bilad’s Blog


Dinamika Konflik dalam Multinational State Turki Utsma
May 4, 2009, 2:06 am
Filed under: Essay | Tags:

Dinamika Konflik dalam Multinational State

Turki Utsmani

Turki Utsmani adalah sebuah imperium besar dunia yang paling akhir runtuh. Imperium ini didirikan oleh Utsman, salah seorang putra pemimpin rombongan suku bangsa pengembara yang berasal dari Asia Tengah yang melarikan diri dari pembantaian bangsa Mongol atas wilayah-wilayah Islam pada abad ke -13. Kekaisaran ini berdiri pada sekitar tahun 1300-an.

Turki Utsmani merupakan benteng terakhir superioritas Islam dalam ranah politik global.  Penaklukkan yang dilakukan oleh Turki Utsmani atas wilayah-wilayah di sekitarnya berlangsung sangat cepat.  Pada tahun 1566, tahun wafatnya Sultan Sulayman (1520-1566), Utsmani merupakan kekuatan utama di sekitar Gurun Parsi, Timur Tengah, Mediterania dan Eropa. Wilayahnya membentang dari Danube hingga Yaman, dari Albania hingga wilayah pantai selatan Laut Hitam, dan dari Algeria hingga Baghdad.[1]Turki Utsmani mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Sulayman yang bergelar the Magnificent.

Wilayah-wilayah tersebut meliputi berbagai bangsa yang pernah menjadi pusat-pusat peradaban dunia, antara  lain Persia, Baghdad, Arab (Makkah dan Madinah), Damaskus, Mesir dan Yunani. Dengan penguasaan atas wilayah-wilayah tersebut, Turki Utsmani banyak mewarisi sisa-sisa peradaban berupa literatur, bangunan hingga sistem pemerintahan. Dengan cakupan kekuasaan seperti itu pula Turki Utsmani menjadi sebuah multinations state. Menurut sensus yang dilaksanakan pada tahun 1840 jumlah penduduk Turki Utsmani adalah 35.350.000 jiwa yang terbagi ke dalam tiga wilayah yaitu Asia, Eropa dan Afrika. Penduduk yang mendiami wilayah-wilayah itu terdiri dari berbagai macam ras, yaitu Ottoman (Utsmani), Yunani, Armenia, Yahudi, Slavia, Rumania, Albania, Tartar, Arab, Siriyan dan Kaldean, Druze, Okrod, Turkman, dan Gozr (Nur). Dalam hal religious, Turki Utsmani juga menyimpan keragaman agama yaitu Islam, Ortodoks, Roma-Armenia, Katholik (termasuk di dalamnya yang ada di pegunungan Lebanon), Yahudi,dan lain sebagainya.[2]

Konflik Identitas

Fakta keragaman wilayah, ras, etnis, dan agama dalam internal Turki Utsmani di satu sisi menjadi satu prestise tersendiri, bahwa dinasti Utsmani mampu bertahan hingga ratusan tahun di atas fondasi keragaman. Namun di sisi lain menjadi ancaman laten yang menumbuhkan dampak-dampak detrimental semisal konflik rasial atau bahkan kehancuran negara itu sendiri. Ziya Gokalp mengatakan, bahwa sebuah negara hanya bisa eksis apabila didasarkan pada satu bangsa, karena masyarakat yang terdiri dari banyak bangsa tidak akan mencintai tanah air yang sama.[3]

Secara umum, sultan-sultan Utsmani memerintah secara absolut. Sultan adalah sumber kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan. Namun demikian, luasnya wilayah kekuasaan dan beragamnya komposisi penduduk menjadi tantangan tersendiri bagi sultan untuk mempertahankan wilayahnya dan menjaga stabilitas negara. Sultan harus menjalankan sistem pemerintahan yang mengakomondasi seluruh entitas yang berada dalam wilayah kekuasaannya. Di samping itu, sistem yang akomodatif sangat diperlukan karena tidak semua entitas di bawah kekuasaannya menerima dengan sukarela dengan kepemimpinannya. Salah satu kunci kesuksesan Utsmani dalam mempertahankan kekuasaannya yang luas di atas keragaman hingga beratus-ratus tahun menurut  William L. Cleveland adalah pengakuannya bahwa, perbedaan teritori kekuasaan menuntut adanya fleksibilitas dalam mengadopsi praktek-praktek admistratif yang dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan beragam dari setiap wilayah dan budaya.[4]

Prinsip politik akomodatif Utsmani tersebut ternyata hanya mampu meredam gejolak politik, namun tidak mampu meredam gejolak sosial laten dalam masyarakat feodal tradisional. Prinsip tersebut semakin mengukuhkan disparitas ekonomi, sosial dan terutama religious dalam masyarakat Utsmani. Berkelindannya antara politik dan agama dalam realitas politik Utsmani sangat kental sehingga memunculkan superioritas agama mayoritas atas kelompok-kelompok minoritas agama lain. Superioritas ini terutama adalah dalam bidang politik dan militer. Akses politik lebih terbuka bagi golongan muslim dari pada golongan non-muslim. Negara memberikan kesempatan yang terbatas bagi minoritas non-muslim seperti Yahudi dan Katolik untuk bergelut dalam bidang militer. Kebijakan parsial ini juga berimbas pada diskriminasi dalam pelayanan publik. Hal inilah yang menimbulkan kecemburuan sosial yang kemudian mengarah pada konflik horizontal di masyarakat.

Sementara akses politik sangat terbatas , kelompok-kelompok minoritas non-muslim mendominasi dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Mayoritas non-muslim adalah orang-orang yang berpendidikan Eropa dan secara ekonomi mapan. Sedangkan kelompok muslim mayoritasnya adalah masyarakat petani yang mendapat pendidikan di madrasah-madrasah tradisional yang hanya mengajarkan agama. Dalam hal ini muncul kemudian muncul dikotomi kelas sosial,  yaitu kaum intelegensia (dari berbagai kelompok agama maupun level ekonomi) dan masyarakat umum. Kaum intelegensia sangat membatasi diri secara pergaulan dengan masyarakat umum.

Dalam hal capaian pendidikan dan intelegensi kelompok-kelompok agama dalam level ekonomi yang beragam menemukan titik temu. Mereka memiliki pola pikir yang terbuka dan egaliter. Mereka juga memiliki ide yang sama tentang egalitarianisme dan kebebasan. Mereka menyadari adanya konflik laten dalam masyarakat akibat diskriminasi religious. Akhirnya mereka kemudian membentuk gerakan pembaharuan terhadap sistem birokrasi dan pemerintahan.  Mereka menuntut persamaan warganegara di depan hukum. Gerakan pembaharuan ini mendapat sambutan dari penguasa, Sultan ‘Abd al-Madjid (1839-1861). Puncaknya adalah dengan diumumkannya deklarasi Gulkhane, Khatt-I Syerif Gulkhane, pada tanggal 3 Nopember 1839. Periode setelah deklarasi ini disebut periode Tanzimat yang berarti pembaharuan.

Deklarasi Gulkhane dimaksudkan untuk melakukan reorganisasi secara struktural dan komprehensif atas rezim lama.[5] Ada dua faktor yang membuat penguasa bersepekat dengan ide-ide pembaharuan kaum intelektual seperti Mustafa Pasya, Mustafa Rasyid Pasya dan Mehmed Sadik Rifat Pasya – wawasan mereka tentang Eropa adalah dari pendidikan atau dari pengalaman bertugas sebagai diplomat atau menteri luar negeri Utsmani). Pertama, pengaruh Eropa sangat kuat dalam sosial, pendidikan maupun ekonomi domestik Utsmani. Dengan pembaharuan tersebut penguasa berharap dapat meningkatkan prestise di mata sekutu-sekutu Eropanya. Dengan begitu upaya peningkatan kerjasama dengan Eropa akan semakin mudah. Kedua, legitimasi masyarakat terhadap penguasa lemah. Pembaharuan birokrasi dan politik diharapkan dapat memperbaiki citra pemerintah di masyarakat.

Pembaharuan sistem pada periode Tanzimat tersebut ternyata tidak lain adalah westernisasi sistem terutama sistem pendidikan, hukum dan pemerintahan. Pendidikan yang semula merupakan tanggungjawab masing-masing kelompok agama kemudian diambil alih kewengangannya oleh pemerintah. Kurikulum pendidikan dikontrol oleh Kementerian Pendidikan. Pola pendidikan dirombak secara mendasar dengan memaksakan pendidikan modern ala Eropa kepada masyarakat sehingga mematikan eksistensi lembaga-lembaga pendidikan tradisional yang ada.

Secara hukum modernisasi dilakukan dengan “mendepak” legalitas hukum agama dan menggantinya dengan sistem hukum Eropa. Secara umum dapat dikatakan bahwa proses pembaharuan ini lebih pada upaya sekulariasasi sehingga penguasa tidak lagi terikat oleh norma-norma agama dalam memerintah. Sedangkan secara politik, penguasa menetapkan persamaan warganegara tanpa membedakan agama maupun ras.

Nasionalisme Turki

Pembaharuan sistem yang radikal tersebut ternyata menimbulkan permasalahan baru di masyarakat yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal baru. Menurut Uriel Heyd, yang paling menderita kerugian dari Otomanisme (pembaharuan) ini adalah bangsa Turki itu sendiri, karena dengan kebijakan persamaan warganegara bangsa Turki akan kehilangan satu-satunya idealisme yang dapat menyelamatkan bangsa Turki dari kehancuran yaitu nasionalisme.[6] Konflik kemudian kembali pada disparitas agama, dan lebih jauh lagi pada disparitas ras. Heyd lebih lanjut menerangkan bahwa secara umum bangsa Turki (yang mayoritas Muslim) sangat mengkhawatirkan efek detrimental atas penguasaan posisi-posisi kunci dalam bidang ekonomi, industri dan profesionalisme oleh golongan Kristen dan Yahudi. Sedangkan orang-orang Muslim yang merupakan kelompok mayoritas dan utama terpusat hanya sebagai petani, pegawai pemerintah dan militer (prajurit).

While “the poor Turks inherited from the Ottoman Empire nothing but a broken sword and an old-fashioned plough,” there arose among the non-Muslim communities, which had no part in Government, a wealthy bourgeoisie with European education.[7]

Konflik baru pun ternyata muncul dengan identitas yang lebih rumit, yaitu agama dan ras. Perlu dicatat di sini bahwa konflik antargolongan di Turki Utsmani juga tidak lepas dari konflik secara fisik seperti intimindasi, pembunuhan dan demonstrasi. Namun yang banyak disoroti oleh para ahli dan pengamat adalah konflik intelektual dan politik antarelit masing-masing golongan. Hal ini dikarenakan tingginya dinamika intelektual di masyarakat Turki. Kesadaran dan kedewasaan politik rakyat Turki Utsmani cukup tinggi dan teruji.

Banyak kelompok intelektual mengkritik periode Tanzimat sebagai sebuah bentuk kesalahan politik dan ekonomi. Yang dilakukan oleh penguasa (sultan) dengan program-program reformasinya adalah upaya weternisasi Utsmani. Padahal yang diperlukan oleh Utsmani adalah modernisasi.  Artinya, pemerintah harusnya memahami dengan baik apa yang menjadi bagian dari peradaban Eropa yang harus diadopsi, dan apa yang merupakan budaya Eropa yang tidak perlu dan tidak boleh diadopsi karena akan menimbulkan gejolak sosial serius. Ditambah lagi dengan eksklusivitas rezim Tanzimat dan kaum terdidik pendukungnya. Konsekuensi yang harus dihadapi oleh pemerintah akibat “kesalahan” ini adalah perlawanan rakyat. Maka tidak mengherankan apabila ide-ide pembaharuan  Tanzimat tidak mendapat sambutan luas dari masyarakat. Masyarakat tidak lagi mengadopsi peradaban Eropa  sebagaimana mereka mengadopsi peradaban oriental kaum elit pada masa lalu.

Gagasan-gagasan pembaharuan tidak berhasil memberikan perubahan berarti bagi kondisi masyarakat. Jurang pemisah antara elit dan masyarakat belum tertutupi. Penetrasi ide-ide dan budaya Eropa secara radikal selama periode Tanzimat menimbulkan benturan dengan budaya-budaya lokal masyarakat. Para penguasa dan pengusung gagasan pembaharuan, sebagai contoh, telah menyingkirkan ulama dan hukum Islam yang masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Periode Tanzimat juga merupakan periode kembalinya otoriterisme sultan. Program-program pembaharuan hanya bisa dilakukan oleh pemerintah yang memiliki otoritas tertinggi. Semuanya ini yang merupakan bentuk upaya penggusuran simbol-simbol dan nilai-nilai lokal hanyalah menambah kebencian masyarakat terhadap kaum mereka.

Kembalinya despotisme sultan ini kemudian mendapat protes dan kritikan tajam dari berbagai kalangan. Paling tidak muncul tiga kelompok utama yang menentang sultan, yaitu kelompok tradisionalis, kelompok Utsmani Muda dan Kelompok Turki Muda. Dua kelompok terakhir adalah yang terdiri dari kaum intelektual progresif. Utsmani Muda mengkritik westernisasi yang dilakukan oleh pemerintah tanpa ada seleksi ketat. Kelompok ini mendukung gagasan liberalisme politik yang menyamakan kedudukan rakyat di depan hukum sebagai satu bangsa (Turki) dalam sebuah multinational state Utsmaniyah/Turki Utsmani. Mereka menilai bahwa pemerintah telah menelikung reformasi dan liberalisasi yang telah lama mereka perjuangkan hanya demi memperkokoh kekuasaan sultan dan membuka lebar intervensi asing.

Kritik paling tajam terhadap rezim Tanzimat dilontarkan oleh kelompok Turki Muda. Kelompok inilah yang sangat menginginkan penghapusan kekuasaan politik sultan. Mereka mengusung gagasan Turkifikasi (Turanisme), yaitu gagasan nasionalisme yang didasarkan pada kesatuan kebudayaan bangsa Turki. Negara multinasional Turki Utsmani harus dihapuskan dan sebagai gantinya adalah dibentuknya negara nasional Turki. Artinya sebuah negara yang berdiri atas landasan kesamaan kebudayaan, bukan ras atau bangsa.. Tokoh utama gerakan nasionalisme Turki ini di antaranya adalah Mustafa Kemal Pasha, Yusuf Ackura dan Zia Gokalp.

Gagasan ini kemudian mendapat sambutan paling luas dari masyarakat. Oleh karenanya gerakan Turki Muda ini akhirnya berhasil meruntuhkan sistem khilafah Utsmani pada tahun 1924. Runtuhnya Turki Utsmani akibat konflik berkepanjangan dengan rakyat merupakan bentuk kegagalan negara dalam mengelola aspirasi-aspirasi rakyat yang beragam. Hanya kedua aktor yang berkonflik itu sendirilah yang dapat menyelesaikan konflik.

Cecep Zakarias El Bilad

Malang, 1 Mei 2009.

Daftar Bacaan

Cleveland, William L., A History of the Modern Middle East, Colorado: Westview Press, 2000.

Habib, Kamal Sa’id, Dr., Kaum Minoritas & Politik Negara Islam: Sejak Awal Pemerintahan Nabi SAW sampai Akhir Pemerintahan Utsmani, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2007.

Heyd, Uriel, Ph.D., Foundations of Turkish Nationalism: The Life and Teachings of Ziya Gokalp, London: Lucas&Company LTD, 1950

Mughni, Syafiq A., DR., Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, Pamulang Timur: Logos Wacana Ilmu, 1997.


[1] Lihat William L. Cleveland, A History of the Modern Middle East, hlm.44

[2] Lihat Dr. Kamal Sa’id Habib, Kaum Minoritas & Politik Negara Islam: Sejak Awal Pemerintahan Nabi SAW Sampai Akhir Pemerintahan Utsmani. Lampiran Hlm.552-553.

[3] Uriel Heyd, Ph.D, Foundations of Turkish Nationalism: The Life and Teachings of Ziya Gokalp, hlm.73.

[4] Lihat William L. Cleveland, A History of the Modern Middle East, hlm.44.

[5]DR. Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki. Hlm.128.

[6] Lihat Uriel Heyd, Ph.D, Foundations of Turkish Nationalism: The Life and Teachings of Ziya Gokalp, hlm.73.

[7] Ibid. hlm, 74.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: