bilad’s Blog


MIKAIL, AKU JATUH CINTA
November 19, 2008, 11:06 pm
Filed under: short story | Tags:

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } A:link { so-language: zxx } –>

MIKAIL, AKU JATUH CINTA

Dua hari yang lalu aku tiba di Pare. Kota kecil di kabupaten Kediri ini dikenal dengan “Kampung Inggris”, karena terdapat lebih dari empat puluh lembaga kursus bahasa Inggris. Kemarin aku diantar oleh Eka teman sekamarku berkeliling mencari tempat kursus yang bagus. Aku tinggal di Manggala Putri. Di asrama ini kami diwajibkan speak in English 24 jam. Kami juga mendapat bimbingan dari para tutor.

Sejak pagi aku berada di kamar dan hanya sesekali keluar duduk di depan pintu kamar. Aku masih malu bertemu teman-teman karena aku belum bisa berbahasa Inggris – walaupun sebenarnya untuk anggota baru masih belum diwajibkan berbicara dalam bahasa Inggris.

Pukul delapan malam, Eka, teman sekamarku, baru saja datang dari kursusnya. Sementara aku sedang berbaring sejak selesai sholat Isya. Setelah beres-beres sebentar, dia merebahkan diri di sampingku. Obrolan pun mengalir. “Ya, kursus kamu kan dimulai dua minggu lagi,” ujarnya.

Iya. Memangnya kenapa Ka?” sahutku datar.

Tadi siang aku bertemu dengan temanku Asep. Teachernya di Elfast English Course, Mr. Andre, menawari dia mengajar. Nah, dia kan mulai mengajar dua minggu lagi, jadi untuk latihan dia mau mengajar member Manggala Putri yang baru,” lanjutnya.

Maksudnya, dia mau mengajar di sini?” tanyaku menegaskan.

Iya. Tapi cuma dua minggu. Gratis kok! Lumayan lah untuk modal kamu sebelum kursus di Mahesa English Course dimulai”  sambil menatapku dia mencoba meyakinkan.

Oh ngono toh.. Yo wis aku ikut. Jam berapa? Di mana?” responku antusias.

Jam 7 pagi di teras asrama. Dimulai besok Senin.”

Senin dini hari kami sholat subuh berjamaah di ruang tengah. Lalu dilanjutkan dengan Discussion Program. Dengan topik yang ditentukan, kami mendiskusikannya dalam bahasa Inggris. Aku yang baru tiga kali mengikuti program ini masih gagap, malah kebanyakan diam. Tapi partner bicara yang juga ditentukan membimbingku pelan-pelan.

Pukul 06.00 program selesai. Setelah itu kami kembali ke kamar masing-masing. Semuanya sibuk bersiap-siap pergi belajar ke lembaga-lembaga kursus. Pukul 07.10, seteleh selesai mandi,  beres-beres dan sarapan, aku keluar dari kamarku menuju teras. Sesampainya di teras, Rini, Dyah, Fitri, Eva dan Alfiyah sudah berkumpul. Karena menghadap ke jalan umum, di sekeliling teras itu dipasang papan setengah badan agar nyaman untuk tempat diskusi. Mereka duduk melingkar. Seorang lelaki bertubuh sedang, berambut keriting tapi tertata rapih dan berwajah manis duduk bersama mereka. “Mungkin dialah Asep yang mau ngajar kami”, tebakku dalam hati. Aku pun duduk bergabung dengan mereka. Asep memandangku sambil melayangkan senyum.

Pagi! Nama kamu siapa?,” sapanya ramah.

Soraya,” jawabku simpel.

Perkenalan pun berlangsung, dan dilanjutkan dengan materi. Kelas berlangsung selama satu jam. Bagi saya yang masih awam tentang bahasa Inggris, Asep itu orang yang cerdas. Dia menerangkan dengan jelas dan mudah difahami. Padahal ini kan kali pertama dia mengajar.

Setelah satu minggu berjalan, aku semakin akrab dengan Kak Asep – aku memanggilnya Kakak karena dia tiga tahun lebih tua –. Setiap selesai kelas aku sering mengajaknya diskusi tentang materi yang belum aku mengerti. Aku juga sering bertanya tentang pengalaman-pengalamannya, tentang perjalanan hidupnya.

Kalau boleh Aya tahu, bagaimana ceritanya Kak Asep bisa tinggal di Pare?,” celetukku pada satu kesempatan.

Wah panjang ceritanya,” jawabnya ringan.

Apa gak bisa diperpendek?,” timpalku dengan sedikit tawa. Dia pun tertawa.

Oke oke. Begini ceritanya,” dengan sisa tawanya sambil mengatur posisi duduk agar terkesan serius dia mulai bercerita – aku kembali tertawa karena gayanya yang sok dewasa itu, tapi aku tahu dia cuma mencoba untuk familier. “Dengarkan baik-baik… Juli 2004 saya  lulus dari Madrasah Aliyah di Buntet Pesantren, Cirebon. Tetapi, saya teh[1] tidak langsung pulang ke Sumedang. Saya tetap tinggal di pesantren. Akhir tahun menjelang lebaran baru saya teh pulang.”

Waktu itu,” sambungnya, “rencananya setelah lebaran saya akan melanjutkan nyantri di pesantren di Jawa Timur. Tapi satu minggu setelah lebaran saya jatuh sakit sampai dua bulan lamanya. Setelah itu saya teh bingung, kalau tetap pergi ke pesantren saya sudah tertinggal pelajaran. Nah, atas saran paman Na’im saya berangkat ke Pare pada awal Maret 2005. Beliau pernah belajar di sana selama satu tahun. Atas sarannya juga saya mendaftar di Elfast. Saya teh mengambil dua program dalam satu bulan, dan di bulan Juli semua program di sana sudah saya ambil. Pada bulan itu juga saya mengikuti SPMB di Universitas Brawijaya, tetapi saya gagal. Lantas satu hari setelah pengumuman saya pergi ke Yogyakarta dan Semarang mencari kampus yang masih membuka pendaftaran. Tetapi semuanya sudah tutup. Ada sih kampus yang menbuka pendaftaran beberapa jurusan, tapi saya tidak tertarik.”

Betul juga. Panjang ceritanya…” celetukku dalam hati.

Dari Semarang dan Jogja,” dia melanjutkan, “saya kembali ke Pare. Begitu Mr.andre mengetahui saya gagal dalam SPMB dan tidak mempunyai alternatif lain, beliau segera menghubungi saya dan meminta saya mengajar di Elfast dan mengelola asramanya, Fast Community. Saya mulai mengajar nanti tanggal 25 September. Nah, untuk persiapan, makanya saya sejak satu minggu yang lalu mengajar Aya di sini. Begitu ceritanya..”

Oh, begitu toh ceritanya. Panjang juga ya?” selorohku, “Eh, berarti Aya jadi kelinci percobaan dong?”

Suasana pun mencair. Kami menjadi semakin akrab.

***

Dua minggu berlalu. Kelas percobaan pun berakhir. Kak Asep mulai mengajar. Aku mulai berangkat kursus di Mahesa  – aku mengikuti program gelombang kedua setiap bulan tanggal 25. Sejak saat itu, kami jarang sekali bertemu. Aku sibuk dengan pelajaranku. Dia sibuk dengan mengajarnya. Keakraban yang terjalin selama dua minggu itu membuat hari-hariku terasa sepi. Sebenarnya aku ingin sekali berbincang-bincang lagi dengannya, tapi sulit. Dari pagi sampai sore dia mengajar di Elfast. Dari malam sampai pagi lagi dia mengelola Fast Community.

Aku semakin bingung. Uang tabunganku sekarang tersisa Rp.50.000,-. Sedangkan aku baru dua bulan belajar. Agar hasilnya maksimal, paling tidak aku membutuhkan waktu dua bulan lagi. Tapi bagaimana aku harus membayar kos Rp.90.000? Lalu bagaimana aku menyambung hidup? Lebaran kemarin pulang ke Blitar pun ibu hanya memberi uang untuk ongkos perjalanan. Sekarang tanggal 1 Desember 2005, sembilan hari lagi tanggal 10 aku harus membayar biaya kos untuk bulan ini, dan tanggal 25 aku harus mendaftar program baru.

Esok paginya ketika aku keluar asrama hendak berangkat kursus, aku tersentak.

Assalamu’alaikum. Mau kemana Ya?”

Wa. Wa’alaikum salam” jawabku dengan nada suara bergetar. Aku paham suara itu. Suara Kak Asep.

Ma..Ma..Mau kursus Kak”. Aku tidak tahu mengapa waktu itu aku tiba-tiba grogi sekali.

Oh.. Ya sudah. Hati-hati ya!,” jawabnya sambil berjalan agak cepat.

Ayo! ini kesempatanku. Aku harus beranikan diri. Cepat!,” desakku dalam hati. ”Kak, tunggu!” aku memanggilnya. Dia berhenti, menengok ke arahku.

Ada apa Ya?

Kak Asep buru-buru ya?”

Gak juga sih. Ada apa?”

Begini kak. Emm, Aya mau bicara banyak sama Kakak. Kapan Kakak punya waktu?”

Oh begitu. Emm, kapan yah..Sabtu deh. Pagi?”

Iya iya. Di mana?”

Terserah kamu saja Ya. Emm, di teras Manggala Putri deh. Jam 6. Tunggu ya?”

Oke deh Kak. Terima kasih. Aya mau berangkat kursus dulu ya?”

Kami pun segera berpisah, kembali ke dalam kesibukan masing-masing. Kini aku bisa ceria.

Hari sabtu pagi setelah sholat subuh berjamaah, kami kembali ke kamar masing-masing. Hari sabtu dan minggu semua kegiatan libur. Sementara Eka berbaring, saya membaca al Quran di sampingnya. Setelah itu aku mandi dan stand by di teras.

Setelah sekitar 15 menit menunggu. Pukul 06.10 dengan memakai kaos biru bertuliskan “never ending Jogja” dan celana hitam, dengan rambut hitam keritingnya yang disisir rapih kak Asep muncul dari arah kosnya yang berada sekitar 200 meter di sebelah kiri asrama.

Assalamu’alaikum! Sory telat.”

Wa’alakumussalam. Gak apa-apa Kak. Aya gak lama kok nunggu,” jawabku datar. Dia lantas duduk di sebelah kiriku sekitar jarak satu meter bersandar di tembok menyesuaikan posisiku yang juga bersandar menghadap ke arah jalan umum.

Ada masalah ? Kok murung?,” dia memulai obrolan, “kita mengobrol santai saja.”

Begini kak. Tapi sebelumnya Aya minta maaf sudah merepotkan” aku berbasa-basi sejenak. Suaraku bergetar. Seperti kemarin, aku grogi.

Ehm,” aku coba menenangkan perasaanku dan mulai bercerita, “ Aya tinggal di Pare tanpa sepengetahuan ibu.”

Hah?”, dia kaget.

Waktu selesai ujian semester kemarin ibu bilang, ‘Nak, ibu sudah tidak mampu lagi membiayai sekolahmu. Apalagi kamu mau naik kelas tiga SMA, lebih besar biayanya. Kamu kan tahu ibu hanya seorang kuli di perkebunan teh. Kemarin mas Slamet berkunjung lagi. Katanya dia siap membiayaimu sekolah.’

Mendengar itu, Aya tidak berkomentar sedikit pun. Berhari-hari Aya mengurung diri di dalam kamar. Wajah ini sampai bengkak karena banyak menangis. Akhrinya, Aya memutuskan untuk kabur dari rumah. Aya pergi ke rumah Fadilah, teman satu kelas. Rumahnya di desa sebelah. Selama beberapa hari Aya tinggal di rumahnya, Fadilah selalu mencoba menghibur dan mencarikan solusi.

Dia akhirnya menemukan ide, ’begini saja Ya. Kamu pergi ke Pare. Kamu di sana belajar bahasa Inggris untuk modal kamu bekerja agar bisa menabung buat masa depanmu. Kamu punya simpanan?’. ‘Punya,’ Aya menjawab, ‘ Tapi cuma seratus ratus ribu.’. ‘Baiklah. Kamu nanti saya kasihkan uang. Aku mengambilnya dari tabunganku dan meminta tambahan ke ibu.’. Dia mengetahui tentang Pare karena kakaknya pernah belajar bahasa Inggris di Manggala Putra. Esoknya, dia memberikan Rp. 800.000,- dan rute menuju Pare. ‘Masya Allah. Kamu baik sekali Fad. Bagaimana aku bisa membalasmu?’ Aya tak kuasa menahan airmata dan langsung memeluknya. Tetapi sebelum berangkat Aya berjanji,’ Fad, aku janji akan membayarnya. Aku anggap uang ini sebagai hutang. Terima kasih banyak Fad. Kamu sahabat sejatiku. Semoga Allah SWT merahmati kamu dan keluargamu.’

Ya Allah. Kok seberat ini perjalanannya. Eh, tapi siapa itu mas Slamet, kok sampai bersedia membiayai sekolah tapi Aya sendiri malah menolaknya?,” selidiknya.

Dia adik sepupunya ibu. Dia mempunyai dua anak, tapi istrinya wafat dua tahun yang lalu. Sudah beberapa kali semenjak kematian istrinya dia mendatangi ibu mengutarakan niatnya memperistri Aya. Ibu selalu menolaknya karena Aya ketika itu masih kelas satu SMA. Entah kenapa tiba-tiba saja ibu takluk dan enam bulan yang lalu dia nekat melamar Aya. Tapi terang-terangan Aya menolaknya. Aya sempat kabur dari rumah beberapa hari ke rumah Fadilah.”

Emm… Lalu?” dia nampak sangat simpatik mendengar ceritaku.

Lebaran kemarin Aya pulang ke Blitar. Aya minta maaf ke ibu. Aya bersimpuh, menangis di pangkuannya. Aya ungkapkan segala perasaan. Aya berjanji akan menjadi anak yang berbakti. Ibu yang sudah dua puluh dua tahun yatim piatu, ibu yang rambutnya kini mulai beruban mengusap-usap kepala Aya. Airmatanya mengalir deras.”

Setetes airmata jatuh dari kedua matanya. “Di mana ayahmu?”

Setelah menjadi yatim piatu, ibu tinggal di rumah salah seorang pamannya. Orangtuanya mas Slamet. Sekitar satu tahun kemudian, ibu yang baru saja menginjak dewasa berangkat ke Qatar menjadi TKW sebagai PRT. Apalah daya keluarga kami hampir semuanya petani dan buruh di perkebunan teh. Setelah tiga tahun, ibu pulang ke tanah air. Bukannya berkah yang dibawa, malah petaka. Ibu pulang ke tanah air dengan perut buncit enam bulan. Dia menjadi korban pelecehan seksual majikannya. Batin ibu sangat tertekan. Dia dikucilkan oleh orang-orang, oleh keluarganya. Tidak ada satu pun lelaki yang mau menikahinya. Tiga bulan kemudian, 5 April 1989 Aya pun lahir.”

Oh, masya Allah” lirihnya. Matanya merah berkaca-kaca dan pipinya kini basah oleh airmata yang banyak menetes menyimak ceritaku.

Setelah berhenti sejenak menghela nafas dan mengusap airmata, aku melanjutkan.

Dua hari sebelum Aya kembali ke Pare, ibu berkata, ’Nak. Ibu sama sekali tidak punya simpanan uang untuk biaya kursusmu. Ibu hanya bisa memberimu uang untuk ongkos kereta. Kamu segera selesaikan kursusnya. Lalu segera pulang. Ibu akan berusaha mencari pinjaman buat biaya kamu berangkat ke Taiwan.’ Mendengar itu Aya terkejut. Tapi sebelum Aya berkomentar ibu melanjutkan, ’Ini satu-satunya jalan kalau kamu mau menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Kamu harus menjadi orang pintar. Jangan seperti ibu yang bodoh. Apalagi kamu nanti bisa berbahasa Inggris, Insya Allah kamu akan berhasil. Inilah yang mampu ibu lakukan untuk masa depanmu anakku sayang.’ Ibu memeluk Aya. Airmata deras mengalir membasahi pipi kami.”

Aya baru dua bulan belajar,” suaraku makin pelan, “Aya menargetkan minimal dua bulan lagi tinggal di Pare. Tapi masalahnya sisa uang Aya sekarang kurang dari puluh ribu. Aya bingung Kak harus bagaimana.”

Kami berdua terdiam. Aku sudah kehabisan kata. Kak Asep mengerutkan kening sambil sesekali mengusap sisa airmatanya. Pipinya yang tadi basah, sekarang sudah kering. Sementara pipiku yang masih basah, aku lap dengan jilbabku. Entah kenapa suasana sekitar pun lengang. Jalan yang biasanya ramai oleh lalu-lalang orang pulang-pergi kursus, kini sepi. “Ah, mungkin karena hari sabtu kursus libur, makanya sepi” tukasku dalam hati.

Begini saja,” ujarnya tiba-tiba dengan suara pelan namun tegas, “setiap bulan saya teh digaji Rp. 500.000,-, silahkan Aya gunakan. Saya Insya Allah sudah lebih dari cukup dengan uang kiriman dari rumah.”

Ya Allah Kak. Bukan ini yang Aya maksud. Bukan. Maafkan Aya Kak.”

Sudah, gak apa-apa. Diterima saja. Ini adalah rezeki dari Allah untuk Aya. Dan saya hanyalah wasilahnya saja. Hanya ini yang sementara ini mampu saya lakukan untuk membantu Aya. Sudah. Sekarang Aya jangan sedih lagi. Fokuskan tenaga dan pikiran untuk belajar. Tingkatkan kemampuan speaking, reading, listening dan writtingnya. Ya?”

Aduh. Terima kasih banyak ya kak.. Terima kasih.”

Iya sama-sama. Ingat! Ini adalah bukti Keagungan Allah. Banyaklah bersyukur dengan banyak mengingat-Nya, beribadah dengan ikhlas dan benar, manfaatkan rezekinya dengan sebaik-baiknya. Jangan malas!”

Iya kak. Aya janji. Insya Allah.”

***

Ya Tuhan, aku tahu pertolongan-Mu akan selalu hadir di kala susahku. Engkau hadirkan dirinya. Di balik kecerdasannya, tersimpan kesederhanaan. Di balik kelembutan hatinya, tersimpan kemuliaan. Dia bagaikan Mikail[2] bagiku. Aku selalu merasa gugup ketika di depannya. Aku selalu merasa sepi ketika tidak di dekatnya,” lirihku sambil duduk di kursi pesawat yang terasa nyaman. Aku sandarkan kepalaku agak menengok ke kanan sambil memandang ke balik jendela pesawat. Langit dan samudera biru menyatu, membentang tanpa batas. Awan putih terhampar di antara dua biru itu.

Hatiku bergolak. Dia berdialog dengan dirinya sendiri.

Ah, terlalu berlebihan aku memujinya. Aku kan belum lama mengenalnya,”sangkalku.

Tapi, dia sudah terlalu baik bagiku. Padahal aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya sebatas teman. Hanya sebatas murid. Tapi, mengapa hati ini terasa gundah tak menentu? Mengapa wajahnya terus membayang di benakku? Apakah, apakah ini yang namanya cinta? Apakah aku jatuh cinta kepadanya? Kenapa aku tidak mengungkapkannya sebelum kembali ke Blitar, sebelum aku terbang dalam pesawat ini?

Kini, aku harus menunggu tiga tahun untuk kembali ke tanah air. Selama di Taiwan nanti, akan aku rawat benih cinta ini. Aku siram setiap pagi benih cinta ini, agar tumbuh bersemi. Tapi, apakah dia  mau menerimaku, menerima seorang mantan TKW?”


[1] Orang sunda ketika berbicara dalam bahasa sunda atau bahasa Indonesia sering mengucapkan “teh”  setelah subjek.

[2] Malaikat yang bertugas menurunkan rezeki untuk manusia.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: