bilad’s Blog


Masa Depan Suram Israel
March 2, 2009, 10:49 pm
Filed under: Essay | Tags:

Masa Depan Suram Israel


Agresi Israel ke Gaza telah berakhir. Para serdadu dan mesin-mesin perang Israel pun telah ditarik seluruhnya dari wilayah itu. Ini pertanda misi negara Zionis itu telah “tercapai”. Hamas telah dihajar habis-habisan. Terowongan-terowongan bawah tanahnya yang digunakan untuk menyelundupkan senjata telah dihancurkan. Kini upaya selanjutnya untuk melemahkan Hamas adalah melalui diplomasi, di samping blokade atas Gaza terus dilakukan. Begitulah kira-kira pengakuan dan rencana Israel ke depan.

Sementara itu, Gaza kini mulai berbenah diri. Namun rakyat masih berkabung. 1300 orang lebih tewas. Ribuan orang kehilangan keluarga dan sanak famili. Rumah-rumah, berbagai fasilitas umum dan tempat-tempat mereka bekerja kini tinggal puing. Sementara ribuan yang lain lebih sengsara lagi, di samping kehilangan semuanya itu, mereka kini mengerang kesakitan karena luka berat akibat serangan mesin-mesin perang Israel. Sebagian mereka kehilangan anggota-anggota tubuhnya. Mereka akan cacat seumur hidup. Termasuk di antaranya anak-anak, wanita dan orang-orang lanjut usia. Sungguh mengenaskan.

Kemenangan Semu

Benar kah alasan penghentian serangan itu adalah karena Hamas telah dilumpuhkan? Penghentian serangan itu dilakukan ketika Hamas masih melakukan perlawanan sengit. Bahkan para pemimpinnya saat itu masih sering tampil di media menyatakan kesanggupan Hamas untuk terus melawan hingga agresi berakhir dan Israel hengkang wilayahnya. Padahal, tujuan awal serangan itu adalah untuk melumpuhkan organisasi perlawanan itu.

Lumpuhnya Hamas adalah kemenangan bagi Israel. Namun di saat Hamas masih gencar melakukan perlawanan, ternyata Israel “buru-buru” mundur. Jadi, sebenarnya penghentian agresi itu lebih mengindikasikan kegagalan misi Israel di Jalur Gaza, sama seperti kegagalannya membekuk Hizbullah di Lebanon Selatan tahun 2006 silam. Ini berarti Hamas lah yang keluar sebagai pemenang perang.

Perlawanan belum berakhir. Dalam skala regional, memang sudah tidak lagi ada perlawanan dari negara-negara Arab. Mereka trauma atas kekalahan terus-menerus selama Perang Arab-Israel dari 1948-1982. Para pemimpin negara-negara Arab sejak itu lebih memilih “diam” atas nasib bangsa Palestina. Mereka kemudian menjalin hubungan persahabatan dengan negara kaum zionis itu. Namun, solidaritas bangsa Arab masih sangat tinggi terhadap nasib Palestina sebagai sesama Arab dan Muslim. Sejak sikap para pemimpinnya itu berubah, solidaritas mereka tidak tersalurkan. Bahkan upaya-upaya agresif mereka cenderung ditekan oleh pemerintahnya.

Solidaritas itu akhirnya disalurkan melalui bentuk dukungan penuh terhadap Hamas. Selama agrasi, terjadi gelombang besar demonstrasi massa di negara-negara Arab untuk mengutuk Israel, mendukung Hamas dan menggalang dana untuk rakyat Gaza. Maka keberhasilan Hamas bertahan dalam perang 22 hari itu dinobatkan sebagai sebuah kemenangan. Hamas menjadi simbol dan juga pemimpin bagi mereka dalam menghadapi kesewenang-wenangan Israel. Kesuksesan ini juga tentu tidak lepas dari dukungan penuh rakyat Gaza. Hal ini terlihat pada gagalnya upaya provokatif Israel meminta bantuan rakyat Gaza untuk membongkar sarang-sarang persembunyian Hamas.

Perubahan Peta Politik

Kemenangan Hamas membawa implikasi signifikan pada perubahan peta politik di Timur Tengah. Arah perubahan ini lebih berpihak pada Hamas, dan sebaliknya merugikan Israel. Pertama, Popularitas Hamas di mata rakyat Palestina semakin melonjak. Hamas telah membuktikan diri sebagai kekuatan yang tidak bisa disepelekan. Sebaliknya, Fatah yang merupakan rival politiknya semakin terkucil karena mendukung agresi Israel tersebut. Ini berarti secara tidak langsung mereka ikut melakukan pembantaian terhadap saudara-saudaranya di Gaza.

Meningkatnya popularitas Hamas ini sangat berpengaruh secara politis. Pada pemilu mendatang bisa dipastikan perolehan suaranya akan kembali unggul atas Fatah. Bila kemudian terjadi pembatalan hasil pemilu, maka tidak akan semudah seperti pada pemilu sebelumnya. Hamas kini telah benar-benar mengakar dan kekuatannya telah teruji. Kekecewaan rakyat Palestina dan bangsa Arab terhadap Fatah pun akan memuncak. Hamas adalah pahlawan mereka yang sesungguhnya, bukan Fatah.

Kedua, dengan berakhirnya pemerintahan Mahmoud Abbas hegemoni Israel di Palestina terutama Tepi Barat akan terguncang. Sementara pemilu selanjutnya memberikan harapan kecil bagi sekutunya itu untuk kembali berkuasa. Masa transisi ini akan memperkeruh kembali politik internal Palestina, seiring dengan gelombang politik yang berpihak pada Hamas.

Ketiga, kemenangan Hamas akan memunculkan perimbangan kekuatan di Timur Tengah. Optimisme kekuatan-kekuatan regional baru yaitu Iran dan Hizbullah semakin besar. Optimisme itu mulai tumbuh ketika Hizbullah berhasil memukul mundur pasukan Israel dari Libanon Selatan pada 2006 silam. Keberhasilan Hizbullah ini tidak lepas dari dukungan Iran terutama persenjataan, paling tidak di dawah tanah. Keberhasilan Hamas pun disinyalir tidak lepas dari peran negeri para Mullah ini.

Baik Iran maupun Hizbullah sangat bersimpati terhadap perjuangan Hamas. Iran adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang sangat memusuhi Israel dan sejak awal mendukung perjuangan Hamas ketika negara-negara Arab malah meninggalkannya. Iran pula yang paling vokal menggalang persatuan Arab dan Islam selama agresi Israel ke Gaza.

Tiga serangkai ini mempunyai musuh yang sama, Israel. Ketiganya menjalin persahabatan lebih atas dasar solidaritas agama. Walaupun secara ideologi mereka berbeda (Iran dan Hizbullah Syiah dan Hamas Sunni), namun musuh yang satu mempersatukan mereka.

Keempat, Pemilu nasional Israel pada Februari mendatang akan menyita perhatian negara itu untuk permasalahan politik internalnya. Selama masa transisi ini kecil kemungkinan Israel akan melancarkan kembali serangannya, paling tidak sampai dua bulan ke depan. The absence of war ini tentu akan dimanfaatkan Hamas untuk kembali merapatkan barisan dan memantapkan kekuatannya.

Kelima, pergantian pemerintahan di AS akan mempengaruhi dukungan negara itu terhadap Israel. Selama Geoge W. Bush berkuasa, AS secara totalitas mendukung setiap langkah Israel atas Palestina. Kini kondisi itu akan berubah dengan naiknya Barack Obama. Presiden baru ini mempunyai kebijakan luar negeri berbeda dari pemerintahan sebelumnya, apalagi Obama dari Partai Demokrat yang berorientasi isolasionis, multilateral dan “cinta damai”. Ke depannya, AS akan cenderung memilih jalur diplomasi dalam menyelesaikan masalah Israel-Palestina. Ambisi perang Israel pun akan semakin tersendat.

Dengan perubahan peta politik itu, kedua belah pihak, Israel dan Hamas, akan mempertimbangkan posisi masing-masing. Paling tidak, Israel akan berpikir dua kali untuk kembali melancarkan serangannya ke Gaza. Hamas kini bukan lagi anak kemarin sore, dia sudah dewasa dan kekar. Dia tidak sendiri. Rakyat Palestina, Arab dan “kekuatan lain” ada di belakangnya.

Oleh. Cecep Zakarias El Bilad

Selasa, 23 Muharram 1430 / 20 Januari 2009


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: