bilad’s Blog


IRAN PASCA REVOLUSI ISLAM: KIPRAHNYA DI TIMUR TENGAH DAN ANCAMANNYA BAGI AS
November 19, 2008, 11:02 pm
Filed under: Essay | Tags:

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } A:link { so-language: zxx } –>

IRAN PASCA REVOLUSI ISLAM

KIPRAHNYA DI TIMUR TENGAH DAN ANCAMANNYA BAGI AS

Oleh: Cecep Zakarias El Bilad*

Di awal tahun 1979, Ayatullah Ruhullah Khomeini memimpin sebuah revolusi Islam menumbangkan penguasa monarkhi, Shah Pahlevi. Kemenangan rakyat Iran ini adalah bencana besar bagi Amerika Serikat, karena hal ini sama artinya dengan kehilangan sahabat karib. Terlebih lagi pemerintahan baru yang dipimpin oleh kaum Mullah sangat anti-AS[1], bahkan Ayatullah Khomeini menjulukinya ”Setan Besar”. Iran memiliki arti strategis bagi AS sebagai negara penyangga untuk membendung wilayah Timur Tengah dari pengaruh komunisme Uni Soviet, dan juga untuk menjamin keamanan sekutu utamannya di wilayah kaya minyak tersebut, Israel.

Sejak berada dalam pangkuan pemerintahan Islam-Syiah, Iran mengorientasikan kebijakan luar negerinya pada penyebaran nilai-nilai revolusi Islam ke negara-negara Arab dan Islam agar kaum Muslimin bangkit melawan para penguasa yang represif (dan sekuler). Cita-cita ini terbukti dengan lahirnya gerakan-gerakan perlawanan di berbagai wilayah konflik di Timur Tengah seperti Lebanon, Palestina dan Irak, tidak lama setelah gelombang revolusi menyapu Iran.

Iran dan Konflik di Timur Tengah

Belum genap satu tahun pasca revolusi, pada September 1980 Iran harus menghadapi gempuran dari pasukan Irak. Serangan tersebut dilakukan karena penguasa Irak, Saddam Hussein (1979-2003), merasa khawatir akan masuknya pengaruh Revolusi Islam Iran ke Irak dan negara-negara Arab lainnya. Perang yang berlangsung selama delapan tahun ini membawa dampak politik yang besar di Timur Tengah, karena memecah negara-negara Arab ke dalam dua “poros”. Dua negara Arab “radikal”, Libya dan Suriah, berada di pihak Iran. Langkah kedua negara ini memang sangat berani, karena Uni Soviet yang merupakan pensuplay utama persenjataannya berada di pihak Baghdad. Untuk mengimbangi poros Iran-Libya-Suriah, negara-negara Teluk membentuk GCC (Gulf Coooperation Council) yang berangggotakan Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman dan Uni Emirat Arab, sedangkan negara-negara Arab konservatif membentuk ACC (Arab Cooperation Council) yang beranggotakan Mesir, Irak, Yaman dan Yordania.[2]

Dalam krisis Teluk I ini, AS mendukung pihak Baghdad. Ini adalah kesempatan AS untuk membalas dendam kepada Iran yang telah mempermalukannya dengan aksi penyanderaan 52 staf kedutaan besar AS di Teheran oleh sejumlah mahasiswa revolusioner pada November 1979. AS juga menggandeng sekutu-sekutu Baratnya untuk membela Baghdad.

Konstelasi konflik juga terjadi di bagian lain Timur Tengah seperti di Lebanon dan Palestina. Lebanon dan Palestina memang tidak berbatasan langsung dengan Iran, namun ini tidak menghalangi Iran untuk ”campur tangan” dalam konflik di kedua wilayah ini. Perang saudara di Lebanon meletus pertama kali pada April 1975 antara golongan Muslim melawan golongan Kristen. Akan tetapi pada perkembangannya, konflik cenderung terjadi antarsesama golongan Muslim dan sesama golongan Kristen.

Keterlibatan Iran dalam konflik Lebanon adalah karena alasan ideologis-politis. Iran banyak memberikan dukungan atas perjuangan kaum Syi’ah di Lebanon yang walaupun mayoritas tetapi diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Beirut yang didominasi oleh golongan Maronit dan Islam Sunni. Ketika terjadi eskalasi konflik, dukungan kuat Iran tertuju kepada Hizbullah dan Amal Al-Islam. Kedua milisi bersenjata ini adalah yang garis perjuangannya konsisten pada nilai-nilai Islam Syiah.

Hizbullah adalah kelompok yang dibentuk oleh Sayyid Muhammad Hussein Fadhlalah. Gerakan yang sekarang dipimpin oleh Sayyid Hasan Nashrallah ini memperoleh dukungan dana dan perenjataan dari Teheran, sehingga pada saat ini Hizbulllah menjelma menjadi milisi bersenjata terkuat di Lebanon. Pada Juni 1975, Imam Syiah Lebanon, Ayatullah Musa Al-Sadr mendirikan Harakat Al-Mahrumin. Gerakan ini kemudian membentuk sayap militer Amal (Afwaj Al-Muqawamah Al-Lubnaniyah). Setelah Imam Musa wafat pada tahun 1978, Amal terpecah menjadi dua, yaitu Amal pimpinan Nabih Berri yang berorientasi nasionalis-sekular dan Amal Al-Islam pimpinan Hussein Al-Musawi yang ”fundamentalis-Islam”[3]. Di samping itu, Iran juga mendukung beberapa kelompok perlawanan lain seperti Jihad Islam, Organisasi Keadilan Revolusioner (keduanya berpaham Syi’ah), dan Tauhid (Sunni).

Selain Iran, Suriah dan Israel juga turut andil dalam konflik Lebanon. Suriah menjadi penyokong milisi Amal dan Druze. Sedangkan Israel bersekutu dengan Partai Nasional Liberal (NLP) dan SLA (South Lebanon Army). Di samping itu, Israel sering kali terlibat pertempuran langsung dengan milisi-milisi Islam. Pada Juli 2006, misalnya, Israel menyerbu markas-markas Hizbullah di Lebanon Selatan.

Sejak runtuhnya rezim Saddam Hussein di Irak tahun 2003, Iran adalah satu-satunya negara Timur Tengah yang konsisten dan aktif mendukung perjuangan bangsa Palestina. Teheran sangat mendukung kelompok-kelompok perjuangan “garis keras” Palestina seperti Hammas dan Jihad Islam. Sementara itu negara-negara Arab sejak Perang 6 Hari Juni 1967 bersikap kompromistis-individualis dalam menghadapi Israel. Mesir, misalnya, yang pada waktu pemerintahan Gamal Abdul Nasser (1954-1970) menjadi pemimpin negara-negara Arab dalam beberapa kali perang melawan Israel, akhirnya “menyerah” ketika Presiden Mesir Anwar Sadat (1970-1981) menandatangani Perjanjian Damai Camp David dengan Israel pada tahun 1979 untuk mengakui eksistensi negara Israel dengan “imbalan” mendapatkan kembali Gurun Sinai. Demikian halnya dengan negara-negara Arab Teluk yang semuanya adalah sekutu dekat AS.

Kebangkitan Syiah di Irak

Irak adalah negara tetangga Iran yang 60-65% penduduknya berpaham Syiah, namun politik dan pemerintahannya selalu dikuasai oleh kaum Sunni. Bahkan sejak Saddam Hussein berkuasa, represi pemerintah terhadap kaum Syiah semakin meningkat. Pada tahun 1980, misalnya, pemimpin Syiah Irak, Imam Ayatullah Baqir Al-Shadr, dihukum mati bersama keluarga dan sejumlah pengikutnya.[4] Oleh karena itu, banyak sekali rakyat dan pemimpin Syiah Irak yang melarikan diri ke Iran untuk mencari perlindungan, dan menjadikan Iran sebagai tempat pembentukan dan basis gerakan subversif terhadap rezim Saddam Hussein. Paling tidak ada empat kelompok oposisi Syiah Irak yang berbasis di Teheran, yaitu SAIRI (The Supreme Assembly of the Islamic Revolution in Iraq), Partai Dakwah Islam, Al-Mujahidin dan Organisasi Aksi Islam. Hal ini kemungkinan karena kedua negara saling berbatasan, serta adanya ikatan keagamaan sebagai sesama pemeluk mazhab Syiah Itsna Asy’ariyah (Syiah Dua Belas Imam)[5].

Tumbangnya rezim Saddam Hussein mengakhiri penderitaan kaum Syiah Irak dari represi rezim tersebut, namun menghantarkan pada ancaman baru yang lebih besar, yakni Amerika Serikat. Keberadaan AS sebagai hegemon baru di Irak menjadi musuh bagi para kelompok oposisi dan sayap militernya yang dulu menentang Saddam Hussein, baik yang berbasis Sunni maupun Syiah. Di antara sekian banyak gerakan yang ada, yang paling keras melawan pasukan AS di Irak adalah milisi bersenjata Syiah Tentara Mahdi (Jaisy Al-Mahdi) yang dipimpin oleh Mullah Moqtada Al-Sadr. Tentara Mahdi yang mendapat dukungan penuh dari Teheran memulai perang melawan pasukan AS dan sekutunya sejak tahun 2004. Bahkan perjuangan mereka kini mendapat restu dari pemimpin tertinggi Syiah Irak, Ayatullah Ali Al-Sistani (sebelumnya Al-Sistani mendukung pemerintahan koalisi), serta dukungan dari semua kelompok perlawanan Syiah, Kurdi dan Sunni.

Peta Pertahanan Iran

Prinsip politik luar negeri Iran pada era awal revolusi adalah La Syarqiyyah, La Gharbiyyah (tidak timur, tidak barat). Akibat penerapan prinsip tersebut, Iran diisolasi oleh ”dunia internasional” atas propaganda AS. Hanya Suriah dan Libya yang sejalan dengan Iran dalam perjuangan menentang AS. Suriah dan Libya mendukung Iran dalam menghadapi aliansi Irak, AS, Uni Soviet, Barat dan Arab dalam Perang Teluk I. Setelah Perang berakhir, Sang Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Khomeini, wafat. Sejak itu Iran telah beberapa kali melewati suksesi kepemimpinan, namun warna politik luar negeri Iran tidak mengalami perubahan yang substantif. Iran hingga kini masih tetap anti-AS dan anti-Israel.

Ekspor” revolusi merupakan proyek utama pemerintahan revolusioner Iran. Segitiga konflik Timur Tengah yakni Lebanon, Palestina dan Irak menjadi target utama Iran dalam memberikan dukungan dan fasilitas bagi gerakan-gerakan perlawan revolusioner. Di Lebanon dan Irak, faktor ideologis-politis mendasari sikap andil Teheran dalam perjuangan milisi-milisi Syiah seperti Hizbullah dan Amal Al-Islam melawan pemerintahan sekuler-represif dan juga Israel. Sedangkan di Palestina, yang mendasari kegigihan Iran membantu perjuangan bangsa Palestina adalah semangat persatuan sebagai ummah, yakni ikatan sebagai sesama umat Islam. Dengan semangat ini pula, Iran lebih jauh juga terlibat dalam pergolakan-pergolakan Islam di belahan bumi lain seperti di Bosnia, Afghanistan, Aljazair, Bahrain, dan Arab Saudi.

Prinsip La Syarqiyyah, La Gharbiyyah dan kebijakan ekspor revolusi bukanlah semata sikap pragmatis kaum revolusioner Iran, namun ini adalah strategi brilian dalam membangun citra dan peta pertahanan di masa depan. AS yang telah sekian lama menaruh dendam terhadap Iran seperti kehabisan akal untuk menghancurkan negeri kaum Mullah ini. Embargo militer, ekonomi, pembekuan aset Iran di luar negeri dengan atau tanpa Resolusi DK PBB, misalnya, tidak mampu menjegal Iran agar menghentikan proyek nuklirnya. Kalau pun akhirnya AS terpaksa menggempur Iran, maka tidak menutup kemungkinan poros Iran-Suriah-Libya akan kembali bangkit. Iran juga dapat memainkan kartu Hizbullah, Amal Al-Islam, Hammas, Jihad Islam dan Tentara Mahdi. Sebagai gambaran, dalam perang Juli 2006 antara Israel-Hizbullah di Lebanon Selatan, Hizbullah berhasil memukul mundur pasukan Israel. Sehingga untuk sekarang ini, Iran nampaknya masih terlalu sulit untuk dilumpuhkan, bahkan bagi AS sekalipun. Iran kini dapat menuai apa yang dulu pernah ditanamnya, kapan pun itu diperlukan.

Daftar Pustaka

Buku

Kazhim, Musa & Alfian Hamzah, Iran: Skenario Penghabisan, Jakarta: Ufuk Press, 2007.

Labib, Muhsin, Ibrahim Muharam, Musa Kazhim, Alfian Hamzah, Ahmadinejad: David di Tengah Angkara Golath Dunia, Jakarta: Penerbit Hikmah (PT Mizan Republika), 2006.

Mubah, A. Safril, Menguak Ulah Neokons: Menyingkap Agenda Terselubung Amerika dalam Memerangi Terorisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Rahman, Mustafa Abd., Iran Pasca Revolusi: Fenomena Pertarungan Kubu Reformis dan Konservatif, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003.

Setiawati, Dra. Siti Mutiah, M.A. (ed), Irak di Bawah Kekuasaan Amerika: Dampaknya Bagi Stabilitas Politik Timur Tengah dan Reaksi (Rakyat) Indonesia, Yogyakarta:PPMTT IHI FISIPOL UGM, 2004.

Shihab, M. Quraish, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?: Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran, Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2007.

Sihbudi, M. Riza, Bara Timur Tengah: Islam, Dunia Arab, Iran, Bandung: Penerbit Mizan, 1993.

——————–, Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington, Bandung: Penerbit Mizan, 1992.

——————–, Profil Negara-Negara Timur Tengah (Buku Satu), Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1995.

Jurnal

GLOBAL: Jurnal Politik Internasional, Vol. 9, No.2, Desember 2007-Mei 2008. Diterbitkan oleh Depertemen Hubungan Internasional FISIP UI.

————————————————, 1991. Diterbitkan Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.


* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang. Esai ini ditujukan untuk mengikuti Lomba Penulisan Esai tentang Iran 2008, yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Islam Iran berkerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia , dalam rangka merayakan kemenangan Revolusi Islam yang ke-29 dan Hari Nasional Iran.

[1] Di samping anti-AS, Ayatullah Khomeini dan para Mullah pengikutnya juga sangat anti-Uni Soviet. Khomeini menyebut AS sebagai “Setan Besar” dan Uni Soviet sebagai “Setan Merah”.

[2] M. Riza Sihbudi, Bara Timur Tengah: Islam, Dunia Arab, Iran. (Bandung:Penerbit Mizan, 1991),  hal.154-155.

[3] Hussein Al-Musawi berpandangan bahwa negara harus diatur sesuai dengan Syariat Islam (mazhab Syiah) seperti apa yang telah digariskan oleh pendiri Amal Imam Musa Al-Sadr, sedangkan Nabih Berri cenderung berpandangan sekuler yang memandang bahwa agama harus dipisahkan dari politik.

[4] Ibid., hlm. 191.

[5] Syiah Itsna Asyariah, biasa juga dikenal dengan nama Imamiyah atau Ja’fariyah, adalah kelompok Syiah yang memercayai adanya dua belas imam yang kesemuanya dari keturunan Ali bin Thalib dan Fathimah az-Zahra, putri Rasulullah saw. Kelompok ini merupakan mayoritas penduduk Iran, Irak, serta ditemukan juga di beberapa daerah di Suriah, Kuwait, Bahrain, India, juga di Saudi Arabia, dan beberapa daerah (bekas) Uni Sovyet. (M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?: Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran, Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2007. hal. 83)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: