bilad’s Blog


PASANG SURUT HUBUNGAN AS – IRAN
November 19, 2008, 10:58 pm
Filed under: Essay | Tags:

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } A:link { so-language: zxx } –>

PASANG SURUT HUBUNGAN AS – IRAN

Cecep Zakarias El Bilad

Abstract: Iran is the only Islamic state in this world that is currently brave to resist US’ hegemony firmly in the Middle East. However, historically Iran and United States were a close friend for some decades. This article tries to observe the strategic position of Iran related to US’ interests in the Middle East from the era of Cold War until the present time.

Keywords: Pandangan, pemerintah, perimbangan kekuatan, peta politik,sekut, pemerintah.

B. Pendahuluan

Paling tidak ada dua hal yang menarik dari hubungan Iran dan Amerika Serikat untuk diamati. Pertama, kedua negara pernah menjadi sahabat karib, akan tetapi kini keduanya menjadi dua negara yang saling bermusuhan. Kedua, hubungan keduanya yang memanas sejak hampir tiga dekade yang lalu seakan-akan merepresentasikan panasnya hubungan antara dua peradaban besar, Islam dan Barat. Keberanian Iran dalam menentang hegemoni AS dan Barat menginspirasi bangkitnya perlawanan umat Islam di berbagai wilayah di Timur Tengah terhadap pada penjajah asing seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina. Akan tetapi ini menjadi dilema bagi negara dan umat Muslim di wilayah tersebut. Di satu sisi, ketika Iran kini ber-evolusi menjadi kekuatan baru di Timur Tengah yang berani melawan AS dan Israel, umat Islam banyak yang optimis karena karena ini menjadi simbol dan benih kebangkitan Islam. Di sisi yang lain, umat Islam khususnya di Timur Tengah yang yang mayoritas adalah Sunni menjadi cemas karena apabila Iran yang Syi’ah benar-benar berhasil “mengusir” AS dan Israel dari wilayah itu, Iran akan menghegemoni dan mungkin bertindak represif terhadap mereka. Kedua kelompok Islam tersebut telah sejak ratusan tahun bermusuhan.

Tulisan ini akan menyoroti arti penting Iran bagi AS dalam konteks Perang Dingin dan juga ancaman Iran bagi kelangsungan hegemoni AS di Timur Tengah dan dunia Islam pasca Perang Dingin. Analisis historis dalam tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan pola hubungan kedua negara ini, dan merangsang pembaca untuk bisa memprediksi pola hubungan keduanya untuk mendapatkan gambaran tentang peta politik di Timur Tengah ke depan.

Iran pada era Perang Dingin mempunyai hubungan yang erat dengan AS karena posisinya berbatasan langsung dengan Uni Soviet bagian selatan. Iran menjadi benteng untuk membendung komunisme Uni Soviet merasuk ke wilayah Teluk yang kaya minyak. Hubungan pertemanan ini berakhir sejak Iran dikuasai oleh kaum Revolusioner Islam yang sangat membenci negara agresor AS dan Uni Soviet. Kini, AS menjadi satu-satunya kekuatan hegemonik dunia setelah berhasil “membunuh” rivalnya, Uni Soviet. AS sangat berkepentingan di Timur Tengah yang kaya minyak, dan Iran berpotensi membahayakan kepentingannya di wilayah tersebut.

A. Mutual Relationship

Pada era Perang Dingin, Timur Tengah adalah arena pertarungan yang paling strategis bagi kedua negara super power ketika itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Paling tidak ada tiga alasan mengapa demikian: pertama, wilayah itu berbatasan langsung dengan Uni Soviet, sehingga oleh AS dimanfaatkan sebagai tameng terdepan untuk membendung komunisme Uni Soviet. Kedua, wilayah itu memiliki sumber daya minyak yang melimpah sehingga di samping secara ideologis, Amerika dan Uni Soviet juga bersaing secara ekonomi untuk menguasai sumber minyak terbesar di dunia tersebut. Ketiga, intensitas perbedaan di wilayah itu sangat tinggi dan sering terjadi konflik antarnegara. Hal ini dimanfaatkan oleh AS dan Soviet untuk bersaing secara militer dengan mengadu domba dan berpihak pada salah satunya.

Iran adalah sekutu utama AS di Timur Tengah pada era tersebut.  Hubungan antara kedua negara ini terjalin sangat erat dan saling menguntungkan. Di samping untuk kepentingan melawan Soviet, Iran juga memiliki arti penting bagi AS sebagai perimbangan kekuatan dengan Arab. Sejak lama, negara bangsa Persia ini memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan negara-negara Timur Tengah lainnya yang barasal dari ethnik Arab. Sedangkan negara-negara Arab saling bahu-membahu berperang melawan Israel yang merupakan sekutu ”abadi” AS agar keluar dari tanah Palestina. Apabila Israel merasa terdesak oleh negara-negara Arab, maka Iran akan ”turun tangan.”

Di samping perbedaan secara etnik, perbedaan dalam hal beragama membuat hubungan Iran dengan tetangga-tetangga Timur Tengahnya tidak harmonis. Penduduk Iran mayoritas adalah penganut Islam Syiah, sedangkan negara-negara Timur Tengah lainnya mayoritas adalah penganut Islam Sunni – kecuali Bahrain dan Libanon yang juga mayoritas Syiah. Walaupun Iran ketika itu dipimpin oleh penguasa monarki sekuler, eksistensi Syiah sebagai mazhab mayoritas rakyat sering kali menjadi pemicu panasnya hubungan dengan tetangganya Irak yang sekitar 60% rakyatnya juga bermazhab Syi’ah. Irak yang secara politik dipimpin oleh kaum Sunni sering menghadapai pemberontakan dari kaum Syi’ah yang banyak bermukim di bagian selatan negara itu yang berbatasan langsung dengan Iran. Mereka memiliki kedekatan hubungan dengan Syi’ah di Iran.

Keterlibatan AS di Timur Tengah sejak akhir Perang Dunia II disebabkan oleh keinginan untuk membendung pengaruh Uni Soviet di wilayah yang strategis dan kaya minyak tersebut.[1] Di Iran, Amerika Serikat sudah hadir secara komersial sejak 1856, akan tetapi Amerika Serikat tidak mengincar keterlibatan politik, terutama karena Iran belum berada dalam lingkaran utama visi politik Amerika.[2] Hubungan AS-Iran secara politik dan militer terjalin pada era Perang Dingin, terutama sejak tahun 1953 ketika terjadi kudeta atas Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddeq. Dinas intelejen AS, CIA, terlibat dalam kudeta militer yang mengembalikan kekuasaan Iran ke tangan monarki Shah Pahlevi. Sejak saat itu AS menggantikan Britania sebagai kekuatan asing dominan di Iran setelah lama keduanya bersaing di negeri kaya minyak teresebut.

Pada perkembangannya, Iran memainkan isu Perang Dingin dengan baik untuk kepentingan-kepentingannya. Shah Iran mendesak AS untuk memberikan bantuan dengan dalih pembangunan ekonomi dan terutama militer guna menghadapi ancaman Uni Soviet. Majalah Times, sebagai misal, pada 1961 melaporkan bahwa sejak 1952, AS telah mengucurkan bantuan dan pinjaman sekitar $1.135 juta ($631 juta untuk bantuan ekonomi dan $504 untuk bantuan militer).[3] Di samping dari bantuan AS, Iran juga mendapatkan berkah dari kekayaan minyaknya. Pada tahun 1963, penerimaan minyak Iran melonjak menjadi $550 juta dan melonjak dua kali lipat menjadi $ 1,2 miliar pada 1970.[4]

Dengan dana yang mengucur dari AS serta lonjakan pendapatan minyak tersebut, penguasa Iran melakukan pembangunan dan modernisasi besar-besaran. Pada tahun 1968, misalnya, pemerintah Iran mengalokasikan $2,5 miliar untuk pengembangan industri dengan sebuah ambisi besar: memproduksi sendiri barang-barang konsumen seperti pakaian, makanan kaleng, minuman, radio, telepon, televisi dan motor, serta menggalakkan pertumbuhan industri dasar dan menengah khususnya minyak dan gas, baja, petrokimia, aluminium, dan barang permesinan.[5] Iran ketika itu mengalami revolusi industri dalam skala kecil. Pemerintah Iran juga meningkatkan belanja militernya dari $293 juta pada tahun 1963 menjadi $1,8 miliar pada tahun 1973.[6] dengan belanja militer seperti itu, maka Iran pada tahun 1977 telah memiliki angkatan laut terbesar di Teluk Persia, kekuatan udara ter-anyar di Timur Tengah dan angkatan bersenjata terbesar kelima di dunia.[7]

Dengan fakta semacam itu, Iran benar-benar menjadi garda terdepan AS dalam membendung Uni Soviet, sekaligus menjadi ”sahabat karib” untuk melindungi sekutu abadinya, Israel.

C. Revolusi Islam

Modernisasi dan pembangunan infrastruktur, bisnis, industri, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan dan militer ternyata tidak berpengaruh positif terhadap legitimasi pemerintahan. Semuanya ini tidak mampu menutupi fakta tetang pemerintahan yang represif dan korup. Proyek modernisasi dan pembangunan ini tidak dilakukan secara merata, hanya di kota-kota besar seperti Teheran, Isfahan, Mashad, Tabriz, Shiraz, dan Abadan. Hal ini menyebabkan arus urbanisasi besar-besaran, sehingga terjadi ledakan jumlah penduduk di kota-kota tersebut. Teheran, misalnya, ketika itu jumlah penduduknya menjadi sekitar 4,5 juta jiwa. Dari jumlah itu, sekitar 1 juta penduduk adalah kelas menengah dari komunitas bazar, pemilik toko, dan penjaga toko. Tidak lebih dari 100 keluarga adalah kelas atas, dan sisanya adalah kelas menengah kebawah (miskin). Kondisi semacam ini menimbulkan kecemburuan sosial yang sangat tinggi sehingga memicu radikalisasi rakyat.

Dalam kondisi sosial yang akut, satu-satunya pihak yang dapat merangkul dan mengayomi masyarakat adalah ulama. Masjid dan madrasah menjadi pusat penggemblengan spiritual dan moral masyarakat. Di samping itu, masjid ketika itu juga berfungsi sebagai tempat diskusi masyarakat dengan ulama mengenai kondisi sosial dan pemerintah. Akhrinya, masjid dijadikan sebagai pusat pembangunan kekuatan untuk menurunkan penguasa represif Shah Pahlevi. Ulama yang sejak 1920 konsisten dan tegas melawan perintah ketika itu adalah Ayatullah Khumaini.

Penampilannya yang bersahaja, caramah-ceramahnya yang progresif, dan gaya hidupnya yang sederhana serta dekat dengan masyarakat membuat dirinya menjadi ulama yang paling disegani dan ditaati rakyat Iran. Konsistensinya dalam menentang penguasa yang korup, represif dan sekuler memberikan pengaruh besar bagi bangkitnya jiwa perlawanan rakyat dari berbagai elemen. Maka sejak Juni 1978 rakyat dari kalangan bazar, akademisi dan mahasiswa mulai berani protes di universitas atau acara-acara seminar.

Kekecewaan, kemarahan, dan protes rakyat atas penguasa monarki semakin terakumulasi dan memuncak pada Desember 1979. Dua juta lebih rakyat Iran turun ke jalan memprotes Shah dan menuntutnya untuk mengundurkan diri. Demonstrasi ini berakhir Shah Pahlevi melarikan diri ke luar negeri, dan kembalinya Sang Imam, Ayatullah Khumaini, setelah diasingkan ke luar negeri selama 15 tahun oleh Shah. Monarki pun runtuh, dan di bawah komando langsung Ayatullah Khomaini negeri itu bertransformasi menjadi Republik Islam Iran.

D. Akhir Sebuah Persahabatan

Rakyat Iran menyambut Revolusi Islam tersebut dengan penuh antusias dan penuh harapan terhadap para pemimpin yang baru, para mullah (ulama), dan tentunya kepada Sang Pemimpin  Revolusi Ayatullah Khomaini. Pada  perkembangan selanjutnya, pemerintahan Iran berjalan di bawah dominasi dan hegemoni para mullah.

Lain hanya dengan rakyat Iran, AS menyambut revolusi yang terjadi dengan sangat cepat itu dengan was was. Akan tetapi nasib persahabatan kedua negara itu tidak lama kemudian menjadi jelas setelah beberapa saat kemudian Ayatullah Khumaini menjuluki AS sebagai Setan Besar dan Uni Soviet sebagai Setan Merah. Fatwa inilah, bisa jadi, yang memotivasi sekelompok mahasiswa menduduki dan menyandera sejumlah staf Kedutaan Amerika di Teheran pada 4 November 1980. Peristiwa ini membalik hubungan kedua negara dari teman menjadi musuh.

Hilangnya Iran dari daftar sekutu AS di Timur Tengah membuat peta politik dan perimbangan kekuatan di wilayah itu berubah total. Dari konteks Perang Dingin, AS kehilangan satu tameng strategisnya di kawasan itu dari ancaman Komunisme Soviet. Sedangkan dari konteks regional Timur Tengah, Iran menjadi ancaman baru bagi kepentingan-kepentingan AS di wilayah Teluk khususnya dan Timur Tengah, serta bagi eksistensi Israel. Iran juga musuh bersama bagi negara-negara Teluk seperti Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Oman dan Arab Saudi, karena dikhawatirkan Revolusi Islam Iran ini akan menginspirasi kaum Syi’ah di negara-negara tersebut untuk melakukan hal yang sama.

Walaupun terjadi gejolak di Timur Tengah dengan hadirnya Iran sebagai ancaman baru, Washington masih belum menempatkan isu Iran ini pada urutan prioritas politik luar negerinya. AS masih harus menguras energinya untuk menghadapi dan menaklukkan musuh besarnya, Uni Soviet. Oleh karena itu, untuk menangani Iran, AS tidak perlu melakukan konfrontasi langsung dengan Iran. Ketika Irak menginvasi Iran pada 22 September 1980 hingga 1988, AS memberikan dukungan penuh kepada Irak dalam bentuk suplai data intelejen, bantuan ekonomi dan persenjataan. Tidak hanya itu, AS juga menggandeng negara-negara Teluk dan Barat untuk mendukung Irak. Saudi Arabia, misalnya, telah menyalurkan bantuan tidak kruang dari 30,9 miliar dolar AS untuk membeli persenjataan super canggih AS. Kuwait dan Uni Emirat Arab masing-masing menyumbangkan tidak kurang dari 10 miliar dolar AS.[8]

Setelah Perang Dingin berakhir, terjadi gejolak dalam internal politik AS. Pada Perang Dingin terjadi polarisasi domestik antara kelompok hawkish[9] yang mendukung alternatif militer dalam menghadapi komunisme dan kelompok doves[10] yang mendukung alternatif dipomatis. Sedangkan pada masa setelah itu, polarisasi yang muncul adalah kubu isolasionis dan kubu interanasionalis. Seperti pada masa sebelumnya, dalam kubu interanasionalis kembali terpecah ke dalam dua perspektif, unilateralisme yang memilih jalur militer dan multilateralisme yang mimilih jalur diplomatis.

Pertarungan politik domestik AS mengenai peranannya dalam politik internasional tersebut “dimenangkan” oleh kubu internasionalis-unilateral yang merupakan pandangan kaum neokonservatif. Neokonservatif merupakan sebuah perspektif kebijakan luar negeri AS yang berpendapat bahwa AS adalah kekuatan hegemonik dunia yang tidak tertandingi. Dalam hal ini, yang dijadikan sebagai superemasi adalah nilai-nilai kebebasan. Yang dituju bukannya keinginan untuk berkuasa tetapi keinginan untuk bebas. Untuk merealisasikan cita-cita ini, strategi preemptive strike dengan kekuatan militer adalah pilihan terbaik.[11]

Krisis Teluk antara Irak dan Kuwait yang dimulai sejak serbuan pasukan Baghdad ke Kuwait pada 2 Agustus 1990 adalah krisis pertama Pasca Perang Dingin yang harus dihadapi AS yang sejak tahun 1980 berada dalam bayang-bayang kaum neokonservatif – kecuali pada masa kepemimpinan Bill Clinton yang berpaham liberal internationalism. Untuk mengakhiri krisis tersebut, AS akhirnya mengirimkan ratusan ribu pasukannya ke Arab Saudi untuk membebaskan Kuwait dari cengkraman Irak. Dalam hal ini AS membentuk aliansi dengan Mesir, Suriah, Maroko, Pakistan, Bangladesh, Inggris dan Perancis. Mereka menamakan misi ini dengan Operation Desert Storm (Operasi Badai Gurun).

Di tengah-tengah kondisi tarik-menarik antara kubu isolasionis dan kubu interanasionalis ini, krisis Teluk membuat konsentrasi AS belum tertuju pada Iran. Hal ini didukung kondisi domestik Iran sendiri yang sejak 1989 hingga 1997 dipimpin oleh Presiden Ali Akbar Hashemi Rafsanjani. Di bawah kepemimpinannya, Iran mulai melakukan rekonsiliasi dengan dunia internasional. Walaupun dari kalangan ruhaniawan senior (konservatif), akan tetapi Rafsanjani berpandangan moderat. Rafsanjani mengawali era keterbukaan Iran dengan dunia internasional termasuk dengan AS setelah sepuluh tahun terisolasi sejak Revolusi 1979. Proses rekonsiliasi ini kemudian diteruskan dan bahkan dipercepat oleh Presiden Muhammad Khatami (1997-2005). Di samping itu, normalisasi hubungan Iran-AS Paska Perang Dingin juga didukung oleh kondisi domestik AS. Setelah krisis Teluk berakhir,  kepemimpinan George H. W. Bush yang realis berakhir dan kursi kepresidenan diduduki oleh Bill Clinton (1992-2000) dari Partai Demokrat yang cenderung berpaham liberal internationalism. kebijakan luar negerinya diarahkan pada upaya-upaya penciptaan perdamaian dengan jalur diplomatis.

Penurunan tensi ketegangan antara Iran-AS sejak kurang lebih satu dekade berhenti. Pemilu Presiden 2001 menghantarkan kembali kaum neonkonservatif ke tampuk pemerintahan AS. Dalam pildato kenegaraan di depan Kongres akhir Januari 2002, Presiden George W Bush (2001-2004 dan 2004 – sekarang) menegaskan bahwa bersama Irak dan Korea Utara, Iran adalah ”axis of evil”. Ketegangan antarkedua negara semakin memuncak dan situasi di Timur Tengah kembali memanas ketika Iran pada 28 Juni 2005 kembali dipimpin oleh seorang tokoh konservatif garis keras Mahmoud Ahamadinejad. Presiden baru Republik Islam Iran ini mengambil langkah politik yang berlawanan dengan AS. Dia juga sering mengeluarkan komentar pedas menyerang kepentingan AS dan sekutu Timur Tengahnya Israel.

E. Penutup

Dua pemimpin garis keras dari dua negara yang bermusuhan ini kini saling berhadapan. Iran di bawah kepemimpinan Ahmadinejad mengambil langkah politik memberdayakan proyek nulir. AS, Israel dan sekutu-sekutu Baratnya menjadikan isu ini untuk mempertegas doktrin ”Poros Sentan”nya AS. Berbagai upaya diplomatis untuk memojokkan Iran dari embargo ekonomi hingga resolusi DK PBB telah berkali-kali diupayakan oleh AS. Namun Iran tetap bergeming. Bahkan kedua negara, sebagaimana yang sering dilaporkan oleh media,  telah mengambil langkah-langkah deterrent untuk saling menyerang.

Akankah AS dalam waktu dekat ini menyerang Iran? Secara sederhana, pertanyaan ini akan mudah diprediksi jawabannya setelah terpilih presiden baru AS dalam Pemilu Presiden pada November tahun ini, 2008. Dengan kata lain, nasib hubungan kedua negara ini di tentukan oleh siapa yang memimpin. Apabila Partai Demokrat yang liberal interanationalism memimpin, maka tensi ketegangan akan surut. Sedangkan apabila yang berkuasa adalah Partai Republik yang neoconsevatism, maka tensi ketegangan akan pasang, terlebih lagi apabila Iran juga dipimpin oleh tokoh dan kaum konservatif radikal seperti Ahmadinejad. Dan, mungkin juga akan berbeda kondisinya apabila yang memegang kekuasaan di Iran adalah tokoh dan kaum reformis moderat seperti Muhammad Khatami.

F. Daftar Pustaka

Ansari, Ali M., Supermasi Iran: Poros Setan atau Superpower Baru?, Zahra Publising House, Jakarta, 2008.

Global Jurnal Politik Internasional, Volume 2, Jakarta, 1991.

Khazhim, Musa& Hamzah, Alfian, Iran: Skenario Penghabisan, Ufuk Press, Jakarta, 2007.

Labib, Muhsin, Ahmadinejad! David di Tengah Angkara Goliath Dunia, Penerbit Hikmah, Bandung, 2006.

Musbah, A. Safril, Menguak Ulah Neokons: Menyingkap Agenda Terselubung Amerika dalam Memerangi Terorisme, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007.

Rahman, Mustafa Abdul, Iran Pasca Revolusi: Fenomena Pertarungan Kubu Reformis dan Konservatif, PT Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2003.

Setiawati, Siti Mutiah (editor), Irak di Bawah Kekuasaan Amerika: Dampaknya bagi Stabilitas Politik Timur Tengah dan Reaksi (Rakyat) Indonesia, PPMTT IHI FISIPOL UGM, Yogyakarta, 2004.

Taylor, Alan R., The Arab Balance of Power, Syracuse University Press Syracuse, New York, 1982.

Unger, Craig, Dinasti Bush-Dinasti Saud: Hubungan Rahasia antara Dua Dinasti Terkuat Dunia, Diwan, Jakarta, 2004.


[1] Smita Notosusanto, mengutip Stephen Ambrose dalam Rise to Globalism (New York: Penguin Books, 1986) hlm. 262, Global Jurnal Politik Internasional. Vol. 2, hal.45.

[2] Ali M. Ansari, Supremasi Iran: Poros Setan atau Superpower Baru?, hal 27.

[3] Ibid. Hal 56.

[4] Muhsin Labib, dkk, Amadinejad! David di Tengah Angkara Goliath Dunia, hal 59

[5] Ibid. Hal 62

[6] Ibid. Hal 76.

[7] Ibid. Hal 76

[8] Musa Kazhim & Alfian Hamzah, Iran: Skenario Penghabisan, hal 94.

[9] Disebut hawkish (elang) karena pandangan radikal dari kelompok yang juga disebut neokonservatif.

[10] Disebut doves (merpati) karena kelompok ini memilih jalan damai dalam menangani konflik-konflik internasional. Perspektif ini didukung oleh kaum realist dan liberal interanasionalist. Lihat A. Safril Mubah, Menguak Ulah Neokons: Menyingkap Agenda Terselubung Amerika dalam Memerangi Terorisme, hal 40-50.

[11] Lihat A. Safril Mubah, Menguak Ulah Neokons: Menyingkap Agenda Terselubung Amerika dalam Memerangi Terorisme, hal 40-42.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: