, air maupun udara.

Kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia adalah akibat dari berbagai aktifitas industri, penebangan liar/penggundulan hutan, pembanguan pemukiman dan gedung-gedung, inefisiensi penggunaan peralatan dan bahan bakar beremisi, dan lain sebagainya. Sebagai konsekuensinya, terjadi berbagai bencana di daerah-daerah di Indonesia seperti banjir, tanahlongsor, kekeringan dan kebakaran hutan. Bencana-bencana tersebut memakan kerugian yang sangat besar baik nyawa maupun harta benda.

Atas dasar tersebut, maka manusia (rakyat Indonesia) perlu meredefinisikan untuk kemudian mereposisikan dirinya atas alam semesta agar terjadi koeksistensi antara keduanya. Dalam konteks negara, hasil pendefinisian ulang ini diwujudkan melalui perumusan dan pelaksanaan pola pembangunan yang ramah lingkungan.

Tulisan ini bermanfaat dapat memberikan beberapa manfaat: pertama, untuk membuka  pemahaman baru bagi pembaca tentang persoalan lingkungan. Kedua, dapat dijadikan landasan untuk mengembangkan gagasan-gagasan baru tentang isu ekologi untuk kemudian mengadakan penelitian lebih lanjut. Ketiga, menambah referensi tentang pemikiran ekologis.

  1. B. Bencana Alam di Indonesia

Bencana alam sudah seperti menjadi rutinitas dalam kehidupan manusia khususnya di Indonesia. Setiap musim yang ada selalu mendatangkan bencana yang mengakibatkan kerugian bagi manusia baik nyawa maupun harta benda. Pada musim hujan bencana yang sering terjadi adalah banjir dan tanah longsor. Sedangkan pada musim kemarau bencana yang rutin terjadi adalah kekeringan dan kebakaran hutan. perbuatan Di samping itu ada juga beberapa bencana alam yang sering terjadi namun tidak terkait langsung dengan dua musim tersebut di antaranya gempabumi, gunung meletus, tsunami, angin puting beliung dan penyakit seperti malaria, demam berdarah dan flu burung.

Sumber : BMG

Berikut ini adalah pembahasan tentang bencana-bencana yang sering terjadi di Indonesia:

  1. Banjir

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan yang biasanya kering karena peningkatan volume air. Banjir terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, waduk atau danau, atau pecahnya bendungan sungai, waduk atau danau.

Luapan tersebut terjadi karena air hujan tidak terserap dan terdistribusikan dengan baik. Dalam kondisi normal air hujan yang turun ke bumi akan terserap ke dalam tanah. Penyerapan ini dibantu oleh akar-akar tanaman untuk disimpan di dalam tanah dan untuk kebutuhan metabolisme tanaman itu sendiri. Selebihnya air hujan tertampung di laut dan di sungai-sungai yang akhirnya akan mengalir ke laut. Air-air yang ada di dalam tanah, sungai dan laut tersebut kemudian akan menguap ke udara dengan bantuan sinarmatahari dan menjadi awan yang akhirnya akan berproses kembali menjadi hujan. Begitulah seterusnya siklus air di bumi.

Banjir terjadi ketika siklus air tersebut tidak berjalan dengan normal. satu atau beberapa tahapan di dalam siklus tersebut tidak berjalan dengan semestinya.  Air hujan yang tidak meresap ke dalam tanah sebagaimana mestinya dapat menyebabkan luapan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah tumbuhan pada satu daerah tertentu akibat pembalakan liar, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, pertambangan atau perumahan yang melebihi batas kewajaran.

Bencana yang diakibatkan oleh aktifitas-aktifitas tersebut di atas biasanya adalah banjir bandang pada daerah-daerah yang lebih rendah. Sebagai contoh, pada tahun 2008 di seluruh wilayah Indonesia terjadi 401 kali bencana banjir dan 36 kali banjir bandang.[1] Pada bulan Juni tahun 2006 terjadi banjir besar di Kalimantan Selatan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat,[2] penyebab utama banjir tersebut adalah luasnya lahan kritis di Kalimantan Selatan.

Berikut adalah data luas hutan dan lahan kritis di Kalimantan Selatan:

No

Kabupaten/Kota

Luas (ha)

Lahan Kritis

(ha)

Lahan Sangat

Kritis (ha)

Total Lahan

kritis (ha)

Lahan

Kritis

(%)

1

Kotabaru

942.273

100.343,50

0,00

100.343,50

10,65

2

Tanah Bumbu

506.696

50.517,24

0,00

50.517,24

9,97

3

Tanah Laut

372.930

49.248,64

0,00

49.248,64

13,21

4.

Banjar

471.097

96.907,23

24.144,80

121.051,98

25,70

5.

Tabalong

359.950

41.644

0,00

41.644,00

11,57

6.

HSU

95.125

0,00

0,00

0,00

0,00

7.

Balangan

181.975

36.215,03

0,00

36.215,03

19,90

8.

HST

147.200

13.744,79

0,00

13.744,79

9,34

9.

Tapin

217.495

60.134,75

4.924,86

65.059,61

29,91

10.

HSS

180.494

17.602,85

26.835,40

44.438,23

24,62

11.

Banjarbaru

32.883

7.522,00

0,00

7.522,00

22,88

12

Batola

237.622

26.198,00

0,00

26.198,00

11,03

13

Banjarmasin

7.267

0,00

0,00

0,00

0,00

Sumber : Dinas Kehutanan Prop. Kalimantan Selatan (2004)

Peningkatan jumlah dan luas lahan kritis di Kalimantan Selatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya jumlah alih fungsi hutan untuk perkebunan dan area tambang batu bara. Berdasarkan data Dinas Perkebunan tahun 2005, kawasan perkebunan terluas ada di Kabupaten Kotabaru dengan luas mencapai 108.000 ha atau 62,4% dari luas yang telah tergarap, Tanah Bumbu 43.000 atau 24,9%, Tanah Laut 33.000 atau 19,1%, Tabalong 5.000 ha atau 2,9% dan Balangan 2.200 ha atau 1,3% (B.Post, 2006b). Dari data tersebut terlihat jelas bahwa di kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu dan Tanah Laut yang hingga kini banyak melakukan alih fungsi lahan dengan pembukaan areal untuk perkebunan kelapa sawit tahun 2006 ini terjadi banjir. Alih fungsi lahan besar-besaran untuk perkebunan sangat berpotensi penyebab terjadinya banjir.

  1. Kekeringan

Sebagaimana banjir, kekeringan adalah bencana yang rutin terhadi di Indonesia. Penyebab utama terjadinya kekeringan dan banjir adalah perubahan kawasan hutan di hulu-hilir air yang sebelumnya merupakan daerah resapan air menjadi lahan permukiman, industri, dan pertambangan atau bahkan gundul sama sekali. Akibatnya air hujan yang jatuh langsung mengalir ke sungai, bukan masuk ke dalam tanah. Berkurangnya daerah resapan air mengakibatkan pada musim kemarau aliran air dalam tanah berkurang, sehingga memengaruhi sistem sungai. Sedangkan pada musim hujan akan terjadi banjir karena kurangnya lahan peresap air.

Pada tahun ini banyak wilayah di Indonesia yang terancam kekeringan. Sebagai contoh, Pusat Informasi Bencana di Indonesia melaporkan sebanyak 36 desa di Kabupaten Temanggung rawan kekeringan pada musim kemaru tahun ini.[3] Di Provinsi Banten, daerah-daerah yang pada tahun ini teramcam bencana kekeringan adalah Kecamatan Cikeusik, Munjul, Angsana, Cibaliung, Sobang, Cimanggu, dan Sumur.[4] Selain dua wilayah itu masih banyak lagi wilayah-wilayah di Indonesia yang terancam kekeringan.

  1. 3. Tanah Longsor

Tanah longsor adalah suatu peristiwa geologi di mana terjadi pergerakan tanah seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan.[5]

Ancaman tanah longsor biasanya terjadi pada bulan November, karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar, sehingga mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga-rongga dalam tanah, yang mengakibatkan terjadinya retakan dan rekahan permukaan tanah.

Tanah longsor juga merupakan bencana yang sering terjadi dan cukup mematikan. Pada awal tahun 2006 terjadi tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, dan menewaskan 12 orang dan 200 orang hilang.[6] Tiga bulan yang lalu peristiwa serupa tanah longsor terjadi di Tangerang yaitu jebolnya sebuah danau buatan Situ Gintung yang menewaskan 58 orang. Jebolnya tanggul danau buatan ini disebabkan karena banyaknya pemukiman dan bangunan di sekitar danau yang seharusnya menjadi daerah yang steril dari bangunan dan pemukiman.

  1. C. Upaya Penyelamatan

Kerusakan lingkungan sebenarnya merupakan permasalahan mendasar tentang pola hubungan manusia dengan alam. Pola hubungan yang selama ini umum berlaku di masyarakat harus dikoreksi, karena menyebabkan berbagai permasalahan lingkungan yang merugikan masyarakat itu sendiri baik secara materi maupun non-materi.

Perubahan mendasar terhadap cara pandang manusia terhadap alam harus dilakukan. Perubahan ini sangat urgen untuk merubah pola perlakuan manusia atas alam. Manusia harus memiliki persepsi  yang lebih adil terhadap alam, sehingga tidak lagi mengelola alam secara over-eksploitatif. Manusia bukan merupakan supremasi di alam semesta ini. Walaupun memiliki kelebihan berupa akal yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia tetap memerlukan alam untuk kelangsungan hidupnya. Menurut Arne Naess (1972) dan George Seassions (1985) alam beserta dengan segala kekayaan dan varietas kehidupan di dalamnya memiliki nilai-nilai intrinsiknya masing-masing.[7]

Manusia adalah bagian dari varietas kehidupan yang membentuk alam. Semuanya memiliki hubungan dan saling bergantung satu sama lain.[8] Manusia dituntut untuk selalu menjaga keseimbangan alam karena hanya dengan keseimbangan normalitas alam akan terjaga. Dengan kata lain, bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan tidak akan terjadi jika alam berjalan dalam keseimbangan alamiahnya.

Sebagai upaya penyelamatan sekaligus preventif terhadap kerusakan alam yang lebih parah, persepsi baru terhadap alam seperti yang dijelaskan di atas harus dimiliki oleh setiap individu. Upaya yang bersifat kosmik dengan melibatkan setiap individu manusia ini merupakan langkah pertama penyelamatan.

Dalam struktur sosial, individu dapat dibedakan ke dalam dua kelompok secara fungsional, yaitu individu biasa dan individu elit. Individu biasa adalah individu yang berada pada kelas menengah ke bawah baik ekonomi, sosial maupun politiknya seperti guru, petani, pedagang dan buruh. Individu yang memiliki kesadaran ekologis pada kelas ini akan memberikan kontribusi terbatas dalam menjaga atau menyelamatkan lingkungan, misalnya hanya sekitar rumah, tempat kerja dan tetangga serta teman-temannya. Signifikansinya akan tampak ketika dilakukan secara massif.

Sedangkan individu elit adalah individu yang berada pada kelas sosial atas seperti presiden, menteri, pengusaha dan anggota parlemen. Individu yang memiliki kesadaran ekologis pada level ini akan memberikan dampak besar walaupun hanya seorang saja karena dia memiliki kekuasaan dalam struktur politik atau ekonomi.

Setelah persepsi baru tentang alam ini dimiliki oleh setiap individu, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menjadikan persepsi baru tersebut sebagai landasan untuk melakukan upaya penyelamatan lingkungan kerangka negara. Negara merupakan institusi dengan kedaulatan tertinggi dalam masyarakat pada suatu wilayah. Dengan posisi dan fungsinya, negara dapat membuat upaya-upaya penyelamatan lingkungan secara sistematis melalui program-program pembangunan yang ramah lingkungan maupun program-program khusus penyelamatan lingkungan.

Atas dasar pertimbangan ekologis, pembangunan negara tidak hanya sebatas berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga harus mempertimbangan aspek kelestarian lingkungan. Pembangunan ekonomi adalah yang memiliki andil besar dalam kerusakan lingkungan melalui berbagai aktifitas industri dan penggunaan produk-produknya. Pemerintah harus merelokasi kawasan industri. Pemerintah dapat membuat kawasan-kawasan khusus bagi industri sehingga terpisah dari pemukiman penduduk dan pemerintah akan lebih mudah mengontrolnya. Di samping itu, pemerintah juga menertibkan proses industri dengan cara membuat undang-undang atau peraturan pemerintah yang memberikan batasan dan kriteria tertentu agar proses industri tidak membahayakan ekosistem. Langkah ini sangat urgen untuk mengantisipasi atau mengurangi polusi yang ditimbulkan, untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya serta menjamin keberlanjutan sumber bahan bakunya.

Tidak cukup hanya sebatas pengaturan proses industri, pemerintah juga harus mengontrol jumlah produk-produk tidak ramah lingkungan yang beredar di masyarakat seperti AC, kulkas CFC, kendaraan berbahan bakar minyak bumi dan lain-lain. Pemerintah secara bertahap harus mengganti produk-produk itu dengan produk-produk ramah lingkungan baik dari ekspor maupun impor. Inilah proses penyelamatan lingkungan yang dilakukan secara struktural, melalui kekuatan politik dan ekonomi negara.

Agar proses ini berjalan seimbang, diperlukan kesadaran ekologis masyarakat, yaitu kesadaran untuk mengurangi aktifitas-aktifitas keseharian yang berdampak negatif terhadap lingkungan seperti menebang pepohonan, menggunakan kendaraan bermotor yang beremisi, menggunakan listrik secara berlebihan dan lain sebagainya, dan melakukan upaya-upaya penjagaan dan penyelamatan kelestarian lingkungan secara sadar dari individu masing-masing. Masyarakat harus melakukan cara-cara alternatif sebagai pengganti kegiatan-kegiatan tersebut. Cara-cara alternatif ini bisa ditemukan melalui riset-riset yang dilakukan oleh lembaga-lembaga lingkungan baik dari swasta maupun pemerintah dan disosialisasikan melalui pendidikan baik formal maupun informal. Melalui pendidikan formal kesadaran ekologis dapat ditanamkan di sekolah-sekolah dasar dan perguruan tinggi melalui kurikulum serta penciptaan lingkungan sekolah yang ramah lingkungan. sedangkan melalui pendidikan informal kesadaran ini dapat ditanamkan melalui program-program penyuluhan, short course, pelatihan serta iklan-iklan di media massa.

  1. D. Kesimpulan

Kesadaran individual untuk melestarikan lingkungan yang dipadukan dengan upaya politik melalui sarana negara merupakan upaya integral untuk menyelamatkan lingkungan dan sumber daya yang terkandung di dalamnya. Ini adalah proses yang memerlukan waktu panjang dan upaya serius dari semua pihak. Penanaman kesadaran ekologis ini dapat ditempuh melalui jalur pendidikan. Secara formal proses ini bisa dilakukan di sekolah-sekolah dan universitas melalui kurikulum dan juga praktek keseharian di lembaga tersebut. Sedangkan secara informan bisa dilakukan melalu seminar, pelatihan dan penyuluhan yang dilakukan secara intens kepada seluruh komponen masyarakat.

Proses ini memerlukan keterlibatan semua pihak dalam masyarakat terutama civil society dan pemerintah sendiri. Namun semuanya kembali pada diri kita masing-masing untuk menentukan kapan proses panjang ini akan dimulai.

Setelah masing-masing individu memiliki kesadaran ekologis, maka langkah selanjutnya adalah menjadikan kesadaran ini sebagai landasan untuk membuat upaya penyelamatan lingkungan dari kerusakan dalam kerangka politik. Negara harus menerapkan kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan.

Kesadaran individual untuk melestarikan lingkungan yang dipadukan dengan upaya politik dalam konteks negara merupakan upaya integral untuk menyelamatkan lingkungan beserta sumber daya yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, proses ini memerlukan waktu dan usaha serius oleh pemerintah dan segenap masyarakat Indonesia.

Malang, 24 Juni 2009.

  1. E. Daftar Pustaka

Buku

Frey, R. Scott (editor), The Environment and Society Reader, Allyn&Bacon, Boston, 2001.

Harper, Charles L., Environment and Society: Human Perspectives on Environmental Issues, Prentice-Hall, Inc., New Jersey, 2001.

Internet

http://www.cw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Organizational%20Communication/System_Theory.doc/

http://www.ppk-depkes.org/index.php?option=com_databencana&Itemid=163

http://lemlit.unlam.ac.id/wp-content/uploads/2008/02/yudi-firmanul-a.pdf

http://mediacenter.or.id/headline/tahun/2009/bulan/05/tanggal/22/1669/36-desa-rawan-kekeringan.html

http://www.koranbanten.com/2009/03/23/pandeglang-selatan-terancam-kekeringan/

http://www.esdm.go.id/berita/geologi/42-geologi/1162-faktor-faktor-penyebab-tanah-longsor.html

http://www.voanews.com/indonesian/archive/2006-01/2006-01-04-voa8.cfm?moddate=2006-01-04

http://geo.ugm.ac.id/archives/28


[1] http://www.ppk-depkes.org/index.php?option=com_databencana&Itemid=163

[2] http://lemlit.unlam.ac.id/wp-content/uploads/2008/02/yudi-firmanul-a.pdf

[3] http://mediacenter.or.id/headline/tahun/2009/bulan/05/tanggal/22/1669/36-desa-rawan-kekeringan.html

[4] http://www.koranbanten.com/2009/03/23/pandeglang-selatan-terancam-kekeringan/

[5] http://www.esdm.go.id/berita/geologi/42-geologi/1162-faktor-faktor-penyebab-tanah-longsor.html

[6] http://www.voanews.com/indonesian/archive/2006-01/2006-01-04-voa8.cfm?moddate=2006-01-04

[7] Charles L. Harper, Environment and Society: Human Perspectives on Environmental Issues, Prentice-Hall,Inc., New Jersey, 2001. Hal, 12.

[8] R. Scott Frey (editor), The Environment and Society Reader, Allyn&Bacon, Boston, 2001. Hal,229.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: