bilad’s Blog


Pragmatisme Partai-Partai Islam
March 24, 2009, 5:29 am
Filed under: Short Article | Tags:

Pragmatisme Partai-Partai Islam

Banyaknya partai peserta pemilu 2009 nanti, membuat persaingan antarpartai berlangsung ketat. Syarat 20% untuk dapat mengorbitkan pasangan capres-cawapres pada pemilu presiden membuat partai-partai harus bermanuver membentuk poros-poros koalisi.

Yang menarik dari fenomena koalisi ini adalah manuver-manuver itu bersifat pragmatis dan melintasi batas-batas ideologis. Berbeda dari pemilu 1999 yang melahirkan Poros Tengah, yaitu koalisi gabungan partai-partai Islam, peta politik pemilu presiden 2009 berubah. Ideologi dan identitas partai tidak lagi menjadi pertimbangan dalam mencari koalisi. Preferensinya lebih pada prospek perolehan suara dan negosiasi. Bila satu partai memiliki dukungan massa kuat, dan negosiasi menghasilkan keuntungan fifty-fifty, maka partai itu layak untuk diajak berkoalisi. Tak peduli partai itu nasionalis sekuler atau religious nasionalis.

Berbeda dari partai-partai nasionalis sekuler, partai-partai Islam di samping mengusung nasionalisme dan demokrasi, juga memiliki tanggunjawab moral. Sebagai partai-partai yang lahir dari basis Islam, mereka harus menampilkan performa moral dan etika Islam dalam berpolitik. Walaupun kemudian ada dikotomi (sebagian berasaskan Pancasila, dan sebagian lain berasaskan Islam), namun mereka tetap membawa misi agama, yaitu pembebasan manusia dari belenggu dan penindasan, serta membentuk masyarakat negara yang adil, makmur dan diridhai Allah SWT.

Selama ini, janji-janji manis demokrasi pada masa kampanye menguap begitu saja saat partai-partai berkuasa. Korupsi dan perilaku amoral penguasa masih mewarnai perpolitikan bangsa. Oleh karena itu, partai-partai yang mengusung simbol-simbol Islam maupun yang lahir dari salah satu kelompok mainstream Islam menjadi alternatif bagi masyarakat.

Bila partai-partai Islam berkoalisi dengan partai-partai nasionalis, maka itu akan menempatkannya pada posisi dilematis. Mereka harus mengkompromikan visi, misi dan pembagian kekuasaan dengan partai-partai nasionalis sekuler. Sekuler dalam arti partai-partai itu tidak membawa simbol-simbol agama tertentu dalam namun tetap hirau pada kebebasan beragama.

Menghadapi persaingan pemilu 2009, partai-partai Islam seharusnya saling berangkulan. Kesadaran akan persatuan demi kesejahteraan bangsa harus lebih diutamakan dari pada sekedar egoisme kekuasaan sesaat. Kenapa harus bersatu? Karena konsolidasi visi, misi dan strategi untuk pembangunan bangsa akan lebih solid di antara partai-partai yang memiliki dasar ideologis yang sama (Islam). Dengan begitu, agenda menanamkan nilai-nila moral politik Islam yang anti-korupsi dan anti-diskriminasi dalam bingkai negara demokrasi ini akan lebih mudah dijalankan. Kohesi umat pun yang selama ini terpecah-pecah akan semakin solid.

Sebagai pelajaran, ada baiknya kita melihat pengalaman Turki, negara sekuler berpenduduk mayoritas muslim. Setelah partai Islam PKP berkuasa di lembaga kepresidenan dan eksekutif, belenggu kebebasan beragama sedikit demi sedikit mengendor, demokrasi tetap terjaga, dan Turki bangkit dari resesi ekonomi yang parah.

Cecep Zakarias El Bilad

23 Rabi’ul Awal 1430 / 20 Maret 2009.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: