bilad’s Blog


Demokrasi Teroris
March 3, 2009, 10:23 pm
Filed under: Essay | Tags:

Demokrasi Teroris

Pemilu perlemen baru saja digelar di negara “paling demokratis” di Timur Tengah, Israel. Pemilu yang digelar pada 10 Februari itu berjalan dengan jujur, adil dan demokratis. Persaingan terjadi cukup ketat antarpartai untuk kursi pemerintahan 2009-2012. Ada empat partai dan kandidat dijagokan dalam pemilu kali ini, yaitu Partai Likud (Benjamin Netanyahu), Kadima (Tzipi Livni), Buruh (Ehud Barak), dan Yisreal Beitenu (Avidgor Leiberman).

Menurut hasil sementara, partai berhaluan tengah Kadima sedikit unggul atas Partai Likud. Padahal, sebelumnya hampir semua kalangan memprediksi suara unggul akan diraih oleh partai konservatif Likud. Alasannya, jika Netanyahu menjadi PM, dia berjanji akan menuntaskan pembasmian Hamas. Satu pekerjaan yang gagal dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya dari koalisi Kadima-Buruh di bawah Ehud Olmert dan Menteri Pertahanan Ehud Barak.

Benturan antarbangsa?

Siapapun dari keduanya yang akan menang, keduanya berangkat dari tema kampanye yang sama: basmi Hamas, maka serangan roket berakhir! Tema serupa diusung oleh “pendatang baru” partai Yisrael Beiteinu pimpinan Avidgor Lieberman. Bahkan lebih ekstrim lagi Lieberman adalah seorang rasis yang sangat anti Arab-Palestina. Dia menolak segala bentuk negosiasi dengan musuh-musuh Israel: Hamas, Suriah, Iran, Hizbullah. Ketiga partai berhaluan tengah-kanan ini menyisihkan kubu kiri moderat, Partai Buruh.

Pada pemilu kali ini, peta politik internal Israel mengalami pergeseran signifikan. Keunggulan suara tiga partai, Kadima, Likud dan Yisrael Beiteinu disebabkan oleh persamaan persepsi tentang bagaimana menghadapi Hamas. Partai Kadima yang merupakan partai berhaluan tengah-moderat, kini bersepakat dengan pandangan keras Partai Likud terhadap Hamas. Sikap pragmatisnya ini tidak lain untuk menarik simpati rakyat yang kian radikal terhadap gerakan perlawanan Palestina.

Rakyat Israel telah sangat geram terhadap Hamas. Mereka mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarga mereka, karena perlawanan bersenjata Palestina oleh Hamas di Jalur Gaza semakin gencar. Roket-roket Hamas yang setiap hari ditembakkan telah menelan cukup banyak korban dan kerugian, bahkan jangkauannya semakin jauh ke dalam wilayah Israel. Ditambah lagi Hamas belum bersedia membebaskan serdadu Israel, Gilad Salit, yang disanderanya. Maka tidak heran bila mayoritas suara rakyat Israel pada pemilu kali ini tertumpah pada ketiga partai tersebut.

Hal yang sama terjadi di pihak Palestina. Penderitaan tak kunjung berakhir dirasakan oleh bangsa Palestina. Ribuan nyawa melayang terus bertambah hampir setiap harinya oleh mesin-mesin perang Israel. Belum lagi kerugian harta benda mereka serta sarana-sarana umum lainnya. Berbagai upaya perdamaian tidak pernah membuahkan hasil dan selalu berakhir dengan kekerasan berkelanjutan. Tidak ada harapan bagi mereka kecuali melawan. Maka kehadiran Hamas yang nonkooperatif terhadap Isreal menjadi harapan alternatif.

Hamas semakin mendapat simpati rakyat Palestina. Perkembangannya sangat pesat sejak didirikan pada 1987 sebagai organisasi karitas menjadi organisasi perlawanan dan partai politik. Dan pada pemilu 2006 Hamas secara mengejutkan memenangi suara terbanyak. Ini merupakan mandat rakyat Palestina kepada Hamas untuk memperjuangan nasib mereka sesuai dengan garis perjuangannya. Hamas di Palestina, Partai Likud, Kadima dan Yisreal Beitenu di Israel, merupakan bagian dari wadah-wadah aspirasi bagi rakyat masing-masing. Namun ada makna implisit dari dukungan rakyat masing-masing terhadap keduanya, yaitu ekstrimitas dendam dan permusuhan antara kedua bangsa tersebut, Palestina dan Yahudi Israel. Pemilu telah menjadi media ekspresi dendam dan permusuhan antara kedua bangsa ini. Lebih mengkhawatirkan lagi, ekstrimitas ini terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Di Palestina Hamas sedang naik daun dan di Israel partai-partai berhaluan tengah-kanan ekstrim segera memerintah.

Dengan begitu, konflik berkepanjangan Israel-Palestina ini sebenarnya bukan hanya terjadi antara kelompok atau elit tertentu masing-masing pihak saja, tetapi benar-benar merupakan benturan antardua bangsa, Yahudi Israel dan Arab-Palestina.

Terorisme Demokratis

Demokrasi sejatinya merupakan suatu mekanisme damai dari perbedaan kepentingan individu-individu yang saling berbenturan. Oleh karenanya, demokrasi selalu diidentikkan dengan nilai-nilai ideal seperti persamaan, keterbukaan, kebebasan dan keadilan. Dengan itu semua perdamaian akan tercipta. Masyarakat yang cinta demokrasi berarti masyarakat yang cinta damai.

Maka, jadi ironis bila rakyat Israel hingga kini belum bisa (mau) menciptakan perdamaian dengan rakyat Palestina. Dukungan mereka terhadap partai-partai sayap kanan ekstrim yang sangat berambisi menghancurkan Hamas hingga ke akarnya, bermakna dukungan terhadap berlanjutnya perampasan hak-hak rakyat Palestina akan keadilan, kemerdekaan dan hidup damai.

Bila pemerintahan Israel mendatang benar-benar melaksanakan ambisinya, maka pembantaian terhadap lebih dari 1400 rakyat Jalur Gaza akan terulang kembali, dan mungkin dalam skala yang lebih besar. Ini berarti, proses pemilu yang demokratis itu hanya menjadi mekanisme untuk melegalkan terorisme terhadap rakyat Palestina. Lalu apakah kemudian terorisme tersebut menjadi benar karena dilakukan oleh pemerintahan yang dipilih secara demokratis?

Legitimasi rakyat Palestina terhadap Hamas yang tercermin dalam kemenangannya pada pemilu 2006 dan keberhasilannya bertahan dari gempuran Israel selama 22 hari, hanyalah bentuk pembelaan. Pembelaan terhadap kemerdekaan yang terampas selama lebih dari 60 tahun. Tembakan-tembakan roket Hamas setiap harinya ke wilayah Israel pun, hanya bentuk protes atas blokade Israel yang membunuh secara pelan-pelan rakyat Jalur Gaza.

Rakyat Palestina sudah sangat “berbaik hati” terhadap rakyat Israel. Mereka hanya ingin kemerdekaan dan perdamaian. Mereka hanya menuntut 25% saja tanah yang sejatinya hak milik mereka, untuk hidup sebagai sebuah negara yang meliputi Jalur Gaza, Tepi Barat dan Jerusalem (Timur). Maka, bila dengan demokrasi rakyat Israel bisa berdamai dengan sesamanya, hanya dengan demokrasi pula mereka bisa berdamai dengan rakyat Palestina.

Oleh. Cecep Zakarias El Bilad


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: