bilad’s Blog


Koalisi Kelabu
March 23, 2009, 11:13 pm
Filed under: Short Article | Tags:

Koalisi Kelabu

Pesimisme sudah merasuki partai-partai peserta pemilu 2009. Belum lagi jadwal pemilu presiden ditentukan, partai-partai telah sibuk membentuk poros-poros koalisi. Partai yang sebelumnya lawan menjadi kawan. Dan kawan menjadi lawan.

Pada Demokrasi Parlementer, koalisi adalah mekanisme yang sah untuk memenangkan atau merebut kekuasaan dalam pemilu. Namun, mekanisme ini ditujukan untuk mengisi lembaga eksekutif yang dipimpin seorang perdana menteri yang kinerjanya dikontrol parlemen. Mekanisme ini menjadi masalah bila diterapkan di Indonesia yang menganut sistem pemerintahan presidensial dimana kekuasaan presiden begitu kuat. Apalagi di Indonesia, posisi presiden berada sejajar dengan parlemen (DPR). Tidak ada lembaga yang mengontrol kinerja presiden karena presiden bertanggungjawab langsung kepada rakyat.

Dalam koalisi selalu ada negosiasi untuk menyatukan visi, misi dan tentunya pembagian kekuasaan bila memenangkan pemilu. Semakin banyak partai yang bergabung semakin besar suara yang akan diperoleh. Semakin banyak pula kepentingan-kepentingan yang harus diakomodasi.

Oleh karena itu, posisi presiden yang terpilih dari partai koalisi akan menjadi lemah. Presiden akan memimpin kabinet yang merupakan delegasi dari partai-partai tersebut sesuai dengan hasil tawar-menawar pada proses pembentukan koalisi. Dengan posisi demikian, sulit diharapkan presiden akan benar-benar melaksanakan amanat rakyat. Sebab sekalipun dia tidak berada di bawah lembaga apapun, namun dia di bawah kontrol partai-partai pengusungnya.

Koalisi semacam itu menggambarkan ambisi kekuasaan partai secara vulgar. Partai-partai yang berkoalisi tentu harus melonggarkan fanatisme dan sebagian nilai-nilai ideologisnya agar terbangun kesepahaman. Sikap pragmatis ini merupakan bentuk inkonsistensi mereka terhadap nilai-nilai ideologinya dalam memperjuangkan nasib rakyat sesuai. Sebagai contoh, bila ada dua partai berkoalisi, yang satu berbasis religious dan yang satu nasionalis sekuler, keduanya harus saling menyesuaikan dengan menyingkirkan perbedaan-perbedaan. Hasilnya, sebagai misal, partai berbasis religious mungkin akan “terpaksa” menjadi religious nasionalis dan yang nasionalis menjadi nasionalis religious.

Selama partai-partai yang ada masih mengedepankan ambisi kekuasaan semacam itu, selama itu pula nasib rakyat akan selalu terbengkalai. Setelah berkuasa, ambisi itu akan tetap ada untuk melanggengkan kekuasaannya.

Pilihan yang mungkin dapat diambil agar kepentingan rakyat tetap menjadi prioritas adalah: pertama, koalisi antarpartai harus bersifat permanen. Bahkan dengan visi dan misi yang sejalan, mereka dapat membentuk partai baru. Dengan begitu, ketika berkuasa mereka akan dengan solid dapat merealisasikan visi dan misi pembangunannya. Kedua, tidak berkoalisi. Dengan visi, misi dan ideologinya, partai tetap konsisten meyakinkan rakyat akan ketulusan perjuangannya. Langkah ini mungkin tidak menjamin kemenangan pada pemilu kali ini. Namun dengan komitmen dan konsistensi, rakyat pada akhirnya akan menaruh kepercayaan kepadanya pada pemilu berikutnya, atau yang berikutnya lagi.

Cecep Zakarias El Bilad


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: