bilad’s Blog


Ayat-Ayat Ekologis dalam Al Quran
May 4, 2009, 2:32 am
Filed under: Essay | Tags:

Ayat-Ayat Ekologis dalam Al Quran

Oleh. Cecep Zakarias El Bilad

Bencana alam akhir-akhir ini sering kali terjadi. Banjir, tanah longsor dan kekeringan adalah bencana-bencana yang apabila ditelusuri disebabkan oleh ulah manusia sendiri dengan menggunduli hutan tanpa ada upaya perbaikan seperti reboisasi. Bencana-bencana itu semakin sering terjadi karena aktivitas-aktivitas manusia yang merusak lingkungan meningkat sejak industrialisasi merata hampir di seluruh dunia.

Bencana-bencana tersebut adalah konsekuensi yang harus ditanggung oleh manusia. Allah SWT menjadikan manusia sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi. Allah memberikan pengajaran tentang proses-proses alam sebagai tuntunan bagi manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak memperhatikan tuntunan-tuntunan itu dan bertindak sekehendaknya dengan mengeksploitasi alam untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Allah mengajari manusia tentang berbagai proses kejadian alam di dalam al Quran. Allah juga melarang manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi karena hal itu dapat berimbas negatif bagi kelangsungan hidup manusia sendiri. Dengan semua anugerah yang diberikan, Allah menguji manusia untuk menentukan siapa di antara mereka yang beriman dan siapa yang ingkar. Mereka yang beriman akan diberikan kebahagiaan di akherat dan mereka yang ingkar akan mendapatkan siksaan.

Keywords: ekologi, eksploitasi, kerusakan alam, aktivitas, pemimpin.

Pendahuluan

Ekologi kini menjadi isu penting dan mendesak bagi umat manusia. Berbagai bencana yang akhir-akhir ini di sering kali terjadi di hampir di seluruh pelosok dunia menuntut manusia untuk meresponnya dengan serius. Hal ini dikarenakan permasalahan ekologi menyangkut keamanan dan keselamatan umat manusia.

Kerusakan ekologi yang menyebabkan berbagai bencana hanya sedikit yang murni merupakan fenomena alam. Sebagian besar adalah akibat ulah manusia yang tidak melestarikan alam. Banyak sekali aktifitas manusia baik secara disengaja ataupun tidak yang berdampak negatif terhadap alam, misalnya penggalian sumber-sumber alam seperti minyak bumi, emas dan timah, penggunaan kendaraan bermotor, pembangunan pabrik-pabrik, pembukaan hutan untuk perkebunan, dan lain sebagainya.  Aktifitas-aktifitas tersebut tidak akan menimbulkan kerusakan apabila diiringi dengan usaha-usaha perbaikan secara konsisten.

  1. Manusia adalah mahluk Tuhan yang diciptakan sempurna dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain. Dengan anugerah akal manusia menjadi pemimpin bagi kehidupan di bumi. Islam telah menegaskan peran dan fungsi manusia sebagai pemimpin di atas bumi. Islam pun tentu memberikan arahan-arahan bagaimana menjalankan tugas kepemimpinannya itu di dalam al Quran dan al Hadits. Makalah ini ingin menelusuri   dalil-dalil yang menjadi dasar bagi umat Islam untuk berperilaku arif terhadap alam. Pembahasan akan ditujukan untuk menelusuri ayat-ayat dan hadits apa saja yang memerintahkan manusia untuk memperdulikan lingkungan.

Dalam hubungannya dengan alam, Islam menekankan kepada umatnya untuk memperlakukan lingkungan dengan tidak semena-mena. Keberlangsungan kelestarian alam juga merupakan keberlangsungan kelestarian umat manusia. Bumi adalah satu-satunya tempat tinggal manusia sejak ratusan bahkan jutaan tahun yang lalu. Memelihara bumi adalah manifestasi rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Pembahasan

A. Beberapa Permasalahan Ekologis

Alam diciptakan Allah SWT adalah sebagai sebuah sistem. Layaknya setiap sistem, sistem alam terdiri dari elemen-elemen yang memiliki posisi dan fungsi masing-masing, serta saling berkaitan satu sama lain. Alam yang luasnya tidak terukur oleh akal dan daya cipta manusia tentu memiliki miliaran dan bahkan trilyunan unsur-unsur penyusun. Bumi dengan segala isinya yang termasuk di dalamnya manusia adalah bagian dari unsur-unsur tersebut.

Berbeda dengan bumi dan mahluk lainnya, manusia memiliki akal sehingga dapat memanfaatkan segala potensi yang ada di sekitarnya demi kelangsungan hidupnya. Akal adalah anugerah paling istimewa dari Tuhan untuk mahluknya. Karena dengan kepemilikannya akan akal, manusia diturunkan ke bumi untuk menjadi pemimpin.

øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al Baqarah:30).

óOs9r& ts? ¨br& ©!$# t¤‚y™ /ä3s9 $¨B ’Îû ÇÚö‘F{$# y7ù=àÿø9$#ur “̍øgrB ’Îû ̍óst7ø9$# ¾Ín͐öDr’Î/ à7Å¡ôJãƒur uä!$yJ¡¡9$# br& yìs)s? ’n?tã ÇÚö‘F{$# žwÎ) ÿ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ 3 ¨bÎ) ©!$# Ĩ$¨Z9$$Î/ Ô$râäts9 ÒO‹Ïm§‘ ÇÏÎÈ

Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al Hajj:65).

Abul A’la Al Maududi mengartikan khalifah secara sederhana adalah setiap umat yang dikaruniai bagian kekuasaan di suatu tempat di atas bumi ini.[1] Manusia dengan kapasitas masing-masing memiliki kekuasaan atas bumi, baik berupa tanah, air, tumbuh-tumbuhan dan kekayaan bumi lainnya. Dengan akalnya manusia mengolah bagian-bagiannya masing-masing untuk memenuhi segala kepentingannya.

Pada tataran prosesnya kemudian manusia memiliki kehendak dan caranya masing-masing. Kebebasan yang diberikan Allah ini adalah tantangan bagi manusia untuk menguji tingkat ketaatan manusia. Firman Allah:

  1. §NèO öNä3»oYù=yèy_ y#Í´¯»n=yz ’Îû ÇÚö‘F{$# .`ÏB öNÏdω÷èt/ tÝàZoYÏ9 y#ø‹x. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÍÈ

Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus:14).

Ternyata dengan kebebasan yang diberikan kepada manusia ini kemudian menimbulkan permasalahan karena manusia cenderung untuk melakukan kerusakan. Sebagaimana yang diyakini oleh Kenneth Waltz, bahwa hakekat manusia adalah agresif/anarkhi dan haus akan kekuasaan.[2] Hanya demi memperoleh keuntungan yang maksimal, manusia mengeksploitasi kekayaan alam tanpa mengindahkan prosedur untuk kelestariannya.

Pengrusakan alam pada skala yang luas dan kontinyu dimulai sejak revolusi industri di Inggris abad ke 16. Sejak itu persebaran orang-orang Eropa ke banyak penjuru dunia semakin intens untuk mencari bahan baku industri. Sejak itu pula muncul permasalahan lain seperti pencemaran udara dan air. Seiring dengan menyebarnya industrialisasi di berbagai belahan dunia permasalahan-permasalahan lingkungan sebagai residu proses industrialisasi semakin mencapai titik kritis. Pada tahun 1952 terjadi tragedi The Great Londong Smog dimana  4000 jiwa tewas dan sejumlah besar penduduk menderita bronchitis, jantung dan berbagai penyakit pernapasan akibat polusi udara akut oleh asap dan gas mobil.

Menurut Institut Nasional Penelitian Ruang Angkasa dan Yayasan SOS Hutan Atlantik, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini Brasil telah kehilangan 793 hektar hutan Atlantiknya, daerah ini setara dengan 990 lapangan sepakbola. Data terakhir ini menunjukkan bahwa Hutan Amazon dekat Atlantik yang biasanya menyelimuti pesisir Pantai Brasil telah kehilangan 93 persen hutannya karena pembabatan hutan.[3] Sedangkan di Indonesia, menurut catatan Walhi, setiap tahun Indonesia kehilangan 1,6 s.d 3,5 juta ha hutan. Degradasi luas hutan yang tajam ini berdampak pada  menurunnya kapasitas ketersediaan air tanah sehingga menyebabkan kekeringan di musim kemarau. Pembabatan hutan juga dapat menyebabkan banjir karena air hujan tidak terserap ke dalam tanah secara maksimal. Gundulnya hutan juga dapat menyebaban tanah longsor, karena tidak ada yang menjaga kerekatan tanah saat turun hujan secara terus-menerus.

Gundulnya hutan juga menyebabkan naiknya permukaan air laut. Bahkan dengan fakta kerusakan seperti di atas, naiknya permukaan air laut berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan oleh para ahli. Berdasarkan analisa terbaru yang dilakukan oleh tim gabungan Inggris dan Finlandia, ketinggian permukaan air laut selama 2.000 tahun terakhir stabil. Pengukuran menunjukkan kenaikan yang terjadi hanya sebesar 2 cm pada abad ke-18 dan 6 cm pada abad ke-19. Tetapi tiba-tiba kenaikan menjadi sangat mencemaskan, yaitu sebesar 19 cm, atau lebih dari separuh kaki selama abad lalu ini. Ini sebagian besar disebabkan oleh mencairnya lapisan gletser es.[4] Kenaikan air laut ini dapat menjadi ancaman bagi wilayah-wilayah pesisir pantai dan negara-negara kepulauan seperti di Melanesia.

Semua fakta kerusakan alam di atas merupakan gambaran tentang sifat manusia yang agresif dan haus akan kekuasaan, seperti yang dikatakan oleh Waltz di atas. Dari sudut yang agak berbeda Alferd North Whitehead melihatnya sebagai manifestasi sikap manusia yang merasa sebagai supremasi di jagad raya. Segala yang tersedia di alam dianggapnya sebagai peruntukan bagi dirinya semata. Walaupun hal ini tidak disadari oleh kebanyakan manusia namun pada hakekatnya inhern dalam dirinya.

B. Ayat-Ayat Ekologis

Islam adalah agama yang sangat memperdulikan kelestarian lingkungan. Di dalam Al  Quran banyak ditemukan ayat-ayat yang berkaitan dengan deskripsi penciptaan alam, aktivitas alamiah alam dan perintah untuk mengambil pelajaran darinya serta untuk menjaga keberlangsungannya.

ãNà6Ï9ºsŒ ª!$# öNä3š/u‘ ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ß,Î=»yz Èe@à2 &äó_x« çnr߉ç6ôã$$sù 4 uqèdur 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« ×@‹Å2ur ÇÊÉËÈ

Dia yang memiliki sifat-sifat yag demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu. (al An’am:102).

uÚö‘F{$#ur $yg»tR÷Šy‰tB $uZøŠs)ø9r&ur $ygŠÏù zÓśºuru‘ $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. &äóÓx« 5brã—öq¨B ÇÊÒÈ

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (al Hijr:19)

  1. óOs9r& ts? ¨br& ©!$# ÓÅe÷“ム$/$ptxž §NèO ß#Ïj9xsム¼çmuZ÷t/ §NèO ¼ã&é#yèøgs† $YB%x.①“uŽtIsù šXôŠtqø9$# ßlãøƒs† ô`ÏB ¾Ï&Î#»n=Åz ãAÍi”tãƒur z`ÏB Ïä!$uK¡¡9$# `ÏB 5A$t7Å_ $pkŽÏù .`ÏB 7Štt/ Ü=ŠÅÁãŠsù ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±o„ ¼çmèùΎóÇtƒur `tã `¨B âä!$t±o„ ( ߊ%s3tƒ $uZy™ ¾ÏmÏ%öt/ Ü=ydõ‹tƒ ̍»|Áö/F{$$Î/ ÇÍÌÈ

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (an Nur:43).

ö@yd tbrãÝàZtƒ žwÎ) ¼ã&s#ƒÍrù’s? 4 tPöqtƒ ’ÎAù’tƒ ¼ã&é#ƒÍrù’s? ãAqà)tƒ šúïÏ%©!$# çnqÝ¡nS `ÏB ã@ö7s% ô‰s% ôNuä!%y` ã@ߙ①$uZÎn/u‘ Èd,ysø9$$Î/ @ygsù $uZ©9 `ÏB uä!$yèxÿä© (#qãèxÿô±uŠsù !$uZs9 ÷rr& –ŠtçR Ÿ@yJ÷èuZsù uŽöxî “Ï%©!$# $¨Zä. ã@yJ÷ètR 4 ô‰s% (#ÿrçŽÅ£yz öNåk|¦àÿRr& ¨@|Êur Nåk÷]tã $¨B (#qçR$Ÿ2 šcrçŽtIøÿtƒ ÇÎÌÈ

Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya[547] sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami membawa yang hak, Maka Adakah bagi Kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi Kami, atau dapatkah Kami dikembalikan (ke dunia) sehingga Kami dapat beramal yang lain dari yang pernah Kami amalkan?”. sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan. (al A’raf:53).

ÞOçF÷ƒuätsùr& uä!$yJø9$# “Ï%©!$# tbqç/uŽô³n@ ÇÏÑÈ   öNçFRr&uä çnqßJçFø9t“Rr& z`ÏB Èb÷“ßJø9$# ÷Pr& ß`øtwU tbqä9͔ßJø9$# ÇÏÒÈ   öqs9 âä!$t±nS çm»uZù=yèy_ %[`%y`é& Ÿwöqn=sù šcrãä3ô±n@ ÇÐÉÈ

Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan Dia asin, Maka Mengapakah kamu tidak bersyukur? (al Waqiah:68-70).

Ayat-ayat di atas menantang manusia untuk memahami proses-proses alam. Ayat-ayat tersebut merupakan sumber ilmu pengetahuan yang seharusnya diperdalam oleh setiap manusia untuk kemudian dijadikan pemantik keimanan. Ayat-ayat di atas juga  merupakan bukti akan kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah SWT.

Pendidikan lingkungan juga telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Abu Darda’ ra. pernah menjelaskan bahwa di tempat belajar yang diasuh oleh Rasulullah SAW telah diajarkan tentang pentingnya bercocok tanam dan menanam pepohonan serta pentingnya usaha mengubah tanah yang tandus menjadi kebun yang subur. Perbuatan tersebut akan mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah SWT dan bekerja untuk memakmurkan bumi adalah termasuk ibadah kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang memotong pohon Sidrah maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka.” (HR. Abu Daud dalam Sunannya)

Pada kesempatan lain Rasulullah SAW juga bersabda, “Barangsiapa di antara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari Kiamat.” (HR. Muslim)

Allah memberikan keleluasaan kepada manusia untuk menentukan cara memanfaatkan alam.  Kebebasan ini namun demikian bukan berarti Allah melalaikan pengawasan terhadap segala aktivitas ekologis manusia. Allah bermaksud untuk memberikan kesempatan manusia untuk menjadi yang terpilih menjadi ahli kebahagiaan di dunia dan di akherat. Posisi manusia sebagai pemimpin di muka bumi merupakan ujian untuk menentukan posisisnya kelak di hadapan Allah SWT.

uqèdur “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ’Îû Ïp­Gř 5Q$­ƒr& šc%Ÿ2ur ¼çmä©öt㠒n?tã Ïä!$yJø9$# öNà2uqè=ö7uŠÏ9 öNä3•ƒr& ß`|¡ômr& WxyJtã 3 úÈõs9ur |Mù=è% Nä3¯RÎ) šcqèOqãèö6¨B .`ÏB ω÷èt/ ÏNöqyJø9$# £`s9qà)u‹s9 tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿŸ2 ÷bÎ) !#x‹»yd žwÎ) ֍ósř ×ûüÎ7•B ÇÐÈ

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". (Huud:7).

Ÿt¤‚y™ur /ä3s9 $¨B ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur ’Îû ÇÚö‘F{$# $Yè‹ÏHsd çm÷ZÏiB 4 ¨bÎ) ’Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcr㍩3xÿtGtƒ ÇÊÌÈ

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (al Jatsiyah: 30).

  1. öNs9urr& (#÷rttƒ ’n<Î) ÇÚö‘F{$# ö/x. $oY÷Gu;/Rr& $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. 8l÷ry— AOƒÍx. ÇÐÈ   ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ZptƒUy ( $tBur tb%x. NèdçŽsYø.r& tûüÏZÏB÷s•B ÇÑÈ

Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. dan kebanyakan mereka tidak beriman. (as Syu’ara:7-8).

Data kerusakan alam di atas menjadi bukti bahwa manusia cenderung untuk serakah. Dengan semua kerusakan itu berarti manusia telah gagal menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dunia. Kerusakan yang disebabkan oleh ulah manusia itu akan berdampak negatif pada manusia itu sendiri. Pemanasan global yang melahirkan banyak bencana seperti iklim tidak menentu, gagal panen, kekeringan, banjir, longsor dan kebakaran hutan adalah konsekuensi yang harus ditanggung oleh manusia sendiri.

  1. tygsß ßŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. “ω÷ƒr& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ƒÉ‹ã‹Ï9 uÙ÷èt/ “Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_ötƒ ÇÍÊÈ   ö@è% (#r玍ř ’Îû ÇÚö‘F{$# (#rãÝàR$$sù y#ø‹x. tb%x. èpt7É)»tã tûïÏ%©!$# `ÏB ã@ö6s% 4 tb%x. OèdçŽsYò2r& tûüÏ.Ύô³•B ÇÍËÈ    “Telah

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (ar Rum:41-42).

!wur (#r߉šøÿè? †Îû ÇÚö‘F{$# y‰÷èt/ $ygÅs»n=ô¹Î) çnqãã÷Š$#ur $]ùöqyz $·èyJsÛur 4 ¨bÎ) |MuH÷qu‘ «!$# Ò=ƒÌs% šÆÏiB tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÎÏÈ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al A’raf:56).

Sebagai teladan umat, Rasulullah SAW pun melarang dengan tegas umatnya melakukan aktivitas-aktivitas yang merusak lingkungan. Rasulullah SAW bersabda, ”Setiap orang yang membunuh burung pipit atau binatang yang lebih besar dari burung pipit tanpa ada kepentingan yang jelas, dia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.” Ditanyakan kepada Nabi :  “Wahai Rasulullah, apa kepentingan itu ?” Rasulullah menjawab : “Apabila burung itu disembelih untuk dimakan, dan tidak memotong kepalanya kemudian dilempar begitu saja.”

Islam adalah agama yang sempurna. Ia mengatur segala aktivitas manusia dalam hubungannya dengan sesama, dengan Tuhan dan dengan alam. Dengan segala kelebihan yang dimiliki dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain, manusia layak memimpin dunia. Dunia membutuhkan pemimpin yang egaliter dengan yang dipimpinnya. Manusia adalah alam, dan alam adalah manusia itu sendiri. Alam adalah bukan objek pelampiasan nafsu materialistis manusia, namun dia adalah partner. Allah berfirman:

!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ) ZptHôqy‘ šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al Anbiya:107).

Penutup

Alam semesta adalah sistem yang di dalamnya terdiri dari komponen-komponen yang saling berkaitan satu sama lain, memiliki posisi dan fungsinya masing-masing. Manusia adalah salah satu dari komponen-komponen itu. Antara manusia dengan komponen-komponen alam lainnya adalah sejajar.

Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah yang bertugas memimpin bumi. Namun demikian, pada pelaksanaannya manusia sering kali menyalahgunakan kepercayaan Allah dengan melakukan aktivitas-aktivitas dan atau menghasilkan sesuatu yang berdampak negatif terhadap alam. Manusia seharusnya menjadi pemimpin yang egaliter. Cara pandang yang harus dikonstruksi adalah bahwa manusia adalah bagian dari sistem alam yang menempati posisinya sebagai pemimpin dalam sistem alam tersebut. Apabila salah satu komponen alam tersebut berjalan tidak semestinya, maka akan terjadi kerusakan pada sistem secara keseluruhan. Maka dari itu, padangan egaliter tentang hidup dan alam harus dibangun dalam diri setiap pribadi manusia.

Islam adalah agama yang sejak awal menaruh perhatian besar terhadap lingkungan. Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memanfaatkan alam dengan caranya masing-masing. Islam juga memberikan penjelasan mengenai hal-hal apa saja yang tidak patut dilakukan karena dapat mengurangi kualitas lingkungan. Kini tergantung kepada umat dan kita untuk bagaimana mengamalkannya dengan baik.

Daftar Pustaka

Al Maududi, Abul A’la (1996), Khalifah dan Kerajaan: Evaluasi Kritis atas Sejarah Pemerintahan Islam Bandung: Penerbit Mizan Anggota IKAPI.

Baylis John & Smith, Steve, the Globalization of world politics.

Waltz, Kenneth (1954), Man, the State and War. New York: Columbia University Press.

Al Alabani, M. Nashiruddin (2002),Ringkasan Shahih Bukhari Jakarta: Gema Insani Press.

http://suprememastertv.com/ina/bbs/board.php?bo_table=sos_ina&wr_id=624&goto_url=&sca=sos_6&url &. Diakses pada 28 April 2009.

http://suprememastertv.com/ina/bbs/board.php?bo_table=sos_ina&sca=sos_9. 28 April 2009.


[1] Abul A’la Al Maududi, Khalifah dan Kerajaan: Evaluasi Kritis atas Sejarah Pemerintahan Islam, hlm.65

[2] Lihat Kennet Waltz (1959), Man, the State and War.

[3]http://suprememastertv.com/ina/bbs/board.php?bo_table=sos_ina&wr_id=624&goto_url=&sca=sos_6&url &

[4] http://suprememastertv.com/ina/bbs/board.php?bo_table=sos_ina&sca=sos_9


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: