bilad’s Blog


REVOLUSI IRAN: REFLEKSI UNTUK INDONESIA
November 19, 2008, 11:16 pm
Filed under: Essay | Tags:

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

REVOLUSI IRAN:
REFLEKSI UNTUK INDONESIA

Cecep Zakarias El Bilad

Timur Tengah adalah wilayah konflik terpanas di dunia. Selain konflik Israel-Plestina yang tak kunjung selesai, kini keadaan semakin memanas di belahan lain kawasan ini, Iran. Negeri yang berada di persimpangan Timur Tengah, Asia Barat dan Kaukakus ini  tengah menghadapi ancaman serius dari “preman pasar” Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Demi memuluskan kepentingan-kepentingannya di kawasan itu, Amerika Serikat menempuh berbagai cara untuk memberangus signifikansi Iran yang semakin kuat di kawasan kaya minyak itu. Isu senjata nuklir terus didengungkan. Alhasil, berbagai aksi boikot oleh AS serta sanksi dari DK PBB pun terus dihujamkan atas Iran. Bahkan akhir-akhir ini, AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut dan meningkatkan frekuensi latihan militernya. Namun begitu, Iran tetap bergeming. Bahkan semakin kukuh dan berani menentang sang Adikuasa. “ Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai adikuasa memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?”, logika simpel Ahmadinejad menjustifikasi ambisi nuklirnya yang merupakan konsensus rakyat Iran. Bahkan, mengenai isu Israel-Palestina, sikap  Ahmadinejad paling berani di antara pemimpin bangsa-bangsa muslim lainnya di masa kini, ”Bila kalangan Eropa jujur dalam klaim mereka bahwa mereka telah membunuh 6 juta warga Yahudi dalam holocust yang terjadi pada PD II, mengapa bangsa Palestina harus membayar untuk kejahatan itu?”.

Keberanian Iran semacam ini telah tumbuh sejak 28 tahun yang lalu ketika gelombang revolusi yang dipimpin seorang ulama paling kharismatik Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, menggulung rezim otoriter Syah (1935-1979). Di era Syah Reza Pahlevi, Iran menjadi sekutu strategis Barat dan AS di Timur Tengah. Modernisasi yang dilakukan oleh Syah Pahlevi pun selama berkuasa menduplikasi kemajuan Barat. Yang tentunya dengan modal besar dari hasil eksploitasi minyaknya, proyek modernisasi-westernisasi dan pembangunan Syah Pahlevi berjalan mulus – transportasi, telekomunikasi, pertanian, indurstri, pendidikan dan persenjataan.

Sehingga, seperti halnya Indonesia di zaman Soeharto dulu, Iran di zaman Syah Pahlevi tumbuh pesat menjadi negara industri baru di dunia. Tidak hanya itu, di bawah Syah Pahlevi Iran juga meningkatkan belanja militernya dari US$ 293 juta pada 1963 menjadi US$ 1,8 miliar pada 1973. Ia membeli US$12 miliar senjata modern dari Barat kurun 1970-1977, termasuk 20 F14 Tomcat dengan misil jarak jauh Phonix, 190 F4 pesawat tempur Phantom, 166 F4 fighter aircraft, 10 Beoing 707 transport planes, 800 helikopter, 28 hovercraft,760 Chieftain tank, 250 Scorpion, 400 M47 tank, 460 M60 tanks, dan 1 kapal perusak laut Spruance. Sehingga pada tahun 1977 Iran telah memiliki angkatan laut terbesar di Teluk Persia, kekuatan udara termodern di Timur Tengah, serta angkatan bersenjata terbesar kelima di dunia.
Namun, pembangunan besar-besaran tersebut ternyata melahirkan persoalan-persoalan sosial yang serius terutama di kota-kota besar: kesenjangan sosial yang sangat tinggi, pengangguran, kemiskinan, urbanisasi/ledakan populasi kota, birokrasi yang bobrok, bahkan degradasi moral masyarakat sebagai dampak westernisasi yang liar.

Kondisi semacam ini kemudian semakin membuncahkan semangat perlawanan pihak-pihak oposisi, utama sekali dari kalangan agamawan yang dimotori oleh Ayatulloh Khomaini, karena fakta menunjukkan ternyata agama menjadi perekat antarindividu dan pembangkit solidaritas sosial di tengah-tengah pemukiman kumuh di kota-kota besar seperti Teheran. Khomaini mulai menebarkan benih-benih perlawanan terhadap dinasti Syah sejak 1920, perlawanan yang selalu bertolak dari landasan Islam dan ditebarkan melalui forum seminar, atau perngajian di masjid di desa dan di kota. Beliau adalah sosok ulama yang sederhana, bersahaja dan merakyat, sehingga rakyat Iran sangat bersimpati kepadanya.

Khomeini sangat mendambakan pemerintahan Islam yang berlandaskan al Quran dan sejalan dengan konsep masyarakat madani era Nabi Muhammad SAW. Khomeini menandaskan kemestian Islam dan Iran terbebas dari kolonialisme Timur dan Barat dan perlunya kalangan ruhaniawan keluar dari jubah akademis. Tanggung jawab ulama pada kemanusiaan tak sebatas hanya di Iran, tapi di mana pun tempat yang di situ masih ada  manusia yang kelaparan dan tertindas.

Setelah bertahun-tahun teguh dalam perlawanannya –  mengalami berbagai intimidasi dan diasingkan, terakhir di Paris, Perancis selama 15 tahun  –, akhirnya dengung revolusi dari arah Perancis itu memuncak pada Desember 1979, membangkitkan dua juta lebih rakyat Iran untuk turun ke jalan menentang Syah Pahlevi. “Mampuslah Pahlevi”, “Syah Bajingan”, “Usir Amerika”, “Allohu Akbar”, begitulah di antaranya slogan-slogan yang meraung di langit Teheran waktu itu.
Memang tidak dipungkiri bahwa Iran memiliki sejarah yang panjang jauh sebelum itu dan terdapat faktor yang membedakannya dari bangsa Indonesia. Akan tetapi segala perbedaan itu ternafikan oleh satu kesamaan, yaitu Islam. Seperti halnya perbedaan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa (mayoritas) Muslim lainnya. Sehingga ada satu  makna yang bisa kita tarik dari kisah perjuangan revolusioner rakyat Iran tersebut, bahwa peran agama yang dimotori para ulama untuk kesekian kalinya terbukti mampu membuat transformasi sosial ,bahkan secara radikal sekalipun seperti yang terjadi di Iran, yang didukung oleh rakyat dan semua elemen yang beroposisi terhadap penguasa.

Iran pra revolusi memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda dari Indonesia ketika zaman Orde Baru dan zaman Reformasi yang nampak lebih parah dalam banyak halnya: kesenjangan sosial, urbanisasi, birokrasi, sentralisasi, intimidasi oleh penguasa (pengekangan terhadap  nilai-nilai demokrasi) hingga degradasi moral masyarakat dan generasi muda. Di bawah pemerintahan para pemimpin yang ada sekarang ini Indonesia benar-benar tidak berdaya, terperangkap dalam jaring kapitalisme. Kekayaan-kekayaan negara hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat saja dan dieksploitasi secara serampangan. Dan diperparah lagi dengan krisis moral-spiritual generasi muda akibat kebebasan media, informasi dan pemikiran.

Maka, bila bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim benar-benar menjadikan Islam sebagai standar moral kehidupannya, tentu akan mampu membangkitkan solidaritas sosial dan semangat perlawanan yang kuat terhadap segala bentuk penindasan dan pelecehan individu maupun masyarakat, menyelamatkan moral masyarakat dan generasi muda dari krisis moral-spiritual. Dan tentu saja semua itu menuntut persatuan dan keseriusan  peran ulama sebagai pewaris dakwah Nabi dan panutan masyarakat seperti yang dicontohkan Ayatulloh Ruhulloh Khomeini dan para ulama Syiah di Iran yang hingga kini dan mungkin sampai kapan pun tetap menjadi rujukan moral masyarakat dan pemerintahnya.

Bila ulama belum bisa mempersatukan komitmen dan arah perjuangan, atau terus terjerembab dalam perbedaan dan bahkan perebutan kekuasaan, maka cita-cita masyarakat madani hanya terwujud dalam retorika. Lebih dari itu, umat ini, bangsa ini akan semakin terseret arus negatif globalisasi. Islam dan bangsa ini akan semakin kehilangan harapan untuk bangkit dan meruntuhkan supremasi Barat yang sewenang-wenang.. Wa Alloohu a’lam bi as showaab.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: