bilad’s Blog


David vs Gholiat di Tanah Gaza
March 2, 2009, 10:42 pm
Filed under: Essay | Tags:

David vs Gholiat di Tanah Gaza

Sudah tiga minggu perang Israel-Hamas berlangsung. Tak ada yang tahu di titik mana perang akan berhenti. Tak ada yang tahu pula batas akhir jumlah nyawa yang terus melayang dan tubuh yang tercabik-cabik. Dua “mahluk raksasa” itu masih perkasa bertarung satu sama lain.

Tujuan kedua belah pihak tentu sama: membela rakyatnya masing-masing. Keduanya merupakan pihak yang memiliki otoritas untuk mengatur dan melindungi rakyatnya. Dengan alasan untuk menghentikan serangan roket Hamas yang setiap hari diluncurkan ke wilayahnya, Israel menggempur Jalur Gaza sejak akhir tahun lalu.

Sedangkan bagi Hamas, serangan roket itu adalah bentuk protes atas blokade Israel terhadap Gaza yang tidak juga dihentikan. Hamas adalah otoritas yang memerintah dan melindungi rakyat Gaza. Walaupun tidak diakui oleh Israel, negara-negara Arab dan dunia internasional, namun kekuasaannya memperoleh legitimasi penuh dari rakyat Gaza.

Perang antarnegara?

Perang Israel-Hamas bisa saja diamati dari banyak perspektif, agama, ekonomi, politik atau HAM, yang mungkin saling bertentangan satu dengan lainnya. Namun aktor perang tetap sama, yaitu negara. Terlepas dari beragam perspektif itu, penulis ingin mengamati perang Israel-Hamas ini dari pelaku/aktor perang.

Dalam kajian Ilmu Hubungan Internasional kontemporer, ada banyak aktor dalam hubungan internasional: negara, individu, kelompok (dalam negara), governmental organizations dan non-governmental organizations. Dari sebab terjadinya perang, penulis melihat negara sebagai aktor dominan. Negara sebagai aktor maksudnya,

Israel sebagai sebuah negara gencar melalukan upaya diplomasi untuk memberangus Hamas. Sejak lama dia memanfaatkan badan dunia semisal PBB untuk mendeskriditkan Hamas di mata internasional. Dia membangun opini, Hamas adalah kelompok radikal yang tidak menghendaki perdamaian. Maka bila dia harus menggempurnya secara militer itu hanya upaya membela diri.

Bukankah Hamas itu organisasi perlawanan, bukan negara? Hamas memang awalnya sebuah organisasi karitas yang berevolusi menjadi gerakan perlawanan sekaligus partai politik. Namun sejak ikut pemilu parlemen 2006 dan menang, Hamas menjadi pihak yang berwenang memerintah Palestina. Setelah didepak dari kekuasaanya oleh Fatah, Hamas menyingkir ke Jalur Gaza.

Sejak itu, Hamas memerintah di Gaza dengan otoritas dan legitimasi penuh dari rakyatnya. Kelengkapan unsur-unsur dasar negara berupa wilayah, penduduk dan pemerintahan`supremasi itu membuat Gaza layak disebut negara, paling tidak secara substansi. Israel, negara-negara Arab dan dunia internasional pun memperlakukan Gaza layaknya sebuah negara: Gaza diblokade Israel dari segala penjuru; Gaza dikucilkan dunia internasional; Gaza didesak duduk berunding dengan Israel; Gaza pula yang memaksa negara itu menguras kemampuan militernya.

Asumsi realisme politik mengatakan, setiap negara dengan cara apa pun akan berusaha keras mempertahankan kepentingan nasionalnya. Keberadaan Hamas di Gaza mengancam kepentingan Israel dan keamanan warganya. Oleh karenanya Hamas harus segera dilumpuhkan.

Setelah dua puluh tiga perang Israel-Hamas berlangsung, tak satu negara Arab pun yang mampu melerai. Negara-negara Arab yang memiliki ikatan secara ethnis sesama bangsa Arab maupun agama (sesama berpenduduk mayoritas Islam) tidak berani secara tegas memihak Hamas, karena dikhawatirkan terjadi eskalasi perang. Mereka enggan terlibat perang dengan Israel karena kepentingan nasionalnya akan terancam. Mereka masih trauma atas kekalahan selama perang Arab-Israel 1948-1982.

Upaya Kemerdekaan

Dalam perang, menang adalah target. Penguasa akan mendoktrin rakyatnya agar rela berkorban demi negara. Rakyat Gaza yang selama ini hidup sengsara akibat blokade, harus kehilangan nyawa, keluarga, atau cacat seumur hidup. Mereka menjadi korban pertarungan mahluk raksasa ciptaannya sendiri, Hamas, melawan raksasa Israel. Bagi Israel, lumpuhnya Hamas adalah kemenangan. Sedangkan bagi Hamas kemenangan adalah mampu bertahan hingga Israel menghentikan gempurannya.

Bagi rakyat Gaza dan bangsa Palestina pada umumnya, nyawa adalah harga untuk sebuah kemerdekaan atas tanah airnya. Kemerdekaan yang terampas begitu saja. Perjuangan diplomasi, kecaman dunia internasional dan berbagai resolusi PBB belum melampaui harga sang nyawa. Semuanya hanya utopi. Sejarah mencatat bagaimana Zionis Israel menghalalkan segala cara guna mencapai ambisinya mendirikan negara Israel Raya. Rakyat Gaza memahami hal ini. Maka mereka “rela” menjadi tameng bagi harapan mereka satu-satunya, Hamas.

Kemenangan akan memihak pada salah satu, Israel atau Hamas. Bila kemenangan berpihak pada Israel, berarti pupuslah harapan rakyat Gaza untuk merdeka. Namun bila Hamas mampu memukul mundur Israel, maka harapan itu akan gemilang. Akan tumbuh optimisme baru perjuangan bangsa Palestina. Keangkuhan Israel di Timur Tengah yang telah terkikis tahun 2006 saat gagal membekuk Hizbullah di Lebanon Selatan akan semakin pudar. Ribuan nyawa yang hilang itu tidak akan sia-sia.

Upaya perdamaian di Palestina selama ini masih sebatas penghentian kekerasan, atau pembagian kekuasaan secara timpang. Misalnya, gencatan senjata yang disepakati Hamas dan Israel sebelumnya (selama enam bulan) berakhir dengan serangan Israel ke Gaza sejak 27 Desember tahun lalu. Tak satu pun perundingan damai dari Oslo (I&II), Wye River, Camp David II, Road Map Peace dan terakhir Annapolis membuahkan hasil berarti. Isi perundingan-perundingan itu sering dianggap tidak sesuai dengan aspirasi bangsa Palestina.

Kedua belah pihak sudah cukup menunjukkan ketangguhannya setelah lebih tiga minggu berperang. Israel telah membuat Hamas gagal melindungi ribuan warganya dari sasaran peluru dan rudal Israel. Sementara Hamas pun sukses membuktikan ketangguhannya di depan rakyat Gaza dan dunia, karena hingga kini mampu bertahan dari gempuran mesin-mesin perang modern Israel.

Di mana titik kemenangan yang hendak mereka capai? Korban sipil tewas di Gaza telah melampaui angka seribu. Kini saatnya Israel-Hamas memperdulikan angka tersebut. Salah satu pihak harus ada yang mengalah. Mengalah untuk menang atas dasar nurani, bukan emosi. Apa yang disebut Johan Galtung sebagai negative peace harus segera dicapai, yaitu penghentian kekerasan. Kemudian diteruskan dengan upaya serius mencapai tahap positive peace, yakni menyelesaikan masalah-masalah yang menjadi akar konflik demi perdamaian abadi kedua bangsa.

Hamas sebagai representasi rakyat Palestina di Gaza sudah sewajarnya menuntut hak-hak rakyatnya. Bangsa Palestina telah ribuan tahun mendiami tanah Palestina. Walaupun Yahudi Israel merasa memiliki hak sejarah atas tanah itu berdasarkan kitab suci mereka, tentu Tuhan mereka pun tidak menghalalkan cara yang kini mereka tempuh. Israel harus rela menyerahkan wilayah-wilayah pendudukannya kepada bangsa Palestina, dan menempati tanah itu seperlunya. Bangsa Palestina lebih berhak atas mayoritas wilayah.

Tetap menuntut bubarnya negara Israel pun adalah tidak realistis. Hamas dan rakyat Palestina harus merelakan kenyataan, bahwa di tanahnya kini berdiri negara Yahudi, Israel. Dengan saling merelakan, perdamaian akan dicapai. Selama kedua belah pihak belum mau melepaskan ambisinya, akan lebih banyak lagi rakyat sipil yang menjadi korban.

Oleh CECEP ZAKARIAS EL BILAD

Malang, Jumat 21 Muharram 1430 H/ 18 Januari 2009 M.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: