bilad’s Blog


Malam Berasap
January 26, 2009, 3:40 am
Filed under: short story | Tags:

Malam Berasap

 

Malam itu bagiku seperti biasa. Terasa sepi. Tak ada yang istimewa dengan malam-malam sebelumnya. Setelah sholat  Isya di musholla aku kembali ke kamarku. Beberapa menit kemudian musholla yang berdiri tepat di depan kostku menutup diri. Para jamaah pulang ke rumah masing-masing.

Ya, beginilah suasana sehari-hari di pojok kota Malang. Apalagi di sebelah kiri bangunan kostku merebah sungai curam. Rincik airnya tak pernah menyisakan sepi, walaupun sudah beberapa hari tak kunjung terkirim hujan. Malang memang tak kenal kemarau, apalagi sekarang musim penghujan.

Teman-temanku juga nampaknya tak merasa istimewa dengan malam itu. Selepas Isya, mereka berkumpul di kamar pojok yang agak luas. Sebuah komputer duduk mematung. Aku masuk ke kamar itu sekedar menyetor muka. Dua keping VCD dikeluarkan dari wadahnya oleh salah seorangnya. Mereka menyewa film. Tidak seperti biasanya mereka iuran lima ratus atau seribu rupiah untuk menyewanya, kali ini mas Andio yang menyewa. Dia paling tua umurnya di antara kami. Begitu satu keping diputar aku menghambur ke luar menuju kamarku. Aku tak bernafsu nonton.

Aku mengambil sebuah buku yang malam sebelumnya aku beli. Sebuah novel Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer. Sudah lama aku ingin mencicipi karnyanya, namun baru kali ini berkesempatan. Aku buka halaman pertama, kedua, ketiga. Ah, membaca novel pun aku tak bernafsu. Maka aku letakkan di tempat semula. Di rak kecil dengan dua kotak berisi penuh buku dan dokumen-dokumenku. Rak itu duduk berhimpitan dengan rak buku lain yang lebih besar dan penuh pula dengan buku-bukuku.

Aku susurkan telunjukku ke barisan buku-buku itu. Aku capit sebuah buku putih agak tebal yang juga belum lama aku beli. Aku pun sudah lama ingin berdiskusi dengan Karen Amstrong, namun baru kali dia bertandang. Buku setebal lima ratus tujuh belas halaman itu aku beli empat puluh ribu rupiah. Padahal harga aslinya hampir seratus ribu. Maklumlah harga cuci gudang akhir tahun! Aku timang-timang saja buku The Great Transformation: Awal Sejarah Tuhan itu. Merasai tebalnya, ditambah sampulnya yang keras seleraku menciut. Lalu aku selipkan buku itu di tempatnya semula.

Aku tarik buku yang berhimpit di depannya. Buku dengan sampul berlatar biru bergambar jejaring apa entah dengan satu bulatan di setiap sudutnya.

“Ini seperitnya buku serius. Judulnya Third Debate dan Kritik Positivisme dalam Hubungan Internasional. Buku ini tampaknya bernuansa filsafat.”

Aku baca sinopsisnya. Wah, benar juga. berat sekali bahasanya. Rangkaian diksinya menjaring kepalaku hingga tak mudah aku mengurainya. Padahal buku ini, seperti tersurat di biografi penulisnya, hanya pengembangan skripsi si penulis yang baru saja menjadi seorang sarjana hubungan internasional. Kurang hajar! Batinku meringsek membaca biografi penulis. Aku juga calon sarjana HI seperti dia. Tapi kemampuanku untuk menulis buku berat seperti itu masih jauh dibawahnya. Jauh sekali. Jangankan menulis, membacanya pun aku terseret-seret.

Ah, malam tiba-tiba menekan telingaku. Biografi si penulis membuat hatiku panas. Aku letakkan saja cepat-cepat buku kurang hajar itu di rak. Aku bergegas ke luar rumah. Aku berdiri di depan pintu menghadap mushola yang sudah terlelap. Deru air sungai terdengar lebih semarak dari pada di dalam rumah. Kakiku tiba-tiba merayu untuk berjalan. Berjalan entah ke mana. Maka tak ragu. Aku langkahkan kaki menghampiri ujung gang kecil itu.

Ada yang berbeda dengan suasana sejak beberapa meter aku berjalan. Di depan rumah ketiga yang aku lewati, orang-orang dengan wajah ceria berkumpul diiringi riuh suara musik. Dua orang dari mereka sibuk menata arang di samping jalan. Jagung-jagung yang siap dibakar menumpuk di samping mereka. Sementara yang lain duduk-duduk di teras rumah bersenda menghadapi tiga gelas kopi mengepul di depannya. Aku berjalan melewati mereka dengan mata liar melirik kanan-kiri. Beberapa meter berikutnya di depan kost perempuan berbanjar sepeda-sepeda motor necis. Di teras rumah beberapa orang mahasiswa sedang asyik bercanda ria dengan para penghuni kost. Ada juga yang duduk berdua berhimpitan mesra. Mataku kembali liar. Nampaknya mereka sedang menunggu sesuatu hendak pergi bersama.

Aku masih teruskan langkahku ke ujung jalan. Pemandangan serupa aku temui di kost-kost putrid berikutnya. Setelah hampir sampai di pintu gang, mataku memandang lurus ke depan, ke jalan besar yang berebah memotong jalan kecil gang itu. Alisku mengkirut. Telingaku merekah. Sorot mataku menajam ke arah jalan besar itu. Raungan sepeda-sepeda motor memecahkan malam. Kesunyian pedalaman gang itu tidak berbekas di ujunya. Seperti hendak ada gunung meletus, macan-macan itu berlarian menuruni gunung mencari perlindungan. Sesekali pengendaranya meniup terompet terbuat dari kertas karton dengan pernak-pernik kertas dan plastik warna. Pengendarnya sebagian besar pasangan muda mudi.  Yang laki-laki di depan menyetir dan yang perempuan membonceng di belakangnya memeluk erat.  Mereka berpakaian dengan gaya masing-masing. Namun semuanya mengikuti mode paling mutakhir.

Banjir bandang sepeda motor itu menyerbu menuju tempat yang lebih rendah. Semuanya menuju ke satu arah. Aku sempat berpikir ke mana para pasukan bersepeda motor ini menuju.

Sejenak kemudian sangkaku membisik, “Oh ya, ke Batu”. Sebuah kota kecil yang riuh oleh tempat-tempat wisata. Dengan aroma apel dan panorama pegunungannya, Batu menjadi tujuan wisata favorit warga Malang dan sekitarnya. Bahkan semerbak kebun-kebun apelnya tercium hingga ke Surabaya, Jember, Kediri, Tulungagung, dan kota-kota lain di Jawa Timur. Mungkin juga hingga ke Jakarta.

Aku berbelok ke kanan melawan arus banjir itu.Aku susuri jalan. Pandangku lurus ke depan. Namun mataku menyambar sekeliling terutama pasukan bersepeda motor itu. Menyembul di antara gerombolan pasukan itu mobil-mobil dengan penumpang muda-mudi juga. Suara klakson bersautan. Tak mau kalah,  tot tet tot tet suara terompet pun berteriak-teriak. Terompet Isrofil pertanda segera berakhirnya satu tahun kehidupan berganti setahun kehidupan berikutnya.

“Sebegini indah kah kehidupan?” tanyaku dalam hati, “apa pula yang harus dirayakan dengan semeriah ini? Atau mungkin bahagia karena sudah mendapatkan semua keinginannya.”

Pikirku mereka seperti datang dari dunia lain. Mereka bukan orang-orang dari duniaku. Semakin aku melangkah, semakin aku merasa asing dengan penampakan di mataku. Aku seperti terdampar di dunia lain. Otakku tidak mengenal semua rekaman yang dikirim oleh kedua mataku ini. Sejak kecil aku belajar di sekolah, tidak pernah aku diperkenalkan budaya semacam aku saksikan sekarang. Ayah ibuku juga tidak pernah mengajariku. Buku-buku yang aku punya dan yang pernah aku baca tidak satu pun menggambarkan kejadian semacam ini. Aku berpikir dan berpikir. Mencoba mengingat-ingat barangkali ada sisa ilmu belum terkorek. Sampai beberapa meter melangkah belum juga kutemui. Semuanya sudah aku korek hingga ke sela-selanya.

“Jadi dari mana akar budaya semacam ini? Sejak kapan muncul? Anak muda, orang tua, anak-anak, mahasiswa, dosen, pengusaha, wartawan, sampai-sampai ustadz dan kyai pun melakukan ritual ini, ritual perayaan tahun baru Masehi, dengan cara mereka masing-masing. Cara yang paling umum adalah, ya yang aku saksikan sekarang.”

Mataku tertumbuk pada satu pemandangan. Langkahku melamban. Di pelataran sebuah Caffee Inn yang berseberangan dengan kampusku ada gegap-gempita muda-mudi berpakaian asing. Pakaian yang terangnya bukan dari budaya timur, bukan Indonesia, bukan Islam. Pakaian ala band-band dari Eropa atau Amerika sana, entahlah apa namannya aku tak tahu. Aku memang tak pernah bersentuhan dengan hal-hal semacam itu.

Sebuah panggung kecil berdiri nyentrik di kelilingi muda-mudi berpakaian asing itu. Sebuah group band sedang pentas. Musiknya pun asing bagi telinga orang timur, orang Indonesia, orang Islam. Aku sendiri orang timur, orang Indonesia, orang Islam. Dan saya pikir mereka juga.

Aku memberanikan diri berhenti melangkah. Aku menyelinap di antara mereka. Benar, aku merasa asing. Pakaianku berbeda dari mereka. Ibarat orang dari sawah tiba-tiba masuk ke sebuah pesta pernikahan di hotel berbintang. Jelas kontrasnya. Untungnya ketika itu gelap, karena posisi panggung memunggungi jalan raya dan aku masuk di kerumunan di pinggir kiri panggung,  Agak gelap. Kekontrasanku tak terlihat. Paling tidak dalam sangkaanku sendiri. Tak seorang pun aku kenal. Kecuali satu wajah itu. Wajah vokalis yang sedang berjingkrak-jingkrak mengibas-ngibaskan rambutnya. Berteriak mendengdangkan lirik-lirik lagu. Sangking kerasnya atau bagaimana, sampai-sampai bukan nyayian yang terdengar, tapi teriakan yang diiringi musik yang juga berteriak. Ya, tidak salah lagi. Dia teman kuliahku.

“Oh, rupanya dia seorang vokalis band. Pantas saja di kampus pun penampilannya seperti mau pentas band.”

Aku berdiam sejenak sampai dia selesai bernyanyi. Lalu aku keluar dari kerumunan.

Jalanan masih lengang dari sepi. Padahal malam telah menyentuh detik ke sembilan. Dalam pikiranku masih ada yang berputar-putar, menggedor-gedor mencari jalan keluar. Seonggok tanya: apa yang mereka rayakan? dari mana perayaan semacam ini berasal? Bagaimana bisa sampai ke negeriku? Bukankah guru-guruku tak pernah ajarkan semacam itu? Bukankah ustadz-ustadzku juga tidak? Kenapa ke arah Batu? Ada apa di sana malam ini? Mau apa muda-mudi ini ramai-ramai ke sana?

Aku duduk di emperan sebuah toko yang tutup. Di pinggiran dunia. Sendiri. Sepi. Toko-toko di sebelahnya pun tutup. Lampu neon di depan teras juga tampak kelelahan. Mataku menghalau laju kendaraan-kendaraan yang deras itu. Aku masih susuri semesta anganku mencari kepastian. Kepastian akan bayangan yang tersingkap di balik kepulan asap motor-motor itu. Aku melihatnya. Antara ada dan tiada. Antara jelas dan tidak jelas. Yesus terkulai tak berdaya dipancung di atas sebuah kayu salib.

Sabtu,  20 Muharram 1430 / Jumat, 16 Januari 2009.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: