bilad’s Blog


Bangsa Akut
April 5, 2009, 12:27 pm
Filed under: Short Article | Tags:

Bangsa Akut

Kalau di banyak media diberitakan, musibah banjir lumpur Situ Gintung di Cirendeu, Tangerang menjadi bahan tontonan akhir pekan oleh warga di sekitar bencana. Maka bencana ini menjadi “berkah” tersendiri bagi para capres dan pemimpin partai untuk menarik simpati para pendukungnya. Bencana tersebut memiliki “nilai jual” tinggi dalam kampanye untuk saling menghujat atau menabur janji.

Musibah Situ Gintung hanya satu dari sekian banyak kesengsaraan dan kenistaan rakyat yang dieksploitasi di depan rakyat itu sendiri demi pencapaian kekuasaan di setiap pemilu, seperti kemiskinan, pengangguran, kebodohan, hingga korupsi. Semua itu seolah dibiarkan tetap ada agar tetap ada tema yang dijajakkan di setiap kampaye pemilu. Karena kalau rakyat makmur dan negara tentram, apa yang akan dijual pada kampanye pemilu berikutnya untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan?

Kembali ke rakyat. Mereka atau kita yang menonton para korban dan lokasi musibah Situ Gintung layaknya sedang menunggu giliran. Bencana semacam itu bisa kapan saja menimpa, entah berapa hari, minggu, bulan atau tahun lagi. Seperti para korban itu yang tak berdaya, mereka atau kita pun kelak akan sama tak berdayanya menghadapi alam yang mengamuk sebagaimana selama ini tak berdaya menghadapi kekerasan struktural oleh para elit politik dan ekonomi.

Kemiskinan membuat rakyat terhimpit kesengsaraan atau ancaman kesengsaraan. Di Jakarta, sebagai misal, yang menjadi korban banjir tahunan adalah para penghuni pemukiman-pemukiman sempit dan kumuh. Di Sidoarjo, puluhan ribu korban luapan lumpur Lapindo masih “ditelantarkan” pengusaha terkait dan juga pemerintah.

Bangsa ini sudah akut. Kesengsaraan dan kenistaan kini tidak lagi menjadi aib. Itu sudah menjadi semacam hajatan. Semua rakyat akan mendapat giliran menyelenggarakannya. Sebagaimana umumnya pada hajatan seperti sunatan, pernikahan sampai konferensi, selalu ada orang-orang kreatif yang menjadikannya ladang untuk mengais rezeki. Dari para pedangan asongan, media masa hingga perusahaan katering atau event organizers.

Maka, kita yang masih merasa “waras”lah yang wajib menyadarkan bangsa ini. Paling tidak dengan memilih para calon pemimpin yang waras pula. Para calon pemimpin yang tidak ikut-ikutan menjajakkan kesengsaraan dan kenistaan rakyat, tapi mereka memiliki visi, misi, program dan strategi yang jelas untuk memimpin kia.

Cecep Zakarias El Bilad

30 Maret 2009 / 3 Rabi’ul Akhir 1430.

published in Surabaya Post (Citizen Journalism),1 April 2009


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: