bilad’s Blog


MEMBACA CERDAS
March 3, 2009, 10:46 pm
Filed under: Tips | Tags:

MEMBACA CERDAS

Trik Membaca Buku Secara Kritis dan Efektif

oleh. Cecep Zakarias El Bilad

Membaca adalah alat untuk memperoleh pengetahuan. Membaca ini diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan tingkat awal seperti Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Kemampuan ini oleh karenanya dimiliki oleh hampir semua orang. Dengan kemampuan ini orang bisa memperoleh informasi atau pesan dari sebuah tulisan, artikel, buku, novel, iklan, surat, dan lain sebagainya.

Membaca adalah salah satu alat berkomunikasi. Ketika seseorang membaca sebuah tulisan berarti dia secara tidak langsung sedang berkomunikasi dengan penulisnya. Karena membaca adalah alat berkomunikasi, maka diperlukan teknik tertentu agar komunikasi dengan media membaca ini dapat berjalan efektif.

Tulisan ini mencoba menawarkan tips agar membaca tidak terasa membosankan. Ketika membaca kita seolah-olah sedang berkomunikasi langsung face to face dengan penulisnya. Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah membaca buku. Buku merupakan sarana komunikasi dengan khalayak yang menyediakan ruang tak terbatas bagi penulisnya. Maka diperlukan trik agar dapat menangkap informasi atau pesan-pesan penulis buku.

Prinsip dasar dalam membaca buku adalah, kita harus membaca secara kritis. Dengan sikap kritis berarti kita waspada, karena informasi yang tersedia dalam buku yang hendak kita baca ditulis oleh orang yang “tidak kita kenal”. Maka kita harus berdialog, dialog dengan penulisnya. Kita membaca buku tidak untuk menyetujui, mendukung dan mengikuti semua isi buku. Tetapi kita membaca buku untuk menyetujui, mendukung dan mengikuti semua atau sebagian isi buku itu setelah melalui proses dialog yang intens dengan buku itu. Proses dialog ini berjalan dalam pikiran kita selama membaca buku.

Dalam tulisan singkat ini, kami ingin berdialog dengan anda para pembaca yang budiman, mengenai gagasan kami tentang trik membaca buku secara cerdas. Kami tidak mengharapkan anda untuk mengamini semua gagasan kami. Kami hanya melemparkan gagasan, dan anda yang menangkapnya. Anda bisa perlakukan gagasan itu sekehendak anda. Anda bisa menyimpannya dalam saku, anda bisa menelannya mentah-mentah, anda bisa membedahnya. Anda bisa melemparnya balik kepada kami, anda juga bisa melemparkannya ke arah mana saja anda suka. Mari kita berdialog…

Arti Rangkaian Kata

Buku adalah jendela dunia. Peribahasa ini sering kali diucapkan orang untuk memberikan motivasi membaca buku. Buku, apapun jenis dan berapa pun tebalnya tentu saja akan memberi manfaat bagi pembacanya.

Setiap rangkaian kata selalu mengandung informasi. Namun informasi bukan berarti hal baru saja. Informasi itu bisa juga sifatnya mengingatkan apa yang pernah kita ketahui. Misalnya di dalam buku yang sedang kita baca tertulis kalimat “Dasar negara kita adalah Pancasila”. Tentu saja kalimat ini sudah mafhum bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Rangkaian kata ini hendak menyampaikan pesan, bahwa anda sudah mengetahui, bahwa dasar negara Indonesia adalah Pancasila yang terdiri dari lima butir. Apa buktinya kalau rangkaian kata ini hanya mengingatkan kita? Rangkaian kata itu telah berulang kali kita dengar sejak kecil. Walaupun kalimatnya tidak sama persis namun maknanya sama. Sebelum kita membaca rangkaian kata itu, ingatan kita tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia belum mucul. Ingatan itu masih tersimpan rapi dalam memori otak kita. Rangkaian kata itu kemudian membuka kotak memori otak kita. Maka kita pun dapat menangkap makna rangkaian kata itu, dan kita menyetujuinya.

Bila kita telusuri lebih lanjut, satu rangkaian kata “Dasar negara kita adalah Pancasila” bisa membongkar semua apa yang berhubungan dengan rangkaian kata itu, seperti kapan dan di mana/dalam buku apa pertama kali kita membacanya. Kemudian buku apa saja yang membahas tentang tafsir Pancasila yang pernah kita baca, apa isinya, bagaimana implementasinya, pendapat apa dan siapa saja yang menolak Pancasila, dan seterusnya. Tentu saja hal ini berbeda pada setiap orang, tergantung pada pengetahuannya tentang Pancasila.

Di lain pihak, kalimat “Dasar negara kita adalah Pancasila” dalam buku yang sedang kita baca itu, akan menjadi informasi yang sama sekali baru kalau yang membaca adalah seorang anak SD yang baru dikenalkan tentang politik, atau orang asing yang baru mengenal Indonesia. Kalimat pendek itu akan merangsangnya untuk mengetahui lebih lanjut tentang maksudnya. Bagi anak SD tadi, mungkin akan bertanya apa itu dasar negara, apa itu Pancasila, seperti apa bentuk dan warnanya. Sedangkan bagi orang asing tadi, pertanyaan yang muncul bisa berupa, apa itu Pancasila, apa yang membedakannya dengan dasar negara yang digunakan oleh negara-negara lain, dan seterusnya.

Hakikat Membaca

Membaca adalah kemampuan yang wajib dimiliki setiap orang, bila ingin mampu bertahan hidup di zaman sekarang. Orang yang tidak bisa membaca akan tergilas oleh putaran roda zaman. Karena membaca adalah alat komunikasi lintas batas dan waktu.

Ketika kita membaca tulisan pada secarik kertas, misalnya, berarti paling tidak kita sedang berkomunikasi dengan penulisnya dalam rentang waktu yang berbeda. Bila secarik kertas itu kita temukan di jalanan, berarti dengan membacanya kita sedang berkomunikasi lintas batas dan waktu bersama penulisnya. Untaian kata-kata itu telah ditulis oleh orang di masa lampau dan tentu saja di tempat yang berbeda dengan kita di saat yang sama.

Di samping berkomunikasi dengan penulis, ketika kita membaca (buku, artikel, majalah, cerpen) juga hakekatnya kita sedang berkomunikasi dengan diri sendiri, kita mengorek lebih dalam batas pengetahuan kita. Ketika banyak hal baru yang kita dapat dari apa yang kita baca, berarti banyak hal yang belum kita ketahui. Pengetahuan kita masih sangat terbatas tentang hal yang dibahas dalam buku itu. Namun ketika hanya sedikit hal baru yang kita dapatkan dari buku yang sedang kita baca, berarti banyak hal yang perlu kita gali lebih dalam mengenai tema yang dibahas dalam buku itu. Kita perlu wacana-wacana lain dari perspektif yang berbeda mengenai tema tersebut.

Semakin banyak kita membaca, semakin dalam kita mengenal diri sendiri. Kita akan mengetahui apakah wawasan kita pada hakekatnya seluas penulis buku itu atau tidak. Maksudnya, di saat kita memahami dan menyepakati apa yang kita baca, sebenarnya kita telah mengetahuinya lebih dahulu. Masalahnya adalah, kita belum bisa membahasakannya. Pengetahuan tersebut masih tersimpan rapi dalam memori otak kita. Dan sang penulis buku itu lah yang lebih dahulu bisa mengungkapkan pengetahuan yang terpendam itu. Kemudian menginformasikannya kepada kita lewat karyanya itu.

Ketika kita memahami dan menyepakati semua kalimat/pernyataan yang tertulis dalam buku, berarti wawasan kita mengenai itu sebenarnya seluas wawasan si penulis. Sekali lagi, yang membedakan antar kita dengan penulis adalah, siapa yang lebih dulu mampu membahasakan wawasan yang terpendam itu. Maka, semakin banyak kita membaca semakin terbuka kotak memori kita.

Berbeda lagi jika kita tidak sepakat dengan salah satu pernyataan dalam buku yang sedang kita baca. Di satu sisi, ketidaksepakatan ini menunjukkan keterbatasan kita mengenai argumentasi penulis yang mendasari pernyataannya itu. Karena seorang penulis tidak dapat menorehkan seluruh argumentasi yang mendasari pernyataan yang tidak kita sepakati itu. Membaca buku adalah komunikasi satu arah. Ketika kita berbeda pandangan dengan isi tulisan, kita tidak bisa berdiskusi langsung (komunikasi dua arah) dengan penulis. Sehingga gugatan kita mengenai isi tulisan hanya dibahasakan dalam hati dan pikiran, atau catatan-catatan tertulis saja, tanpa ada pembelaan dari penulis.

Di sisi yang lain, hal ini menunjukkan bahwa kita mempunyai argumentasi yang cukup tangguh. Disadari atau tidak, diri kita sebenarnya telah mempunyai perangkat yang cukup untuk mempertanyakan atau menggugat penulis atas pernyataannya itu. Bila kita produktif, maka dari ketidaksepakatan ini akan berbuah sebuah buku yang menjawab, menggugat, atau mengklarifikasi atas apa yang tidak kita sepakati itu.

Jadi, membaca hakekatnya lebih dari hanya sekedar aktivitas menelusuri rangkaian-rangkaian kata yang bermakna. Ini adalah aktivitas multidimensional, seperti yang telah kita bicarakan. Namun selama ini kita tidak menyadarinya.

Hambatan Membaca

Membaca adalah perkara yang mudah. Aktivitas ini bisa dilakukan kapan pun dan di manapun kita berada. Di mana ada tulisan di situ ada membaca. Namun yang menjadi tema diskusi kita bukan membaca dalam arti umum, yaitu aktivitas menelusuri sandi atau rangkaian sandi yang bermakna dengan indera penglihatan untuk mendapatkan pesan/informasi yang terkandung dalam sandi atau rangkaian sandi tersebut, tetapi aktivitas buku.

Membaca buku adalah aktivitas yang mempunyai makna beragam bagi setiap orang. Ada yang menyukainya sebagai hobi, ada yang menganggapnya sebagai rutinitas, dan ada pula yang tidak menyukainya, atau melakukannya karena terpaksa. Semuanya dengan alasan masing-masing. Bagi mereka yang hobi baca pun, masing-masing mempunyai jenis buku favorit yang berbeda-beda, sesuai dengan orientasi dan keahlian mereka. Orang yang terobsesi menjadi seorang pengusaha yang sukses, dia akan suka membaca buku-buku yang berkaitan dengan trik, metode, ataupun modal berbisnis yang baik, dan lain sebagainya. Berbeda lagi dengan seorang ulama, dia akan banyak memanfaatkan waktunya utnuk membuka literature-literatur keagamaan.

Namun demikian, ada beberapa hal yang tidak jarang kita alami yang dapat menghambat efektivitas dalam membaca: Pertama, bukunya membosankan. Tidak jarang kita menemukan buku yang pembahasannya kurang menarik, berputar-putar. Bahasanya sukar dipahami. Atau Analisisnya dangkal. Buku seperti itu akan membosankan untuk dibaca. Bahkan ada juga buku yang kurang mempunyai orisinilitas. Maksudnya buku tersebut di dalamnya hanya ada kutipan-kutipan dan sedikit sekali pikiran atau gagasan asli penulis. Penulis tidak hadir dalam buku tersebut. Seolah hanya nampang namanya saja. Ironisnya, kandang buku seperti ini ditulis oleh seorang yang berpangkat doktor. Karena memang kualitas sebuah tulisan bukan ditentukan oleh pangkat akedemis, tapi oleh kejujuran dan kecerdasan penulis menuangkan idenya. Tidak jarang seorang yang tidak mempunyai academic title namun kualitas tulisannya bagus. Seorang Ibnu Khaldun tidak perlu gelar doktor atau professor untuk menulis karya fenomenalnya Mukqaddimah. Seorang Andrea Hirata tidak perlu gelar sarjana sastra untuk menulis sebuah karya fenomenal Laskar Pelangi.

Kedua, bahasanya susah dipahami. Ada sebagian buku yang banyak sekali menggunakan kata-kata serapan atau kata-kata popular, dan hanya mampu dipahami oleh kalangan tertentu. Pembaca yang masih pemula atau yang tidak menggeluti bidang keilmuan dari buku tersebut sukar untuk memahaminya dengan cepat. Walaupun begitu, hal ini dapat dimaklumi, karena setiap penulis bebas memakai gaya bahasa sesuai dengan kehendaknya dan bidang studi yang dia geluti. Namun sebenarnya, seorang penulis yang sudah ahli, dia pastinya sudah memiliki gaya kepenulisan tersendiri, yang mudah dikonsumsi oleh khalayak.

Untuk buku terjemahan, kualitas terjemahan sering kali menjadi masalah. Banyak sekali buku yang diterjemah dari bahasa asing sukar dipahami oleh para pembaca. Penterjemah sering kali kurang mampu menyelami karakteristik bahasa dan gaya bahasa yang digunakan dalam buku yang hendak diterjemahnya. Sehingga dia tidak berhasil menangkap ide esensial setiap kalimat dalam buku tersebut. Walhasil, dia terjerat dalam literasi pemaknaan, sehingga gagal menghadirkan terjemahan yang mudah dipahami. Bahkan tidak menutup kemungkinan hasil terjemahannya dalam satu atau beberapa segi tidak sesuai dengan maksud penulis.

Ketiga, sibuk. Kalau ketiga hambatan di atas datangnya dari kualitas buku itu sendiri, maka kesibukan adalah hambatan yang datangnya dari diri pembaca sendiri. Semangat untuk membaca buku tinggi, karena tuntutas tugas atau penasaran akan sesuatu, tetapi kesibukan sehari-hari di kantor, kampus, pabrik dan lain sebagainya hanya menyisakan sedikit waktu luang untuk membaca. Ketika semuanya sudah selasai dilakukan maka kondisi tubuh kita sudah kewalahan. Akhirnya hasrat membaca buku selalu dipendam. Buku yang satu belum selesai dibaca dan dipahami, datang lagi tuntutan atau keinginan untuk membaca buku yang lain. Hal ini tidak jarang membuat kita stres.

Keempat, malas. Bagi sebagian orang, membaca buku adalah hal yang sangat menjemukan. Ketika mereka membutuhkan suatu informasi, ilmu, hiburan atau jawaban dari hal yang belum dimengertinya, mereka lebih suka mencarinya melalui media pendengaran misalkan ceramah agama, kuliah, bertanya pada teman atau orang tertentu. Fenomena semacam ini bahkan banyak terjadi di dunia akademik. Sebagai contoh, ketika saya (penulis) duduk di semester lima jurusan Hubungan Internasional, banyak sekali teman-teman satu kelas yang belum memahami teori-teori dasar dalam studi Hubungan Internasional. Padahal buku yang membahas teori-teori tersebut banyak tersedia di perpustakaan jurusan, perpustakaan universitas. Di toko-toko buku juga tersedia. Dari yang membahasnya sederhana hingga yang mendetail; dari yang berbahasa Indonesia hingga yang berbahasa Inggris. Ketika penulis telusuri, ternyata mereka belum pernah membaca secara mendalam satu literatur pun mengenai teori-teori tersebut. Mereka hanya sebatas mendengarnya dari ceramah dosen di kelas.itu pun tidak mereka mengerti dengan baik. Padahal teori-teori dasar itu paling tidak harus sudah dimengerti sejak mereka duduk di semester tiga.

Kelima, pikiran yang tidak stabil. Kondisi pikiran sangat mempengaruhi efektivitas membaca. Membaca buku, lebih-lebih buku yang serius seperti filsafat, politik, sosial dan ekonomi, untuk mendapat hasil yang maksimal, di samping membutuhkan suasana sekitar yang tenang, juga suasana pikiran (dan hati) yang tenang pula. Kita bisa saja membaca buku dalam keadaan lingkungan yang ramai/gaduh, namun penyerapan kita tidak akan sebaik ketika kita membaca buku yang sama dalam kondisi yang tengan, sepi dan nyaman, serta kondisi pikiran yang tenang pula. Sebagus apa pun buku, apabila saat membacanya kondisi pikiran kita sedang kacau maka buku itu akan menjadi tidak menarik.

Langkah-Langkah Antisipasi

Salah satu atau beberapa dari kelima hambatan tersebut adalah yang sering dirasakan oleh setiap orang. Namun tidak menutup kemungkinan ada hal-hal lain yang membuat seseorang “alergi” membaca buku. Lalu apa yang harus dilakukan jika salah satu atau beberapa dari hambatan terjadi pada diri kita?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita menghadapi permasalahan seperti di atas:

Pertama, faktor buku yang membosankan. Jika kita menemukan buku yang semacam itu maka tidak perlu membacanya keseluruhan. Namun buku seperti ini tetap bermanfaat, minimal sebagai referensi barang kali suatu saat ada bebearapa data yang dalam buku tersebut yang kita perlukan. Untuk mencari pemahaman yang mendalam tentang satu tema atau konsep, sebaiknya kita perlu mencari buku lain yang membahas tema atau konsep yang sama.

Apabila kepentingan kita membaca buku adalah untuk mencari data, definisi konsep atau profil seseorang, maka carilah bab atau sub-bab yang membahas informasi yang berkaitan tentang itu. Kita bisa mencarinya dari daftar isi atau bisa juga dari index buku.

Contohnya, ada buku yang berjudul Akuntabilitas: Konsep dan Implementasi. Melihat judulnya saja tentu buku ini mengupas konsep akuntabilitaas secara mendalam. Berbagai definisi akuntabilitas dari para pakar akan ditawarkan, dan tidak ketinggalan pula definisi (minimal kesimpulan) akuntabilitas menurut penulis sendiri. Kita membutuhkan pemahaman yang lebih mengenai akuntabilitas dan definisi dari para pakar mengenai akuntabilitas untuk tulisan yang sedang kita buat atau untuk presentasi yang akan kita tampilkan, atau pula untuk diskusi, bukalah bab-bab awal buku tersebut yang secara khsusus memaparkan akuntabilitas secara konseptual. Setelah kita mendapatkan apa yang kita cari, tutuplah buku tersebut. Bila perlu carilah referensi-referensi lain yang berkaitan dengan itu untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan variatif mengenai konsep akuntabilitas. Pada kesempatan yang lain, kita perlu membuka kembali membuka buku Akuntabilitas: Konsep dan Implementasi tersebut dan membacanya dengan trik yang selanjutnya kita bahas.

Kedua, bahasanya sukar dipahami. Ketika sebuah buku menampilkan topik yang berat dengan bahasa yang serius dan berat pula, maka ada dua kemungkinan. Pertama, buku itu memang untuk konsumsi kalangan tertentu, misalkan buku kedokteran, tata bahasa dan teknik. Buku semacam itu banyak menggunakan diksi dan istilah-istilah khusus dalam bidangnya sehingga tidak semua orang dapat memahaminya. Jadi buku-buku tersebut hanya dapat dipahami oleh mereka yang bergelut dalam bidangnya. Namun kita pun yang tidak menggeluti bidang-bidang itu bisa mengkonsumsinya (walaupun tidak sepaham mereka yang memang concern) asalknya ada orang yang memandu/membimbing kita sesuai dengan bidang-bidang tersebut. Atau terlebih dahulu kita membaca buku-buku lain yang lebih sederhana untuk para pemula untuk memahami kerangka pemikiran atau keilmuan bidang-bidang tersebut.

Kedua, penulis buku masih “hijau”. Seorang penulis pemula biasanya berusaha sebisa mungkin meramu diksi dan istilah-istilah asing dengan paduan teori-teori berat agar bahasanya terkesan tinggi dan sukar dipahami. Pesan yang mungkin ingin disampaikan seolah, penulis adalah orang yang berwawasan luas, dan ahli dalam bidang itu. Bila itu yang terjadi, harap kita maklumi saja. Karena kita juga mungkin pernah atau sedang berada dalam posisi yang sama. Membaca buku semacam ini memang memerlukan kesabaran dan keseriusan yang tinggi. Namun bila kita tidak memiliki banyak waktu untuk bersabar karena ada sesuatu yang kita cari dari tema yang dibahas buku tersebut, maka sebaiknya kita mencari buku lain yang lebih ringan sebagai modal untuk membaca buku tersebut.

Misalnya kita merasa kesulitan memahami sebuah buku Das Capital karya Karl Marx, buku ini memang untuk sebagian orang berat untuk dipahami, apalagi membacanya dari versi terjemahannya. Maka langkah yang bisa diambil, harus terlebih dahulu membaca buku-buku yang mengulas pemikiran Karl Marx secara umum dan ringkas. Ini adalah sebagai pintu untuk memasuki alam pikiran Marx. Ibaratkan ada dua orang yang tinggal di sebuah pulau terpencil di Indonesia. Keduanya diperitahkan pergi ke Semarang. Keduanya sama-sama belum pernah pergi ke Semarang. Nama Nama Semarang pun baru mereka kenal saat itu juga. keduanya diberikan jumlah uang yang sama untuk ongkos, dan diperintahkan untuk berangkat pada waktu yang bersamaan. Si A sebelum berangkat, dia mencari tahu terlebih dahulu rute menuju Semarang dari berbagai sumber, terutama dari mereka yang pernah atau sering pulang-pergi ke Semarang. Berbeda dengan si A, setelah mendapat tugas belajar ke Amerika, si B tidak melakukan langkah-langkah yang dilakukan si A. dia hanya menunggu waktu pemberangkatan saja. Maka bisa dipastikan perjalan si B tidak akan semudah dan secepat perjalanan yang dilakukan oleh si A.

Ketika kita hendak memulai menyelami buku-buku yang membahas bidang keilmuan yang belum kita kenal dengan baik, maka terlebih dahulu kita membaca buku-buku pengantar memasuki bidang keilmuan itu. Bila kita hendak melahap buku-buku filsafat, maka terlebih dahulu kita cicipi buku Pengantar Filsafat. Bila kita hendak bercumbu dengan buku-buku politik, maka kita terlebih dahulu kita mengenal buku Pengantar (Ilmu) Politik. Karena dalam buku-buku pengantar tersebut, pembaca dikenalkan sejarah, kerangka dasar keilmuan beserta konsep-konsep dasarnya. Hal ini sangat penting untuk mengurangi kadar kesulitan memahami bidang keilmuan tersebut. Di samping itu, juga untuk mencegah tibulnya salah pemahaman konsep atau teori sehingga tidak menghambat penjelajahan keilmuan tersebut.

Metode semacam ini bisa kita terapkan juga ketika kita menghadapi buku-buku yang membosankan baik karena terlalu tinggi bahasanya atau karena kualitas terjemahan yang rendah. Dan tentu saja diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk mempraktekkannya.

Ketiga, sibuk. Kesibukan bukan halangan untuk membaca. Prinsip “tiada hari tanpa membaca” tetap bisa dipraktekkan. Cuma mungkin kadarnya saja yang berkurang. Maka harus disiasati. Kemana pun dan dimana pun kita, buku harus tetap menyertai. Kita bisa meletakkannya di tas, di saku (kalau cukup), atau di tempat lain yang mudah dijangkau. Bila perlu kita menjinjingnya.

Buku harus menjadi teman setia di kala kondisi apa pun. Ketika aktivitas tidak menyisakan waktu luang, maka membaca dapat dilakukan di sela-sela aktivitas. Dengan hasrat yang selalu membara untuk mengetahui, memahami atau mengungkap sesuatu yang baru, kita harus menjadi diri sendiri, kita acuhkan saja perasaan minder, bila ada, atau malu menenteng buku kemana-mana. Terkadang juga orang-orang di sekitar kita iseng menyindir, mengejek, atau mentertawakan saat kita menenteng buku atau membacanya di saat orang banyak sedang bercanda ria dan lain sebagainya.

Bila kita terus menuruti perasaan-perasaan semu itu, maka kita akan selalu kalah oleh lingkungan. Padahal kita mempunyai ambisi, tugas, atau tuntuntan untuk mendapatkan sesuatu dari buku. Oleh karenanya, kita harus selalu sadar dengan tuntutan tersebut, sementara kita tidak punya banyak waktu. Deadline “pengumpulan tugas” sudah di ambang pintu. Oleh karenanya, kita harus cerdas, mampu mensiasati lingkungan. Tanpa harus mengikis hubungan sosial, kita acuhkan semua “godaan” yang menghambat. Bila ada yang merasa heran atau risih dengan pola baca kita, kita perlu menjelaskan kepada merekaakan kondisi sebenarnya, bahwa kita sedang “haus membaca.”

Bila keinginan untuk membaca terus dipupuk, sementara kesibukan menjerat kita, maka akan muncul dorongan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk itu sesegera mungkin. Agar kita akan mempunyai sisa waktu yang banyak untuk membaca buku.

Keempat, malas. Kecenderungan yang satu ini pasti ada pada diri setiap orang. Sebelum kita membahasnya, kita perlu mendiskusikan terlebih dahulu tentang pasangan sekaligus “lawan abadi”nya, yaitu rajin.

Rajin berakar dari suka (kesukaan). Ketika kita menyukai suatu aktivitas, misalnya bermain tenis, kita akan mengerjakannya. Kita akan menyingkirkan atau mengesampingkan segala hal yang menghalangi kita dari melakukan aktivitas bermain tenis. Bila perlu kita juga akan bermain sesering mungkin dan rutin. Dalam tahap inilah predikat “rajin bermain tennis” pantas kita sandang. Tidak jarang pula ketika tingkat kesukaannya sangat tinggi terhadap permainan tenis, aktivitas-aktivitas lain yang lebih penting atau sifatnya tanggungjawab akan terganggu. Maka dalam hal ini kita harus pandai mengaturnya. Sehingga kita tidak tertinggal dalam hal lain yang mungkin lebih bermanfaat bagi kita.

Kesukaan terhadap aktivitas, adalah hal yang alamiah bagi kita, namun kita tetap terus waspada. Bila aktivitas itu dapat berakibat banyak hal negatif bagi diri kita, maka sebaiknya kita kurangi kadarnya atau meninggakannya. Jangan biarkan diri kita terjebak dalam aktivitas yang kosong tidak bermakna. Namun bila aktivitas itu sifatnya hanya hobi atau hiburan semata, maka kita jangan sampai terlena. Jangan sampai banyak waktu, energi atau pikiran habis hanya untuk menghibur diri sehingga hal-hal lain yang lebih urgen menjadi terlantar. Sebaliknya, ketika aktivitas itu memberikan banyak hal positif baik untuk sekarang ataupun masa depan, maka kita harus mengoptimalkan pelaksanaannya.

Jadi, untuk menjadi rajin melakukan sesuatu kita harus menyukai sesuatu itu lebih dahulu. Tumbuhkanlah dahulu rasa suka, rajin akan menyusul kemudian.

Untuk menumbuhkan rasa suka terhadap sesuatu, maka kita harus mencari keistimewaan sesuatu itu dan juga manfaatnya bagi diri kita. Setelah kita mengetahui keistimewaan dan manfaatnya, renungkanlah, bahwa kita membutuhkan sesuatu itu untuk kemajuan pekerjaan, kuliah, keluarga, bisnis kita, dan lain sebagainya. Kalau sesuatu itu adalah sebuah aktivitas, maka segeralah lakukan aktifitas tersebut. Lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Kita harus mampu melakukannya secara professional.

Sebaliknya, ketika kita tidak menyukai suatu pekerjaan, kita akan malas melakukannya. Apalagi untuk melakukukannya secara rutin. Sebagaimana rajin yang berpangkal dari suka, malas juga berpangkal dari sesuatu, yakni tidak suka. Selama kita belum menyukai aktivitas membaca, kita tidak akan pernah rajin untuk melakukannya. Membaca dilakukan hanya karena terpaksa, misalnya ada tugas kuliah. Bukan membaca sebagai sebuah kecintaan atau kerinduan. Bukan sebagai kebutuhan primer setingkat makan dan minum, yang merupakan syarat kehidupan.

Banyak faktor yang menjadi akar ketidaksukaan pada membaca. Masing-masing orang mempunyai alasan, selain sibuk, karena sibuk belum tentu malas membaca (sebagaimana pembahasan sebelumnya). Terkadang ketidaksukaan membaca yang akhirnya menjadi malas membaca ini disebabkan karena sudah ada aktivitas lain yang sudah kita gandrungi, misalnya menonton televisi, bermain musik dan lain-lain.

Namun demikian, apapun alasannya ketidaksukaan ini berakar dari satu hal, yakni ketidaktahuan urgensi membaca (buku) bagi peningkatan kualitas pemikiran yang berimbas pada perubahan positif bagi kehidupan kita baik sekarang maupun di masa depan. Jadi walaupun kita sudah memiliki hobi bermain musik, misalnya, atau apapun, namun kita memahami dengan baik urgensi membaca tersebut, kita akan tetap bisa berteman baik dengan buku. Apapun dan berapa banyak pun hobi yang kita punyai kita akan menempatkan membaca buku satu tingkat dengan mereka, yakni sebagai hobi. Bahkan akan lebih baik bila menempatkan aktivitas membaca buku sebagai pekerjaan sebagaiman pekerjaan kita sebagai pegawai, wirausahawan, atlet, artis, yang merupakan penopang hidup diri dan keluarga.

Kelima, pikiran yang tidak stabil. Ketika membaca buku, hakekatnya kita sedang berdialog dengan penulisnya. Penulis dengan serius menerangkan kepada kita gagasan-gagasannya. Di samping itu, penulis pun berusaha agar penjelasannya bisa kita pahami dengan mudah. Dia akan memilih kata, istilah, ungkapan hingga alur yang tepat sesuai dengan tema bukunya. Maka kita pun harus serius pula menyimaknya agar gagasan-gagasannya bisa kita cerna dengan baik. Dialog akan tidak menarik jika kita tidak memfokuskan pikiran kita pada permasalahan. Oleh karenanya, pikiran kita harus tenang.

Kita tidak perlu memaksakan diri membaca ketika pikiran tidak tenang karena itu bisa memungkinkan kita menjadi stress, atau paling tidak isi buku tidak akan terserap maksimal. Bila seorang mahasiswa, biasanya hal ini terjadi saat ada hal yang menuntut kita untuk membaca buku tertentu misalnya tugas yang terlalu banyak atau deadline skripsi, sedangkan dia sedang menghadapi banyak permasalahan baik pribadi maupun organisasi.

Carilah ketenangan lebih dahulu. Ini adalah satu-satunya cara paling efektif agar membaca kita menjadi maksimal. Mencari ketenangan tidak harus berlama-lama atau sampai semua permasalahan selesai. Kita bisa melakukannya dengan berolah raga sejenak, pergi ke tempat yang kita sukai, tidur, minum atau makan sesuatu yang kita sukai, menonton televisi, mendengarkan musik, dan lain sebagainya. Apapun bisa kita lakukan selama itu bisa menghilangkan/melupakan sejenak permasalahan yang menjadi beban pikiran.

Ketika pikiran sudah mulai membaik, maka ambillah buku yang hendak kita baca. Fokuskan pikiran dan mulailah berdialog dengan penulis. Selama dialog berjalan, selama itu pula pintu otak kita tertutup dari segala permasalahan yang selama ini menjadi beban. Dia akan menunggu di luar menunggu kita selesai membaca. Selanjutnya, terserah anda….

Membaca sebagai Keterampilan

Sampailah kita pada bagian akhir pembahasan tentang kiat membaca ini. Di atas kita telah mencoba berkenalan dengan membaca sebagai suatu aktivitas. Tentu yang dimaksud adalah membaca buku. Ibarat sebuah kendaraan, sekarang saatnya kita membahas bagaimana cara mengoperasikannya dengan baik agar perjalanan kita nyaman. Kita bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu.

Menulis dan membaca adalah aktivitas yang hampir setiap orang bisa melakukan. Setiap orang yang berpendidikan akan bisa menulis. Dia bisa menulis apa saja yang dia inginkan, sebuah kata, kalimat atau paragraf. Namun dari sekian juta atau miliyar orang yang bisa menulis hanya sedikit saja yang mampu melahirkan karya, baik artikel, opini, esai, puisi, cerpen, novel, buku, dan lain-lain.

Yang sidikit inilah yang terampil. Mereka memiliki sesuatu kemampuan dalam menulis yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya. Mereka menjadikan kemampuan menulis ini sebagai dasar/alat untuk mengolah potensi diri mereka yang berupa ide dan pengetahuan, sehingga melahirkan hasil perpaduan keduanya (tulisan).

Membaca pun dapat kita jadikan alat yang berfungsi sama, untuk mengolah potensi diri yang berupa ide dan pengetahuan yang kita miliki. Hasilnya adalah berupa kekuatan, yang membentuk cara pandang, karakter, kepribadian dan ambisi kita. Ibarat makanan, tentu kita tidak akan memakannya begitu saja apa adanya. kita harus memprosesnya dahulu agar makanan itu enak rasanya, tidak membahayakan kesehatan, dan kandungan gizinya memberikan manfaat bagi tubuh kita.

Proses pengolahan makanan itu tentunya ditentukan oleh selera dan pengetahuan kita (termasuk di dalamnya pengalaman) tentang tata cara memasak. Misalnya adalah seekor ayam. Binatang ini adalah makanan bagi kita. Bisa saja kita memakannya langsung hidup-hidup setelah ditangkap. Tapi tentunya tidak mungkin, karena di samping tidak sesuai dengan selera makan juga tidak baik untuk kesehatan kita. Maka dari itu untuk menjadi makanan yang enak, baik dan aman ayam itu kita olah: disembelih, dicuci, dipotong-potong, dibumbui lalu dimasak. Proses pengolahan ini berbeda-beda sesuai dengan jenis makanan apa yang hendak kita buat yang bahan utamanya adalah ayam.

Dengan begitu, kita berkuasa atas ayam itu. Kita bisa mengolahnya menjadi makanan apa pun kita mau. Kita lah yang menentukan kadar manfaat ayam itu bagi diri kita. Ayam itu akan menjadi tambahan energi dan kesehatan bagi kita, atau malah menjadi racun.

Proses membaca adalah sama dengan proses memasak. Kita memperlakukan buku adalah sama dengan memperlakukan ayam itu. Buku adalah makanan bagi kita. Buku akan menjadi nutrisi bagi otak atau racun adalah tergantung bagaimana kita membacanya. Bila kita membacanya mentah-mentah setelah dibeli, maka kita tidak tahu kadar manfaat dan madhorot buku itu bagi kita. Persis seperti memakan ayam mentah tadi. Kita tidak akan merasakan kenikmatan dalam membaca. Bila pun akan merasa nikmat, maka kenikmatan itu adalah semu. Kita akan terbuai oleh permainan kata-kata dalam buku itu. Cara pandang, karakter, kepribadian atau tingkah laku kita akan dikontrol oleh buku itu. Hal ini harus kita hindari. Karena kita akan kehilangan kontrol atas diri kita sendiri. Kita akan terombang ambing oleh buku-buku yang kita baca.

Kita perlu tatacara dalam membaca buku. Tatacara ini dimaksudkan agar kita dapat menyerap kadar manfaat buku itu dengan optimal. Kita tetap dapat mengendalikan diri kita untuk tidak terjatuh dalam “buaian” kata-kata buku yang akan kita baca.

Ada dua pilihan dalam membaca buku: tebang pilih atau membacanya keseluruhan. Tebang pilih maksudnya kita hanya membaca bagian-bagian tertentu dalam buku itu. Bagian-bagian itu bisa berupa bab, sub-bab, halaman, paragraph maupun kalimat tertentu. Kita hanya mengambil bagian itu untuk keperluan tertentu, seperti memperkuat ide atau gagasan, mengingat sesuatu, atau menambah kutipan dalam tulisan kita.

Membaca keseluruhan berarti membaca semua bagian buku itu dari awal sampai akhir. Kita benar-benar menyelami isi buku itu untuk melihat panorama yang ditawarkan oleh penulis. Ini biasanya dilakukan ketika kita hendak memahamai pemikiran penulis secara utuh. Atau mungkin hendak memahami karakter penulisan si penulis dan kepribadiannya sekaligus. Sehingga ketika selesai membaca buku itu kita akan menemukan kesegaran baru, wawasan baru, atau kekuatan baru dalam pemikiran kita.

Prinsip utama dalam membaca buku adalah berdialog. Buku yang ada di hadapan kita yang kita beli atau pinjam dari orang lain bukan untuk kita baca dan ikuti begitu saja, tapi untuk kita dialogkan. Kita akan berdialog empat mata dengan penulisnya. Buku itu adalah sarana penulis untuk menyampaikan gagasannya kepada kita pembaca. Tentu penulis telah berusaha semaksimal mungkin merangkai kata-kata dalam buku itu agar gagasan-gagasannya itu bisa dipahami oleh pembaca. Tidak hanya itu penulis juga menghendaki pembaca untuk mengamini gagasannya itu. Dalam kadar tertentu penulis menginginkan kita untuk mengikuti atau bahkan melakukan apa yang dia kehendaki dalam bukunya itu.

Seorang Habiburrahman El Shirazy dalam Ayat-Ayat Cintanya mengajak pembaca untuk menikmati panorama yang tercipta dalam pikirannya mengenai suatu kisah percintaan antara Fahri, Aisyah dan Maria. Melalui karakter, kepribadian dan dialog tokoh-tokoh yang terangkai dalam alur cerita novel itu El Shirazy menyampaikan pesan-pesan spiritualnya kepada pembaca. Dengan pengolahan ceritanya dia ingin pembaca menjiwai tokoh-tokohnya sehingga pesan-pesan tersebut tersampaikan kepada pembaca dan menjadi bagian dari nilai kehidupan pembaca.

Samuel P. Huntington dengan bukunya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order menawarkan gagasannya tentang masa depan dunia. Dalam bukunya itu, Huntington meramalkan bahwa peta politik dunia akan diwarnai dengan konflik dan peperangan antarperadaban. Konflik dan perang di masa mendatang akan cenderung diakibatkan oleh perbedaan identitas budaya, nilai dan agama dalam kotak-kotak peradaban. Ide utama yang hendak disampaikan Huntington dalam buku itu adalah akan terjadi benturan antara dua peradaban besar saat ini yaitu Barat dan Islam sebagai representasi dunia Timur.

Apakah sorang Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta itu gambaran Islam dalam memdang cinta dan pernikahan? Apakah ramalan Samuel P. Huntington tentang benturan antara Islam dan Barat itu benar-benar akan terjadi? Masih banyak pertanyaan yang bisa dimunculkan mengenai contoh kedua buku itu. Pertanyaan-pertanyaan akan muncul ketika kita benar-benar berdialog dengan penulis. Namun jika kita melahapnya begitu saja tanpa ada rasa “curiga”, tentu kita akan, misalnya, percaya dan yakin begitu saja tentang benturan Barat dan Islam itu. Kita tidak tahu bahwa penulis adalah seorang manusia yang tidak lepas dari kecenderungan maupun kepentingan tertentu. Kita juga tahu bahwa setiap orang bisa lupa dan keliru.

Agar dialog dengan penulis berjalan imbang, tentu kita harus mempersiapkan diri sebelum memulai dialog (membaca). Kita harus pastikan bahwa kita mempunyai bahan yang cukup mengenai tema yang akan didialogkan. Pastikan bahwa kita sudah memiliki cara pandang kita sendiri mengenai tema yang akan didialogkan. Akan lebih baik lagi jika kita juga mengetahui pandangan ilmuan/penulis lain mengenai tema itu. Setelah itu, barulah kita duduk berhadapan dengan penulis.

Sebelum membuka buku yang hendak dibaca, kita harus pahami dahulu judulnya. Kita gali wawasan kita mengenai judul tersebut. Misalnya, pertama, Ayat-Ayat Cinta. Ini adalah novel Islami. Dari julul itu penulis sepertinya hendak membicarakan cinta dalam konteks Islam. Sampul novel bergambarkan sepasang mata wanita bercadar putih di awing-awang, dengan matahari yang menguning. Kemungkinan besar konsep cinta yang akan diangkat adalah cinta antarmanusia, tepatnya cinta lawan jenis. Islam memang tidak melarang umatnya untuk mencintai lawan jenis. Namun Islam kemudian memberikan aturan-aturan dalam mengolah perasaan cinta itu. Dalam al Quran memang ada ayat-ayat yang berbicara mengenai cinta dalam artian ini. Begitu juga dalam hadits-hadits Nabi SAW.

Dengan kerangka pikir ini, kemudian kita mencari ayat-ayat cinta itu dalam al Quran dan hadits. Tidak hanya itu, kita perlu juga memahami maknanya. Caranya adalah dengan menggali pendapat-pendapat para mufassir (ahli tafsir) dan para ulama lainnya mengenai maksud ayat-ayat itu.karena setiap ulama mempunyai pandangan berbeda-beda dalam mengartikan ayat maupun hadits. Tentu dalam memandang cinta dan pengolahannya juga setiap ulama berbeda-beda pandangan. Akan baik sekali kita mengetahui dan memahami pendapat-pendapat itu sebelum kita membaca novel itu.

Bahan-bahan itu paling tidak sudah kita fahami dalam pikiran. Di samping itu, kita juga perlu memiliki pandangan sendiri mengenai cinta dalam perspektif Islam. Bila perlu kita mencatat materi-materi yang sudah kita siapkan itu. Kemudian barulah kita membuka lembar demi lembar novel Ayat-Ayat Cinta.

Dengan langkah-langkah semacam itu, kita akan dapat menyimpulkan apakah konsep cinta yang ditawarkan El Shirazy sesuai dengan yang kita pahami sebelumnya. Kita pun bisa mengetahui hal-hal apa saja yang baru bagi kita dari novel itu. Apakah juga sesuai dengan pandangan para ulama dahulu maupun sekarang. Kita bisa saja menerima konsep cinta novel itu bila memang kita anggap baik. Kita juga perlu mengkritik atau menawarkan gagasan lain bila ada celah dalam konsep tersebut. Dengan demikian, kita tidak hanya akan menjadi pendengar yang baik kisah cinta yang diutarakan El Shirazy, kita juga menjadi pendengar yang kritis. Itulah dialog.

Kedua, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. Judul buku ini langsung memberikan gambaran kepada kita tentang isinya. Sebuah judul yang terdengar berat dan mantap. Dalam benak kita akan langsung terbayang bagaimana terjadi benturan, peperangan antar peradaban-peradaban. Bagaimana dunia akan kacau dengan kondisi seperti itu. Peradaban apa saja yang akan saling berbenturan, Islam, Barat, atau apa? Betapa menakutkannya bila itu benar-benar terjadi sementara banyak negara yang memiliki senjata nuklir. Apakah benturan antarperadaban itu adalah kiamat?

Ketakutan” semacam itu wajar. Namun apakah benar akan terjadi benturan/perang antarperadaban? Bagaimana prosesnya? Pergolakan pikiran semacam ini perlu sebelum kita mulai membuka lembar-lembar buku itu. Kita tidak boleh lupa, bahwa kita akan berdialog dengan buku itu. Bila kita tidak mempersiapkan diri sebelumnya, kita akan dipermalukan oleh lawan dialog kita. Kita akan terpengaruh begitu saja oleh lawan dialog kita. Kita akan dikendalikan oleh pikiran-pikirannya. Maka dari itu kita harus memiliki cara pandang sendiri mengenai tema yang akan didiskusikan. Cara padang kita harus memiliki argumentasi yang kuat, didukung oleh teori-teori yang terkait.

Pearadaban itu, menurut pemahaman saya, adalah suatu entitas kultural terbesar manusia. Dalam sebuah peradaban dapat terdiri atas banyak suku, kepercayaan, sistem politik, ekonomi, pengetahuan, teknologi dan adat istiadat. Apakah konsep peradaban ini sama seperti yang dimaksud Huntington dalam bukunya itu?

Ada banyak peradaban yang pernah muncul dalam sejarah dunia. Namun peradaban besar yang masih eksis hingga kini hanya Barat dan Islam. Di antara keduanya yang unggul saat ini adalah Barat. Sedangkan peradaban-peradaban lain tidak begitu menonjol keberadaannya.

Dua peradaban besar ini memang pernah saling berbenturan yang puncaknya adalah terjadinya Perang Salib ratusan tahun lalu. Namun saat itu bukan antara Islam dengan Barat, tetapi Islam dengan Kristen. Ketika itu pihak Kristen berpusat di wilayah barat bumi, Eropa. Sedangkan sekarang peradaban Barat di Eropa tidak dilandaskan pada ajaran agama tertentu (Kristen), tetapi sekuler. Yang ada hanyalah mayoritas penduduk di Barat beragama Kristen.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apa batasan kedua peradaban ini? Di mana letak georgafis Peradaban Barat itu? Kalau memang letaknya adalah di Eropa, maka Eropa terbagi ke dalam beberapa wilayah: Eropa Barat, Eropa Tengah, Eropaa Utara dan Eropa Timur. Wilayah-wilayah ini pernah saling berbenturan. Bukan benturan karena faktor peradaban, tetapi faktor ideologi (Perang Dingin, antara Demokrasi dan Komunisme). Walaupun Perang Dingin telah berakhir sejak 1990, namun kini wilayah Eropa masih terkotak-kotak ke dalam banyak negara dan persekutuan yang saling bersaing. Misalnya Rusia dan Uni Eropa bersaing dalam banyak hal seperti ekonomi, politik maupun persenjataan. Padahal secara geografis mereka terletak di benua yang sama, Eropa. Secara religious pun mereka sama-sama penganut Kristen. Hanya saja mereka berbeda secara aliran.

Apabila menelusuri dinamika politik internasional, tidak ada tanda-tanda kesepakatan di antara mereka untuk bersatu dalam satu identitas peradaban sebagai Barat untuk menghadapi peradaban lain, misalnya, Islam. Ketika Amerika Serikat yang diidentikkan sebagai bagian dari Barat bermusuhan dengan Iran yang Islam, maka Rusia dan beberapa negara Uni Eropa tetap berhubungan baik dengan Iran. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, Rusia cenderung berpihak pada Iran ketika AS dan negara-negara Eropa lainnya berseberangan dengan Iran. Bahkan, antara AS dengan Rusia pun terjadi persaingan. Uni Eropa dengan AS juga dalam kadar yang lebih rendah terjadi persaingan.

Kompleksitas semacam itu juga terjadi di Peradaban Islam. Ketika Islam sebagai sebuah peradaban yang terpusat pada satu identitas politik di Madinah pada zaman Nabi Muhammad SAW dan Khulafarurrasyiddin memang menjadi peradaban yang solid. Begitu juga ketika kepemimpinan politik dipegang oleh dinasti-dinasti besar Umayyah, Abasiyah, Fathimiyah dan Untsmaniyah.

Kini entitas politik besar semacam itu tidak dimiliki oleh umat Islam. Mereka kini terpecah-pecah ke dalam entitas-entitas kecil negara. Antarnegara-negara berpenduduk mayoritas Islam ini sering terjadi perang: Perang Teluk I dan II, Perang Yaman, Perang Teluk Parsi, sampai konfrontasi Indonesia-Malaysia. Di antara negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim ini pun tidak satu pun yang secara konsisten menerapkan aturan-aturan Islam dalam kehidupan politik dan ekonominya. Tidak ada tanda-tanda kesepakatan mereka untuk bersatu atas nama Islam untuk menghadapi Barat. Barat yang mana? Negara-negara Islam itu sendiri mempunyai ketergantungan yang tinggi pada negara-negara Eropa baik secara ekonomi, militer maupun ilmu pengetahuan dan teknologi.

Secara budaya, terjadi akulturasi antarkedua peradaban besar ini. Umat Islam sendiri banyak mengadopsi ilmu pengetahuan dan budaya Barat dalam kehidupan mereka. Dalam hal berpakaian, gaya hidup, pendidikan, teknologi, bisnis, umat Islam berkiblat ke Barat. Walaupun memang kemudian ada proses Islamisasi semuanya itu. Kedua peradaban besar ini hidup berdampingan secara damai. Dan masih banyak lagi kompleksitas di dalam masing-masing peradaban besar ini yang menegasikan kemungkinan adanya benturan besar secara fisik (perang).

Ketika identitas peradaban telah tertimbun oleh identitas politik (negara), dan terjadi akulturasi budaya, di mana celah yang memungkinkan munculnya benturan antarperadaban? Sementara itu pastinya peradaban-peradaban yang lain seperti Jepang, Konfusian, Hindu, dan lainnya telah tertimbun lebih dalam lagi.

Kesimpulannya adalah, benturan antarperadaban tidak akan pernah terjadi lagi.

Setelah kita mempunyai asumsi awal tentang benturan antarperadaan, barulah kita membuka buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order itu. Kita sudah memiliki modal cukup kuat untuk berdialog dengan buku itu.

Bagian yang harus pertama kali dibaca adalah Pendaluan. Karena dalam bab Pendahuluan paling tidak terdapat latar belakang dan intisari buku. Dengan membaca Pendahuluan, kita akan mulai memahami ide/gagasan penulis. Di situ kita mulai mencocokkan gagasan awal kita tentang tema buku dengan gagasan penulis. Di situ juga memungkinkan bagi kita untuk mencari titik-titik mana saja untuk diperdebatkan dengan penulis.

Setelah membaca pendahuluan, barulah kita membaca bab-bab berikutnya. Kita dapat membaca bab-bab dalam buku itu secara acak, tidak harus urut dari bab awal ke bab berikutnya. Kita bisa membacanya dari bab yang menurut kita paling penting. Kita juga perlu memberikan tanda pada bagian-bagian yang menurut kita penting misalnya dengan pensil atau stabilo.

Demikianlah proses membaca buku secara kritis dan efektif. Akan lebih baik lagi bila setelah selesai membaca seluruh buku kita membuat catatan khusus mengenai isi buku itu. Catatan itu berisi rangkuman isi buku dan hasil dialog kita dengan buku itu. Dengan catatan awal yang kita buat sebelum membaca buku itu, kita dapat menyimpulkan apakah gagasan awal kita itu sama dengan gagasan penulis. Apakah konsep peradaban kita di awal sama dengan konsep peradaban yang dimaksud Huntington. Apakah uraian Huntington tentang benturan antarperadaban cukup argumentative dihadapkan dengan kesimpulan awal kita bahwa benturan peradaban tidak pernah terjadi lagi. Apakah pandangan kita mengenai benturan antarperadaban masih tetap sama antara sebelum membaca buku itu dan sesudahnya.

Dengan metode membaca buku seperti ini, kita akan menjadi diri sendiri walaupun membaca bermacam-macam buku. Kita akan menyerap substansi buku-buku yang kita untuk perkembangan intelektualitas kita.

Malang, 6 Desember 2008-18 Januari 2009

8 Zulhijah 1429 -21 Muharrom 1430


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: