bilad’s Blog


Terali Stagnasi
April 29, 2009, 4:00 pm
Filed under: short story | Tags:

Terali Stagnasi

Aku semakin harus waspada sejak semuanya jelas. Tak ada kecurigaan tersisa, hanya keyakinan bahwa di kota ini aku dikerubungi stagnasi. Mahluk menakutkan, dan paling aku benci. Aku jauhi dia. Aku diamkan. Aku tak mau disentuhnya. Sentuhan yang membuai.

Aku pastikan dua bilah mataku tajam, agar mati sekali tusuk kalau-kalau dia menyerangku tiba-tiba. Lalu aku deklarasikan konfrontasi total: Ganyang Stagnasi! Kota dimana aku hidup dua setengah tahun ini memang menjadi sarang mahluk paling menjijikan itu. Bukan rahasia lagi, keberadaanku di kota ini menjadi bahaya laten bagi komunitas mereka. Aku menyadarinya. Kapan pun konspirasi mereka siap mengenyahkanku. Sedikit saja aku lengah, mereka menyergap hingga aku terkapar tak berdaya. Selama-lamanya.

Aku d tman baca”, sms menyelinap di HP-ku.

Oke.Sebentar mas. Sy meluncur skrang.” sms segera berlari kembali ke tuannya menyampaikan balasan.

Aku keluar dari kosku, dan berjalan penuh waspada menuju taman baca kampus. Di sana, mas Udin sudah menungguku. Aku sendiri tak tahu mengapa dia tiba-tiba ingin bertemu. Tadi malam sms-nya bertandang menunda tidurku sejenak, “Jib, bsok pagi ktemu di tempt biasa. Aq ingn bicara.”

Aku melihat mas Udin duduk berhadapan dengan seorang temannya. Aku menghampiri keduanya. Dan duduk di sebelah temannya itu. Barang sejenak, dia meminta diri meninggalkan kami berdua, seakan sudah tahu akan ada pembicaraan serius yang bukan kepentingannya. Aku menatapnya. Sebuah meja berpelitur menjadi pembatas dua wajah yang bersemuka ini.

Pandangannya liar seakan silau dengan tatapanku. Nafas panjang berasap menyembur dari bibir hitamnya. Sebatang rokok mengepul dengan tenang di antara jemari tangan kanannya yang berebah di atas lembaran kayu itu. Aku lihat satu dua helai rambutnya menjulai di depan matanya. Sesaat jemari kirinya menyibakkan rambut panjangnya yang terjurai. Mungkin dia membuatnya risih. Beda dengan rambutku yang ikal. Tak pernah aku panjangkan. Aku takut kehilangan kepercayaan diriku. Aku tak merasa tampan sebagai lelaki bila rambutku panjang.

Sepertinya dia mencoba berdamai dengan riuh rendah sekitar. Memang munafik tetap menamai tempat ini taman baca. Orang-orang berkumpul di sini bukan untuk apa, tapi bergosip, bercanda ria atau sekadar menyantap jajanan Hanya satu dua saja yang serius berdiskusi dan membaca. Kami? Entah termasuk yang mana.

“Bagaimana mas. Ada apa?,” aku coba melempar kata. Suaraku parau. Aku sendiri lelah. Sudah dua setengah tahun ini aku habiskan hidup hanya untuk bertahan dari bayangan mahluk-mahluk terkutuk itu. Sendiri. Hingga jadilah hidupku ini datar sedatar meja yang membatasi dua wajah saling berhadapan ini.

Lemparan kataku belum juga berbalik. Kini dia menatapku tajam menusuk ke dinding-dinding pedalamanku yang ringkih. Dia mengetahui akan keringkihanku. Itulah mungkin yang mengunci mulutnya. Dia sedang membariskan kata agar hentakannya tak meruntuhkan kerapuhan itu. Aku pasang wajah tenang seolah tak tahu kata-kata apa yang hendak dia alirkan. Dan aku memang tak tahu.

“Aku akan kembali ke Jogja, Jib.”

Ternyata memang jinjitan katanya gagal menopang keseimbangan. Jiwaku runtuh seruntuh-runtuhnya. Bata demi bata yang selama ini aku tata, berserakan seketika. Aku mencoba berdiri walau tanpa jiwa. Aku tetap membeber mukaku paling tidak untuk sekedar menutup kelaminku. Namun mataku tak sanggup menegakkan pandangnya. Dia menunduk mengukur kedataran meja apakah memang sedatar hidupku.

Seolah tak peduli ketelanjanganku, dia meneruskan.

“Teman-teman di Jogja terus mendesakku kembali ke sana. Alasannya tetap sama: produktif. Cibirannya pun sama: hati-hati terpaut Srikandi. Bisa-bisa kau mandul!”

“Terus. Kuliah sampean bagaimana?” Selidikku. Mataku tegak sesaat, namun tertunduk kembali.

“Kuliah hanya formalitas”

Betul mas. Aku tak menganggapmu pongah. Kau memang sudah berkaki. Kau bisa berlari ke mana kau mau.

“Tapi mereka akan membantuku mengurus kepindahan. Di sana kan banyak kampus swasta. Tabunganku sendiri sebenarnya sudah menipis.” Dia kembali menghisap rokoknya dalam-dalam. Satu kenikmatan yang tak pernah aku rasakan. Dan aku tak pernah menginginkannya pula.

. Belum lama aku mengenal Mas Udin, sebulan, di sebuah acara diskusi filsafat. Aku tak mengira akan secepat ini berpisah. Pada liburan semester yang datang seminggu lagi, dia akan meninggalkanku sendiri dicekam bayangan mahluk jahat itu. Stagnasi. Di kota ini, di kampus ini Mas Udin sendiri merasa disergapnya. Bisa-bisa jadi mandul. Di Jogja mahluk itu tak berdaya, terutama bagi dia dan komunitasnya: sastrawan, seniman, novelis, musisi, dalang, Gus, Kyai, penggiat ilmu.

Beberapa kali dalam seminggu aku perlukan berkunjung ke kosnya. Walau di kampus dia satu tahun di bawahku, tapi umurnya beberapa tahun di atasku. Jalannya jauh lebih panjang dariku, dan terjal. Retorikanya memikat. Jejaring katanya seputar geliat kekaryaan Jogja dan Jakarta merogoh pedalaman dan membetot kesadaranku. Pergumulan keilmuannya di dua kota itu sebelum terdampar di kota ini adalah pencerahan yang sudah lama aku nanti.

Kunjung demi kunjung selalu menyisakan sesal. Dua setengah tahun, setahun lebih lama dari Mas Udin, aku terdampar di kota yang datar. Tak ada kerikil. Tak ada liku. Tak ada duri. Halus. Aku berdiri di ujungnya pun mata akan tertumbuk di ujungnya yang lain. Benar-benar datar. Semuanya. Maka hidupku pun datar, sedatar meja yang membatasi dua wajah yang saling berhadapan ini.

Bedanya denganku, Mas Udin telah berbekal godam-godam dari kota rantauan sebelumnya, sehingga dia bisa meluluh-lantahkan jejalan hidupnya satu setengah tahun di kota ini. Sekali pukul, satu stagnasi mampus. Bahkan di jejak awal langkahnya di kampus ini, dia sudah menggodam. Satu tulisannya dimuat di koran kampus. Sedangkan anak ingusan ini tak berbekal apa, hanya hasrat. Itu pun terkubur di bawah kedataran. Tanpa sadarku, ternyata stagnasi menjeratku dengan caranya sendiri. Konspirasinya sudah berjalan. Mas Udin memberi tahu aku. Dia memintaku berhati-hati. Dua bilah mata tajam saja tak berarti. Maka aku harus membuat godamku sendiri.

“Ya sudah. Kalo memang ada kesempatan, ambil saja. Jangan sia-siakan. Di sana tentunya sampean bisa lebih maju. Bersama kawan-kawan kreatif berkarya untuk dunia. Di sini, sampean hanya jadi bulan-bulanan Srikandi.”

Berat aku julurkan untaian kata-kata itu. Tapi aku harus. Paling tidak sebagai ucapan selamat dan ratapan nasibku sendiri.

Dia terdiam. Aku pun terdiam. Aku coba menerka. Mungkin dia iba meninggalkanku. Di kota ini, di kampus ini, aku satu-satunya kawan yang kerap menguntitnya. Bukan untuk apa, untuk ditampar. Untuk dipukuli. Untuk ditelanjangi. Hingga aku benar-benar bangkit. Tersadar. Dan mampu berdiri. Barulah aku diajari menggodam dan membuat godam sendiri. Sebelum benar-benar bangkit, haruskah si anak ingusan ini ditinggalkan? Akankah dia menjadi santapan kaum stagnasi seperti kawan-kawannya yang lain, sementara batinnya memekik?

Tidak, mas. Aku masih berdaya. Dia sudah bersemayam di semak-semak dadaku jauh sebelum aku terpental ke dunia datar ini. Derupnya masih terdengar di telinga. Sengaunya masih hangat terasa. Geramannya makin bergemuruh. Begitulah mas, sejak kau membangunkannya. Tugasmu paripurna. Dia akan meraum sendirinya menyulut titik-titik berangku. Pergilah. Duniamu menunggumu. Aku punya duniaku sendiri.

***

“Mas, aku pulang dulu. Kabari aku kapan pastinya boyongan”

Aku berjalan dalam sepi. Hampa. Namun pikiran tetap berderu. Sesampainya di kos, aku langsung menuju kamar dan menutup pintu di belakang punggung. Lalu aku rubuhkan tubuh kerempengku di atas kasur kerempeng yang telentang di atas karpet biru. Aku ganjal kepalaku dengan bantal. Aku klopkan jemari tanganku di atas dada. Aku acungkan dua bilah mataku ke langit-langit. Setan-setan yang menggelayut di pojok-pojok atas dinding langsung menghambur. Kini aku bebas menerbangkan anganku tanpa harus menubruk wajah sangar setan-setan itu.

Sesal kian berkelindan dengan amarah. Tak ada dahan untuk berpegang. Tak ada batang untuk bersandar. Tak ada orang yang padanya aku berharap. Cukuplah dia menjadi tempat mengadu. Setelah pergi, selebihnya aku sendiri yang menentukan arah, juga kecepatan. Di dunia yang memperdaya ini, tak bisa selalu berharap dan tak ada yang bisa diharapkan selain diri sendiri.

Tak bisa tidak, aku harus melepas duniaku saat ini, dunia yang diam, mandul, demi dunia yang bergerak, subur, produktif. “Maka, ketika dayamu sudah terbangun, kapan kau akan meraum? Tak ada waktu untuk tetap menunggu. Dan tak ada yang harus kau tunggu. Keraguan hanyalah bayang-bayang. Dia akan leleh oleh kobaran sesal dan amarahmu.”

Pandangku menyayat langit-langit. Pikiranku merayap hingga ke pucuk kehidupan. Tahap demi tahap masa lalu aku gagapi, mencari serpihan-serpihan berharga. Lalu aku kembali turun ke bumi.

Aku menoleh ke arah komputer butut yang dari tadi terus menatapku sendu. Wajahnya yang kusam dan kulitnya yang keriput membuatku segan menatapnya. Hanya sesekali saja bila ada tugas kuliah. Kasihan. Tapi nampaknya kini aku mulai jatuh cinta.

Aku pun menekan tombol on/off. Jemariku memasang kuda-kuda. Pada tombol-tombol tuts inilah aku akan membuat godamku sendiri. Namun hingga komputer menyala dan berkeringat panas, jemariku belum juga mendapat perintah dari otak. Maka aku tunggu. Aku tunggu. Sabar. Nampaknya si otak masih sibuk membariskan kata.

Ah, lama sekali!

Jib, mulailah dari mana sja!”. Sekarang. Aku pergi hari minggu sehari setelah UAS,” sms tiba-tiba mengetuk.

Iya mas. Aku lg mncobanya. Tunggu dia nongol di srt kabar… he..” dia pun berlari ke tuannya menyampaikan jawabanku.

7 Februari 2009 / 12 Safar 1430.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: