bilad’s Blog


Mencerabut Akar Kemiskinan
March 15, 2009, 11:13 pm
Filed under: Short Article | Tags:

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Mencerabut Akar Kemiskinan

Kemiskinan selalu berkelindan dengan kebodohan. Kemiskinan secara substansial disebabkan oleh kebodohan. Kurangnya pendidikan menyebabkan seseorang sulit mengakses pekerjaan, karena dia tidak memiliki profesionalitas. Dia hanya mengandalkan kekuatan fisik.

Sebaliknya, kemiskinan dapat menyebabkan kebodohan. Pendidikan tidak menjadi prioritas bagi masyarakat yang harus berjuang keras hanya demi mempertahankan hidup. sehingga mahalnya biaya pendidikan di Indonesia menyebabkan mereka atau putra-putri mereka tidak dapat mengenyam pendidikan yang layak.

Mana yang harus lebih dahulu ditangani? Kebodohan harus lebih dahulu diberantas daripada kemiskinan, karena kebodohan adalah akar kemiskinan. Pola pikir yang terlampau sederhana meyebabkan seseorang sulit untuk kreatif dalam mencari atau menciptakan lapangan pekerjaan. Pola pikir yang kreatif hanya diperoleh melalui proses pendidikan yang berkualitas baik formal maupun informal. Ketika tidak ada peluang untuk bekerja di instansi maupun perusahaan, dia akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Paling tidak, dia tidak akan berdiam diri dalam ketiadaan pekerjaan, karena dia berpikir.

Sebaliknya, pemberian bantuan keuangan atau pembukaan lapangan pekerjaan tidak menangani masalah kemiskinan hingga ke akarnya, tapi hanya di permukaan. Walaupun secara ekonomi kehidupan seseorang baik, namun belum tentu secara kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Karena bodoh, orientasi hidupnya hanya untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, bukan mendidik anak-cucu setinggi-tingginya. Pola pikir orang semacam ini sangat sederhana. Ketika dia sudah meninggal, anak-cucunya akan kesulitan menghadapi realitas zaman yang semakin pesat berkembang. Mereka akan kembali jatuh ke jurang kemiskinan seperti orangtuanya. Hal seperti ini banyak terjadi di masyarakat Indonesia khususnya di pedesaan.

Oleh karena itu, menjadi ironis bila pemerintah menyetujui berlakunya RUU BHP. RUU tersebut mempersempit akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Bila RUU itu benar-benar diberlakukan, disadari atau tidak pemerintah secara tidak langsung telah melanggengkan kemiskinan di negeri ini.

Walaupun liberalisasi adalah tuntutan yang tak bisa dihindari, pendidikan seharusnya tidak dijadikan sasaran. Pendidikan adalah modal dasar masyarakat dan generasi muda untuk menghadapi tantangan di tengah kompetisi global antarnegara. Akan menjadi tidak adil bila satu generasi muda memperoleh hak pendidikan layak, sedangkan yang lainnya tidak, hanya karena dilahirkan dan tumbuh di negara yang berbeda.

Cecep Zakarias El Bilad


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: