bilad’s Blog


Menyoal Fatwa Haram Golput dan Rokok
March 3, 2009, 10:35 pm
Filed under: Essay | Tags:

Menyoal Fatwa Haram Golput dan Rokok

Golput (golongan putih) haram. Setiap umat Islam di Indonesia yang telah memiliki hak pilih harus mencoblos dalam pemilu 2009. Bagi yang tidak mencoblos, akan “berdosa”. Orang berdosa akan “masuk neraka”. Begitulah salah satu kesepakatan para ulama dalam ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III di Padang Panjang.

Pertemuan 700 ulama itu juga menelorkan fatwa yang cukup unik, yaitu hukum haram merokok bagi tiga golongan: anak-anak, wanita hamil dan mereka yang merokok di tempat umum. Sedangkan hukum merokok untuk selain ketiga golongan itu adalah makruh, alias lebih baik ditinggalkan namun dilakukan pun tidak mengapa. Dan sebagai tambahan, untuk pengurus MUI juga diharamkan merokok.

Di antara 24 fatwa yang dihasilkan, dua fatwa itulah yang mendapat sorotan beragam dari masyarakat. Di samping karena kedua hal itu menyangkut hak setiap individu, juga karena fatwa itu sendiri yang bermasalah.

Kacamata Hitam-Putih

Fatwa golput dan rokok adalah contoh betapa MUI masih berpandangan fiqihsentris terhadap fenomena sosial dan politik. Sehingga kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan cenderung berupa yurisprudensi hukum-hukum Islam yang rigid. Padahal cara pandang semacam ini hanya patut diterapkan untuk masalah-masalah ibadah dan muamalah. Sementara untuk masalah yang terkait sosial dan politik tidak selayaknya dilihat dari kacamata hitam-putih syariat semisal masalah golput.

Dalam alam demokrasi, menentukan pilihan politik adalah hak setiap warganegara. Menggunakan atau tidak hak pilih tersebut merupakan hak individual yang tidak selayaknya diintervensi oleh pihak manapun, bahkan oleh pemerintah. Karena keputusan untuk tidak menggunakan hak pilih adalah satu bentuk partisipasi politik. Ketika di antara calon tidak ada yang sesuai dengan aspirasinya, maka seorang calon pemilih bebas memilih siapa pun atau tidak memilih siapa pun.

Fatwa golput haram ini sangat tidak mendidik masyarakat, terutama umat Islam. fatwa tersebut bagi sementara kaum awam akan menjadi “ancaman Tuhan”, sehingga menjadikan pemilu hanya sebagai rutinitas yang setiap orang Islam wajib berpartisipasi di dalamnya sebagai bentuk ketaatan spiritual. Jadi mereka memilih bukan atas kesadaran politik untuk menegakkan keadilan dalam bingkai pemilu yang demokratis.

Fatwa ini memang dimaksudkan untuk merespons permasalahan “umat” tentang golput. Namun pengharamannya ini juga menjadi permasalahan baru lagi. Pertama, fatwa ini secara tidak langsung melegitimasi perpecahan umat ke dalam partai-partai politik baik yang berlandaskan Islam atau nasionalis. Tentu saja hal ini bertentangan dengan nilai persatuan Islam yang boarderless, kecuali kualitas iman.

Kedua, pengharaman ini menafikan divergensi pandangan tentang kepemimpinan dalam Islam. para pembuat fatwa beralasan, bahwa pemilu adalah upaya memilih pemimpin yang wajib ada bagi setiap kelompok atau umat. Ada dalil-dalil agama tentunya yang dijadikan rujukan. Sementara bagi yang menolak fatwa itu, ada alasan yang bisa diajukan: pemilu hanyalah prosedur untuk memilih pemimpin politik semata. Padahal yang dimaksud dalam ayat-ayat dan hadits tentang kepemimpinan adalah memilih dan taat kepada pemimpin (khalifah/ulil amri) yang kepemimpinannya komprehensif mencakup politik maupun agama. Ketaatan itu pun berlaku selama pemimpin itu bertindak adil. Namun jika dia bertindak zalim, maka para ulama berbeda pendapat: pemimpin itu harus dimakzulkan, atau tetap ditaati (demi kemaslahatan). Bahkan akan lebih panas lagi perdebatannya bila fatwa golput haram ini dibenturkan dengan pandangan umat Islam yang sedari awal menolak Demokrasi (Pancasila).

Mengenai fatwa rokok, MUI terkesan ambivalen – hukum asal makruh,kemudian haram bila: di tempat umum, bagi anak-anak/pelajar dan wanita hamil. Penggolongan hukum mengenai satu permasalah dan dalam waktu yang bersamaan semacam itu sangat tidak lazim. Padahal kadar madharat rokok tetaplah sama. Yang berbeda adalah tingkat bahaya itu bagi setiap orang. Bila memang demikian, maka orang-orang tertentu lainnya pun akan terancam risiko yang tidak kalah berbahayanya dari wanita hamil dan anak-anak, seperti penderita struk, TBC, hipertensi, dan lain-lain. Maka kriterika yang haram merokok pun seharusnya diperluas tidak hanya bagi wanita hamil, anak-anak dan anggota MUI saja. Jadi, mengapa tidak secara tegas saja diharamkan seperti yang telah dilakukan ulama-ulama Malaysia dan banyak negara muslim lainnya?

Politisasi Agama

Sebagai satu-satunya lembaga formal yang mewadahi ulama, zu’ama, dan cendikiawan Islam di Indonesia, MUI harus mampu membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin Indonesia. Fatwa-fatwanya harus menjadi alternatif dan mewadahi semua kalangan Islam di tanah air.

Dua fatwa haram ini tidak mencitrakan idealisme MUI tersebut. Mengharamkan golput adalah keputusan yang kurang bijaksana. Golput merupakan satu bentuk patisipasi politik yang dihasilkan dari proses ijtihad politik masyarakat. Apapun hasilnya, agama selalu menghargai ijtihad, bahkan menganjurkannya sebelum kita melakukukan tindakan apapun.

Keputusan MUI mengharamkan golput saat menjelang pemilu seperti sekarang, hanya akan menimbulkan kecurigaan adanya tendensi politik. Agama dijadikan sebagai alat legalitas atas kebijakan penguasa/pemerintah. Strategi ini dalam sejarahnya jamak dilakukan oleh pemerintah yang masyarakatnya religious seperti Indonesia ini. Aroma politik juga tercium dari fatwa haram merokok. Fatwa ini menjadi kekuatan moral bagi usaha pemerintah untuk menertibkan para perokok di tempat-tempat umum, karena hingga kini program Kawasan Tanpa Rokok (KTR) belum berjalan optimal.

Sah saja agama dijadikan landasan kebijakan pemerintah. Namun bila sifatnya hanya media atau suplemen, maka hal itu tidak lain hanya mengkerdilkan fungsi agama itu, dan menodai kesuciannya dengan keduniaan yang korup. Dikhawatirkan bila terus berlanjut agama hanya akan menjadi “candu” bagi masyarakat.

Oleh. Cecep Zakarias El Bilad

Malang, 29 Januari 2009.


1 Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: